30 March 2020

Kabar Aceh Untuk Dunia


Tarian Sufi Rumi Mulai dilirik Dunia Modern, Ini Maknanya....

...

  • portalsatu.com
  • 20 January 2020 20:30 WIB

Pakain putih penari melambangkan kain kafan, sedangkan pakaian hitam melambangkan kematian. @pinterest
Pakain putih penari melambangkan kain kafan, sedangkan pakaian hitam melambangkan kematian. @pinterest

Tarian sufi ini dikembangkan oleh syeikh sufi maulana Jalaluddin Rumi, ia tidak hanya dikenal dan dihargai oleh kaum muslim tapi juga dikagumi oleh Yahudi dan Nasrani. Menurut beberapa catatan, gagasan tarian ini berawal dari rasa sedih sang sufi. Konon, ia menari berputar melawan arah jarum jam selama tiga hari tiga malam.

Tarian ini terikat dengan prosedur syariah, sehingga tak ideal bila para perempuan yang membawakannya, apalagi ditonton oleh khalayak ramai.

Kemudian tata laksana tarian tersebut biasanya dibagi menjadi empat bagian. Pertama, akan ada seorang penyanyi solo yang melantunkan lagu pujian untuk Rasulullah dan diikuti oleh improvisasi dari alat musik flute. Bagian ini disebut Naat. Kedua adalah Devr-i Veled, yakni para penari akan saling membungkuk satu sama lain. Proses ketiga justru menjadi bagian utama tarian ini. Pada proses ini, penari akan berputar di luar pemimpin tarian yang berada di tengah. Terakhir, bagian Taksim yang melantunkan Alquran dan berdoa.

Sedangkan makna batin dari tarian tersebut, diantara sebagai bentuk meditasi dan medium penyembuhan bagi masyarakat modern guna menstabilkan ritme hidup yang terpecah.

Pada intinya, tarian ini melambangkan kehendak diri ingin menyatu dengan ilahi dan masuk ke alam ekstasi secara ruhani. Fakta bahwa "penyatuan" itu tidak mungkin yang memberikan rasa sedih para sufi akan Kekasihnya. Selain makna peleburan diri ke alam non materiil, gerakan tariannya juga sama dengan gerak tawaf. Para penari yang berkeliling dianggap bagai bulan dan penari di tengahnya sebagai matahari.

Secara singkat tarian sufi yang berkembang dari Turki ini  sebagai ekspresi perjalanan seorang hamba menuju Tuhannya dengan mengabaikan yang lain selain ketaatan. Disamping itu, ia juga melambangkan rasa cinta dan kemanusiaan yang paling dalam untuk saling memahami dan menggerakkan kehidupan. Jadi, jangan anggap tarian sufi ini sebagai tarian radikalisme, maka pahamilah![]

Taufik Sentana 
Peminat kajian sosial budaya.
Sebagian sumber diambil dari wikipedia dan IDNTime.

Editor: portalsatu.com

Berita Terkait


Alamat:

Jalan Prof. Ali Hasjmy, No. 6, Desa Lamteh, Ulee Kareng, Kota Banda Aceh. Kode Pos: 23118.

portalsatu.com © 2020 All Rights Reserved.