18 December 2017

Kabar Aceh Untuk Dunia


Prosesi dan Upacara

...

  • SAFRIANDI A. ROSMANUDDIN
  • 02 January 2017 11:45 WIB

Dalam praktiknya, prosesi sering disamakan maknanya dengan upacara. Tak hanya itu, kata ini juga sering disamakan artinya dengan kata proses. Lantas, benarkah kata itu memiliki makna yang sama dengan kata upacara dan proses? Ulasan Jajang C. Noer dalam tentang “Prosesi dan Upacara” yang dikutip melalui majalah Tempo, 21 Desember 2009 menarik untuk disimak.

Kata prosesi diambil dari bahasa Inggris, procession, yang berarti deretan, barisan, iring-iringan. Menurut Webster Handy College  Dictionary (1990), a procession is an array, formal march, or orderly  series; those constituting to it.

Dari definisi tersebut, jelas prosesi bukanlah sebuah upacara. Mungkin juga mereka yang menggunakan kata prosesi untuk menggantikan kata upacara mengira bahwa procession adalah bagian dari proses. Padahal proses adalah langkah-langkah yang bersinambungan sehingga tercapai suatu hasil.

Tentu saja sebuah upacara pernikahan sebagai suatu proses, tetapi proses menunjukkan sebagai bagian dari kegiatan panjang. Bukan sebagai pengganti sebuah peristiwa spiritual, khusyuk, dan berwibawa. Tetapi kata procession bukan sebuah kata yang tepat untuk menggantikan kata upacara.

Keinginan untuk menggantikan sebuah kata Indonesia dengan bahasa Inggris (dengan menggunakan kata yang salah) merupakan gejala snobisme sekaligus rendah diri. Snobisme karena merasa kata Inggris itu terdengar lebih ”tinggi”, sedangkan rendah diri karena kata upacara terdengar seperti kosakata masa lalu yang ingin ditinggalkan (”upacara 17 Agustus”, ”upacara sekolah”), atau memang karena pengguna kata prosesi (sebagai kata yang menggantikan kata upacara) itu sekadar tak paham saja.

Resapan kata bahasa Inggris yang digunakan pada kalimat yang salah terjadi pada kata konsepsi. Seorang kawan berkisah bahwa sebagai seorang dosen, dia acapkali disodori sebuah tulisan oleh mahasiswa atau seorang anggota panitia sebuah seminar yang berkata, ”Ini, Bu, konsepsinya.” Kawan saya tentu saja terkejut dan geli. Kata konsepsi berasal dari bahasa Inggris conception yang, menurut Encarta Dictionary, berarti “the fertilization of an egg by a sperm at the beginning of pregnancy”.

Konsepsi adalah peristiwa fertilisasi atau pertemuan antara sel telur dan sperma atau pembuahan. Sedangkan sang mahasiswa, atau panitia seminar—melihat konteks pembicaraan—pasti bermaksud mengajukan kata konsep.

Lagi-lagi yang terjadi di sini adalah sebuah kecenderungan untuk memakai istilah asing agar terdengar gagah meski ternyata salah  kaprah. Sebetulnya kata konsep juga merupakan sebuah serapan dari kata concept, tetapi kecenderungan orang-orang yang menggunakan kata konsepsi tampaknya mengira kata konsepsi dan konsep masuk dalam satu kategori.

Salah kaprah dalam menggunakan kata serapan yang paling kronis, dan belum juga sembuh, adalah penggunaan kata nominator. Kesalahan penggunaan kata nominator sudah terjadi sejak 15 tahun yang lalu ketika Festival Film Indonesia yang lazimnya menggunakan kata unggulan untuk calon pemenang tiba-tiba saja menggantikannya dengan kata nominator.

Kata nominasi itu diambil dari bahasa Prancis. Orang yang dinominasikan disebut nominee, artinya  ia adalah orang yang dicalonkan  menerima penghargaan. Dalam acara The Academy Awards, piala bergengsi untuk dunia film di Amerika, mereka memang lazim menggunakan kata nominee.

Festival film di Indonesia sering salah kaprah dengan menggunakan kata nominator untuk orang yang dicalonkan menerima penghargaan. Ada juga yang menggunakan kata nominasi untuk para calon pemenang, padahal nominasi—yang berarti pencalonan—adalah sebuah keadaan. Nominasi yang diserap dari kata nomination menjelaskan sebuah situasi, bukan orang.

Ini sebuah keadaan, bukan orang. Untung saja, sekarang, Festival Film Indonesia sudah mengubah kata nominasi menjadi nominee meski pada berbagai acara penghargaan lain masih saja bertaburan kata nominator.[]

Editor: SAFRIANDI A. ROSMANUDDIN


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.