17 December 2018

Kabar Aceh Untuk Dunia

Yang Tampil di Teater Hikayat Prang Sabi
Sanggar Rapai Tuha Warisan Teuku Nyak Arief

...

  • Jamaluddin
  • 30 November 2018 23:30 WIB

Anggota Sanggar Rapai Tuha di acara Tadarus Hikayat. @Istimewa
Anggota Sanggar Rapai Tuha di acara Tadarus Hikayat. @Istimewa

GRUP Rapai Tuha  yang dilibatkan ke dalam tim teater oleh sutradara Teater The Spirit of Aceh Adapted from Hikayat Prang Sabi, Muhammad Yusuf atau sering dikenal dengan nama Yusuf Bombang atau Apa Kaoy itu adalah grup rapai warisan dari Teuku Nyak Arief. Grup ini berpusat di Lamreung, Aceh Besar. Rapai peninggalan Teuku Nyak Arief sampai sekarang masih dipakai di sana.

Namun pada tahun 2009 Yusuf selaku pembina menyarankan pada Ketua Grup Rapai Tuha, Tgk. Ilyas, untuk menjadikan grup itu menjadi sanggar yang ber-akta notaris. Dan pada tahun itulah sanggar itu mulai dibina dan bergabung dengan Pentasagoe, sebuah komunitas yang diketuai oleh Yusuf.

Yusuf mengakui bahwa grup Rapai Tuha itu adalah yang pertama sekali diorbit oleh lembaga Pentasagoe dengan tujuan supaya Grup Rapai Tuha bisa bekerjasama dengan pemerintah dalam melestarikan budaya Aceh.

Kemudian setelah pembentukan sanggar, Sanggar Rapai Tuha pun mulai tampil pada acara-acara di berbagai daerah seperti di Sabang dan bahkan pernah juga tampil di Jakarta.

"Di Sabang, Sanggar Rapai Tuha diundang disbudpar untuk menyambut tamu Arab dari timur tengah yang datang dengan kapal pesiar," kata Ilyas.

Terkait dengan pelatihan yang diadakan Sanggar Rapai Tuha, Ilyas mengatakan sanggar Rapai Tuha juga memberikan kesempatan kepada siapa saja ingin berlatih menabuh rapai dengan syarat harus mengikuti aturan-aturan yang berlaku. Latihan rutinnya dilaksanakan pada tiap malam Kamis dan malam Minggu.

"Malam Kamis untuk melatih orang tua dan malam Minggu untuk anak-anak, untuk regenerasi. Dan  penabuh rapai yang dipakai ketika tampil di pertunjukan adalah yang disiplin, juga yang sering mengikuti latihan," katanya pada portalsatu.com, Kamis malam, 29 November 2018.

Grup rapai tuha hingga saat ini masih terus menjalin kerjasama dengan seluruh grup rapai-rapai di Aceh yang sesekali ikut tampil bersama di acara-acara pertunjukan di daerah mereka masing-masing.

Soal kendala, Ilyas mengatakan tidak ada masaalah atau hambatan dalam mengelola sanggar itu, terkait dengan soal kerusakan baloh Rapai, perbaikannya dipercayakan kepada tukang perabot yang ada di Aceh Besar di seputaran Lambaro.

Tgk. Ilyas mengatakan bahwa jenis kayu yang digunakan untuk baloh Rapai tidak bisa diambil secara sembarangan begitu saja karena itu akan mempengaruhi kualitas gaung suaranya. 

"Long le lon mita rapai-rapai jameun, kadang rapai na yang ka meuikat-ikat," katanya, menerangkan lebih mengutamakan mencari rapai-rapai bekas klasik yang berkualitas daripada memesan yang baru.

Rapai tuha (tua) umumnya harus diperlakukan dengan adab dan sopan santun, dan karena sewaktu pembuatan rapai itu umumnya dibuat dengan ritual-ritual khusus.

"Jadi, pantang sekali bila rapai-rapai itu dilangkahi (lingkeu), Karena dahulu rapai itu dipakai oleh para ulama sufi untuk mengiringi zikir-zikir tarikat yang dibacanya. Tarikat Rapai Sufi itu dahulu pernah menjadi tradisi di Lambadeuk, namun sekarang apakah masih ada tidak saya tidak mengetahuinya," kata Ilyas.

Berdasarkan penjelasan Ilyas Jenis rapai yang ditampilkan Sanggar Rapai Tuha ini ada dua. Yang pertama jenis hiburan dan satu lagi jenis rapai hajat. Bila rapai hajat sewaktu tampil harus menjalani beberapa ritual atau ditepung tawari (peusijuk) karena itu adalah warisan dari para ulama Aceh terdahulu.

Tim Rapai Tuha setiap ikuti pergelaran pertunjukan  akan mengikut sertakan anggotanya sekitar 12 penabuh rapai dari keseluruhannya yang beranggotakan 30 anggota dengan 30 unit rapai.

Terkait dilibatkannya ke grup teater garapan Yusuf itu Ilyas menyatakan sangat mendukung serta dengan tegas mengatakan akan turut mensukseskan Teater hikayat prang sabi karena ia juga sebenarnya adalah seorang pecinta berat hikayat juga.

Tgk. Ilyas memberitahukan bahwa irama tabuhan rapai yang akan di tampilkan di Teater Hikayat Prang Sabi, irama tabuhannya akan disesuaikan sebagaimana arahan dari sutradara teater karena sudah digabung dengan musik.

"Karena hikayat nyoe memang ata jameun. Memang harus ta kembangkan, tapertahankan. Le that ka gadoh budaya tanyoe jinoe," katanya dengan antusias.[]

Editor: THAYEB LOH ANGEN

Berita Terkait


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.