21 August 2017

Kabar Aceh Untuk Dunia

Resensi
Sebuah Kesaksian Tentang Tragedi Kemanusiaan

...

  • PORTALSATU
  • 19 June 2017 11:00 WIB

Oleh: M. Agus Muhtadi Bilhaq*

Judul Buku: Saksi Mata
Pengarang: Seno Gumira Ajidarma
Penerbit: Bentang, Yogyakarta
Cetakan: I, April 2016
Tebal: 158 Halaman
ISBN: 978-602-291-190-6

Sudah setahun lamanya Maria membiarkan pintu dan jendela rumahnya terbuka lebih lama setiap senja, menunggu kepulangan seseorang yang entah di mana berada. Sudah setahun lamanya, setiap hari Maria menanti dengan keyakinan dan harapan yang tiada berkurang sedikitpun, sama penuhnya seperti sesaat setelah peristiwa yang telah mengacaukan kerja otaknya itu. Sudah setahun lamanya Maria memelihara keyakinannya bahwa suatu saat, di suatu senja, Antonio akan pulang, berlari dan memeluknya, sambil berseru “Mama.”

Kilasan cerita di atas diambil dari “Maria”, salah satu cerpen Seno Gumira Ajidarma yang  terkumpul dalam buku Saksi Mata, sebagai bentuk sikapnya yang menolak bungkam melihat kesewenang-wenangan rezim otoriter. Saga tentang penindasan oleh pemerintah yang berkolaborasi dengan militer, tertuang dalam buku yang berisikan 16 kompilasi cerpen tersebut. Dalam hal ini, sikap Seno tersebut dapat pembaca temukan dalam catatan pengantarnya yang menyinggung Insiden Dili, yang secara tidak langsung menjadi background atas cerpen-cerpennya.

Sejarah mencatat, peristiwa yang juga dikenal sebagai The Dili Massacre oleh media luar negeri itu, merupakan salah satu tragedi kemanusiaan yang memilukan bagi dunia internasional. Bukan tanpa alasan kenapa disebut massacre (pembantaian).  Ratusan jiwa manusia terenggut dalam insiden yang terjadi pada 12 November 1991, di ibu kota Dili, Timor Timur itu. Belum lagi, tidak sedikit pula dari mereka para korban yang dinyatakan hilang tak tentu rimbanya.

Peristiwa berdarah itu telah mengharuskan sebuah keluarga kehilangan sebagian anggotanya, seorang istri kehilangan suaminya, dan seorang ibu harus rela kehilangan anaknya, akibat superioritas dan arogansi sebuah rezim. Sungguh merupakan perjuangan yang terlampau berat, terlebih bagi mereka yang berada di tengah pusaran konflik itu sendiri. Betapa mahalnya harga yang harus dibayar supaya bisa berjalan dengan kepala tegak itu (hlm. 33). Meski demikian, tidak ada harga yang terlalu mahal jika untuk “menebus” kemerdekaan.

Seperti tertuang dalam cerpen pembuka yang juga berjudul Saksi Mata misalnya, Seno secara apik menghadirkan kisah heroik seorang “saksi mata” dalam rangka memperjuangkan kebenaran. Meski harus membayar mahal dengan kehilangan matanya, yang dicongkel oleh sekelompok orang berseragam seperti ninja, sang “saksi mata” tetap datang ke pengadilan untuk memberikan kesaksian. Darah yang masih menetes dari lubang bekas kedua matanya, sama sekali tak menyurutkan niatnya untuk bersaksi, demi keadilan dan kebenaran (hlm. 8).

Ironisnya, di akhir cerita sang “saksi mata” pun harus kehilangan lidahnya sebelum sempat mengungkap kebenaran. Sekelompok orang berseragam seperti ninja kembali datang ke dalam “mimpi”-nya, mencabut lidahnya menggunakan catut (hlm. 10). Seno secara tersirat mengilustrasikan ketertindasan dan ketidakberdayaan menghadapi kesewenang-wenangan rezim pemerintah. Ia seakan-akan menyuguhkan sebuah ironi –jika tidak bisa dikatakan sebagai kenyataan– bahwa satu-satunya yang berhak untuk benar adalah yang berkuasa.

Rezim penguasa berhak untuk mencurigai, menangkap, bahkan menghabisi siapa saja yang dianggap sebagai “pemberontak”, seperti dikisahkan dalam cerpen Telinga. Seno menyuguhkan sebuah paradoks dimana militer telah beralih fungsi menjadi senjata pemusnah masal milik rezim otoriter. Setiap orang menjadi musuh dan setiap orang pantas untuk dicurigai. Mereka harus dipotong telinga atau bahkan kepalanya, agar tak lagi dapat membisikkan semangat perjuangan (hlm. 18).

Lebih lanjut, cerpen-cerpen yang tersebar dalam buku ini telah menjadi memoar, sebuah kesaksian tentang tragedi kemanusiaan. Melalui “dokumen sastra” yang ditulisnya, Seno telah memilih untuk bersaksi dalam pengadilan manusia. Sekali lagi, tidak ada harga yang terlalu mahal jika untuk “menebus” kemerdekaan. Mereka yang memegang teguh nilai kebenaran akan terus meneriakkan dengan lantang arti sebuah kemanusiaan. Mereka yang berjuang tidak akan pernah berhenti, seperti halnya ketabahan Maria yang tetap menanti kepulangan Antonio, “kemerdekaannya.”[]

*Mahasiswa SQH, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Editor: IHAN NURDIN


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.