20 October 2018

Kabar Aceh Untuk Dunia


[Review Film]: Ujian Negara

...

  • PORTALSATU
  • 17 November 2017 12:40 WIB

Adegan bakar kertas dalam film Ujian Negara
Adegan bakar kertas dalam film Ujian Negara

Oleh: Akbar Rafsanjani*

 

Judul Film : Ujian Negara

Produksi : Aceh Documentary

Tahun Produksi : 2017

Sutradara : Putra Andiswaan dan Galang Rambu Anarchi

 

"Ada yang tahu tanggal 2 Mei itu hari apa?" Tanya Bu Fitri kepada muridnya di dalam kelas yang terdiri dari kelas satu, dua, dan tiga SMP sekaligus. "Tahu Bu, hari Selasa." Jawab salah satu murid kemudian diikuti oleh gelak tawa yang memecah kesunyian SMP 2 Trumon yang terletak di pedalaman Buloh Seuma, Kecamatan Trumon, Aceh Selatan.

Pendidikan di daerah terpencil di seluruh Indonesia hampir selalu menjadi ide yang menarik untuk difilmkan. Apalagi dengan alasan pemerataan pendidikan untuk seluruh warga yang diusung langsung oleh pemerintah. Kali ini, sebuah film dokumenter yang disutradarai Putra Andiswaan dan Galang Rambu Anarchi menyorot keadaan siswa SMP 2 Trumon menjelang Ujian Nasional.

Film yang diberi judul "Ujian Negara" ini bermaksud baik menampilkan kesenjangan pendidikan di Aceh dengan menempatkan guru dan komite sekolah sebagai target kesalahan. Memang apa yang tersampaikan dalam film tersebut tidak sepenuhnya salah, tetapi ada beberapa hal yang mungkin perlu kita tinjau dan melihat kembali apa maksud dari pendidikan itu sendiri.

Siapa yang bertanggung jawab terhadap pendidikan?

Kejelasan konsep atau pandangan tentang manusia, memberi arah yang solid dan valid dalam meraih tujuan-tujuan pendidikan. UUSPN (Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional, Bab II, Pasal 4) , menegaskan "Pendidikan nasional bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan ketrampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan. (Kontelasi Pemikiran Pedagogik Ibnu Khaldun, Prof.Dr.H. warul Walidin AK, M.A. :2003).

Tujuan di atas tidak sepenuhnya dipangku oleh guru. Setidaknya ada empat kelompok yang bertanggung jawab pada pendidikan. Mereka adalah guru, orang tua, komite pendidikan, dan lingkungan sosial. Di film tersebut, guru menjadi objek utama yang bertanggung jawab atas pendidikan. Namun sutradara justru menampilkan hal yang kontradiksi dengan premis mayor yang coba mereka bawa.

Adegan siswa yang mengharap pendidikan yang baik di sekolahnya dengan meminta agar guru berkontribusi penuh pada kegiatan belajar mengajar, juga cita-cita mereka yang membuat penonton berbelas kasihan atas keadaan yang dihadapi para siswa, justru dibuat melawan dengan adegan mereka membakar kertas hasil ujian dan merokok. Apakah ini sepenuhnya jadi tanggung jawab guru? pendidikan bagaimana yang ingin disampaikan oleh sutradara?

Secara historis, pada masa sebelum kemerdekaan, sistem pendidikan  Indonesia cenderung berkiblat ke barat, khususnya Belanda. Sejak merdeka, Indonesia terus bertekad untuk menciptakan sistem pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan dan aspirasinya. Dalam era modern ini, Indonesia cenderung berorientasi ke Barat Amerika. Sudah beberapa tahun sistem pendidikan Indonesia mencoba menerapkan "Pendidikan Berdasarkan Kompetensi" yang berorientasi pada " Competency Based Education (CBE) Amerika Serikat".

Pandangan yang intelektualistik-materialistik duniawi yang diusung barat itu sejalan dengan konsep manusia dalam filsafat Barat. Filsafat barat memberi citra bahwa manusia itu hanya terdiri dari unsur-unsur jasmani dan rohani, dengan daya akal atau rasio semata. Kecenderungan berpikir materialistik dan intelektualistik ini merupakan produk dari konsep manusia falsafat barat. Jika meminjam istilah populer, kemampuan seseorang itu terdiri atas Emotional Quotient (EQ), Spiritual Quotient (SQ), dan Inteligence Quotient (IQ).

Di sini film sepertinya hanya menyorot Inteligence Quotient (IQ) yang rendah akibat jatah belajar mereka yang kurang disebabkan oleh guru yang jarang masuk kelas. Film tersebut seakan abai terhadap dua hal yang pertama yang menjadi tanggung jawab besar orang tua. Dengan durasi pertemuan antara guru dan siswa yang cukup pun tidak akan bisa memberi pengaruh yang signifikan pada peningkatan EQ dan SQ, tanpa turut serta perhatian dari orang tua dan lingkungan sosial.

Dari penjabaran pertama saya terhadap siapa saja yang bertanggung jawab atas pendidikan, dapat dilihat keadaan saling menyalahkan antara kelompok sosial (masyarakat) dengan guru dan komite (penyelenggara) pendidikan yang turut masuk di dalamnya dinas terkait sebagai perwakilan dari pemerintah. Idealnya, kerjasama keempat kelompok ini akan menghadirkan solusi yang tepat bagi pendidikan di SMP 2 Trumon khususnya dan Indonesia umumnya. Di sinilah akan tampak bagaimana fungsi film dokumenter yang menjadi alat untuk menyadarkan kembali miskomunikasi antar kelompok tersebut.

Apa Perlu Ujian Nasional Dihapus?

Berbagai pendapat muncul menganggapi hal tersebut. Dengan pertimbangan yang beragam, Ujian Nasional tetap berlaku hingga film tersebut berlaku. Fakta yang dihadirkan film "Ujian Negara", sangat mungkin dijadikan bahan pertimbangan terhadap keputusan penyelenggara pendidikan di Indonesia. Ketimpangan demi ketimpangan selalu terjadi dalam pendidikan di Indonesia.

Contohnya saja, pergantian kurikulum hampir setiap tahun membuat guru-guru bingung dan teler. Belum selesai sosialisasi dan penerapan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) secara sempurna, sudah direvisi menjadi Kurikulum 2013. Belum lagi penyelewengan terhadap dana penyelenggaraan Ujian Nasional. Masalah yang komplit ini menjadikan siswa sebagai korban.

Program Aceh Caroeng yang diusung gubernur Irwandi Yusuf sepatutnya harus memperhatikan apakah ingin memajukan pendidikan secara vertikal atau horizontal. Vertikal dengan meningkatkan mutu pendidikan agar setara dengan negeri tetangga atau horizontal dengan mengutamakan kemerataan pendidikan ke seluruh daerah, atau dua-duanya sekaligus.

Semoga film ini menjadi cermin yang merefleksikan semua yang telah kita perbuat untuk Aceh tercinta setelah melewati berbagai macam dekade. Keberhasilan sutradara muda ini juga bagian dari perkembangan pendidikan di Aceh yang harus diperhitungkan. Jangan selalu fokus pada proses memajukan tanpa memberikan apresiasi pada yang telah berhasil. Selamat menonton "Ujian Negara" yang akan diputar di program Gampong Film Aceh Film Festival 2017, tanggal 18 November 2017 (Malam Minggu) di Taman Krueng Neng, Gampong Lamjamee, Jaya Baru, Kota Banda Aceh.[]

*Film maker, berdomisili di Sigli.

Editor: IHAN NURDIN


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.