21 June 2018

Kabar Aceh Untuk Dunia


Serunya Tradisi Lebaran, dari Aceh hingga Papua

...

  • KOMPAS
  • 13 June 2018 11:00 WIB

Tradisi Malaman di malam takbir di Liwa, Lampung Barat, Kamis (16/7/2015) malam. Tradisi Malaman biasa dilakukan pada malam takbir. @KOMPAS/ANGGER PUTRANTO)
Tradisi Malaman di malam takbir di Liwa, Lampung Barat, Kamis (16/7/2015) malam. Tradisi Malaman biasa dilakukan pada malam takbir. @KOMPAS/ANGGER PUTRANTO)

HARI Raya Idul Fitri atau Lebaran 1438 H tinggal menghitung hari. Seluruh umat Muslim di seluruh dunia, terutama di Indonesia, terus bersiap diri menyambut hari nan fitri. Keragaman budaya di Nusantara turut memberikan warna berbeda hingga memunculkan tradisi yang tak boleh dilewati tiap Hari Raya tiba.

Berikut sejumlah tradisi-tradisi unik di penjuru Nusantara, dari Aceh hingga Papua, yang dirangkum Kompas.com

1. Kenduri Makam di Aceh

Tradisi yang turun-temurun dilakukan oleh warga Desa Pasi di Kabupaten Aceh Barat ini diperingati di hari ke 12 setelah perayaan Hari Raya Idul Fitri. Warga desa akan melakukan ziarah dan makan kenduri bersama di lokasi pemakaman tempat di mana keluarga mereka dikebumikan. Orang yang menghadiri ritual kenduri, masing-masing membawa bermacam masakan nasi dan aneka kue khas Aceh untuk dimakan bersama usai rangkaian acara ritual dilakukan.

2. Malaman di Lampung

Tradisi ini dilakukan pada malam takbir, sehari menjelang Idul Fitri. Anak-anak dan remaja laki-laki akan menyusun batok-batok kelapa di halaman rumah mereka hingga menjulang setinggi 1 meter bahkan lebih. Memang, menjelang Lebaran, akan ada banyak batok kelapa yang tidak terpakai sisa memasak rendang.

“Menara sabut kelapa” itu kemudian dibakar hingga api tampak menjulang dan anak-anak pun bersorak kegirangan. Butuh waktu sekitar 60 menit hingga semua sabut kelapa terbakar dan menyisakan bara yang memerah terserak di tanah. Dulu, bara tersebut dikumpulkan dan dimasukkan ke dalam setrika besi dan digunakan untuk menyetrika baju baru untuk dikenakan saat Lebaran tiba.

3. Sungkem Telompak di Magelang

Tradisi yang diikuti masyarakat lereng barat Gunung Merbabu ini dilakukan sebagai bentuk syukur atas ketersediaan air di mata air Telompak di Desa Banyusidi, Kecamatan Pakis, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Mereka menggelar kesenian tradisional "Campur Bawur" di mata air itu setelah selesai berdoa dan memasang sesaji yang dipimpin seorang juru kunci.

Kompas.com (14/09/2010) menulis, mata air Telompak tetap mengalir saat paceklik melanda desa pada 1932 lalu. Airnya yang melimpah membuat warga dapat bertahan menghadapi krisis tersebut. Warga mengungkapkan rasa syukur atas air yang tetap ada dengan cara itu.

4. Ngejot di Bali

Meski umat Muslim bukanlah warga mayoritas di Bali, Hari Raya Idul Fitri tetap dirayakan dengan meriah di Pulau Dewata ini. Lewat tradisi Ngejot, Nyama Selam (sebutan untuk saudara dari kalangan Muslim) akan memberi hidangan pada tetangga tanpa peduli latar belakang agama. Sebagai balasan, umumnya umat Hindu akan memberi makanan pada tetangganya di Hari Raya Nyepi atau Galungan.

5. Perang Topat di Lombok Dalam tradisi ini, para warga akan saling melempar ketupat seusai berdoa dan berziarah di Makam Loang Baloq di kawasan Pantai Tanjung Karang dan Makam Bintaro di kawasan Pantai Bintaro.

Mereka percaya, melempar ketupat akan mengabulkan doa. Perang Topat merupakan simbol kerukunan umat Hindu dan Islam di Lombok, Nusa Tenggara Barat. Peserta Perang Topat tersebut adalah umat Islam dan Hindu.

6. Tumbilatohe di Gorontalo

Tradisi memasang lampu sejak tiga malam terakhir menjelang Idul Fitri itu, awalnya dilakukan untuk memudahkan warga memberi zakat fitrah pada malam hari. Kala itu, lampu terbuat dari damar dan getah pohon.

Seiring waktu, lampu diganti dengan minyak kelapa dan kemudian beralih menggunakan minyak tanah. Tradisi ini sudah berlangsung sejak abad ke-15 masehi. Kini, lampu yang dipasang hadir dalam berbagai bentuk dan warna. Lampu dipasang tak hanya di rumah, tetapi juga di tempat umum sampai di sawah.

7. Meriam Karbit di Pontianak

Festival Meriam Karbit sudah menjadi ajang perlombaan tahunan tiap Lebaran tiba. Konon, meriam karbit dulunya ditembakkan untuk mengusir kuntilanak. Festival yang diadakan di tepian Sungai Kapuas ini menampilkan sejumlah meriam karbit yang dihias berwarna-warni. Meriam dengan bunyi paling kompaklah yang akan menjadi pemenangnya. Kompas.com (06/07/2016) menulis, untuk membuat meriam karbit dibutuhkan biaya sekitar Rp 15—30 juta. 

8. Tradisi Hadrat di Kaimana, Papua

Dalam merayakan Idul Fitri, warga Kaimana, Papua Barat, melakukan silaturahim hadrat keliling kota. Ratusan orang, baik tua maupun muda, berkeliling kota menari diiringi lantunan shalawat dan musik hadrat.

Kegiatan silaturahim hadrat ini biasanya dilakukan pada hari kedua Idul Fitri. Tak hanya warga Muslim yang berpartisipasi dalam tradisi ini. Bahkan, umat Kristiani di Kaimana pun turut serta dalam rombongan musik dan memainkan tifa.[]

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Serunya Tradisi Lebaran di Nusantara, dari Aceh hingga Papua", https://travel.kompas.com/read/2017/06/24/135332127/serunya.tradisi.lebaran.di.nusantara.dari.aceh.hingga.papua

Editor: THAYEB LOH ANGEN


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.