19 March 2019

Kabar Aceh Untuk Dunia


Teater Hikayat Prang Sabi akan Tampil di Jakarta

...

  • Jamaluddin
  • 31 December 2018 11:30 WIB

SETELAH pertunjukan pada 7-8 Desember 2018 di Taman Budaya, Banda Aceh, sutradara teater The Spirit of Aceh adapted from Hikayat Prang Sabi, Muhammad Yusuf Bombang atau sering dikenal dengan nama Apa Kaoy berencana teater garapannya yang diadopsi dari karya besar Tgk. Chik Pante Kulu itu, pada Agustus 2019 mendatang akan tampil kembali di Taman Ismail Marzuki, Jakarta.

Teater The Spirit of Aceh adalah satu-satunya karya teater Aceh yang di dukung oleh para seniman, musisi, penyair, penabuh rapai, penari tradisional, dan pedebus senior Aceh, di antaranya adalah Cut Aja Rizka, Salman Yoga, Moritza Thaher, Teuku Abdul Malik, Mirja Irwansyah, Ampon Nazar, dan lain-lain.

Salah seoarang actor teater yang berperan sebagai Tgk. Fatimah, Cut Aja setelah tampil pada pertunjukan perdana di Taman Budaya  beberapa waktu yang lalu, juga pernah meminta kepada yusuf Bombang supaya pertunjukan teater The Spirit of Aceh from Hikayat Prang Sabi dapat dipentaskan ulang beberapa kali lagi, tidak hanya Aceh tetapi di luar Aceh.

“Untuk teater itu saya selalu akan siap untuk tampil kapan saja diadakan kembali,” katan Cut Aja Rizka, salah satu seniman tari Aceh, salah satu penyanyi Dodaidi di album Nyawoung, dan penyanyi album solo Meusyeuhu.

Kisah awal Cut aja terlibat di teater Hikayat Prang Sabi bermula pada tahun 2018 ketika ia diajak oleh Yusuf Bombang Kaoy dan menawarkannya ikut serta sebagai salah satu pemeran dalam naskah teater yang akan digarapnya. Namun kerena sebelumnya ia belum pernah bermain teater Mendapat tawaran itu Cut Aja sempat terkejut. hingga tidak langsung menerima tawaran bermain teater.

“Ketika Yusuf mengirimkan salinan naskah teater The Spirit of Aceh adapted from hikayat Prang Sabi karya sutradara Muhammad Yusuf Bombang/Apa Kaoy, karya Tgk. Chik Pante Kulu, kemudian saya langsung kagum dan merasa tertantang untuk memerankannya,” katanya.

Sejak saat itu ia pun terus-menerus mempelajari, menela’ah tokoh perannya sebagai Tgk.Fatimah, seorang janda korban perang kekejaman Belanda. Sementara ia terus memantau perkembangan rekan-rekan pemeran teater melalui kiriman-kiriman kegiatan latihan di grup WA Hikyat Prang Sabi, dan itu membuatnya ingin segera terbang ke Aceh bergabung dengan mereka.

Selanjutnya pada tanggal 27 November 2018 ia tiba di Banda Aceh dan malamnya ikut bergabung untuk latihan bersama seniman-seniman Aceh lainnya yang terlibat dalam garapan teater The Spirit of Aceh adapted from Hikayat Prang Sabi.

Beberpa hari sebelum pertunjukan, atas inisiatif Sutradara tepatnya pada 3 Desember 2018 semua pendukung pertunjukan teater itu berziarah ke makam Tgk. Chik Pante Kulu di gampong Lam Leu’ot Cot Gli Aceh Besar dan berziarah ke makam Tgk. Chik di tiro. Kedua tokoh besar itu adalah sama-sama ulama dan tokoh pejuang Aceh. Tgk. ChikPante Kulu Menulis Hikayat Prang Sabi sedangkan Tgk. Chik di Tiro langsung memimpin perang.

“Saya sangat terharu dapat kesempatan berziarah untuk pertama kalinya ke makam dua tokoh besar Aceh itu. Tapi saya tak mampu menahan tangis sedih melihat kondisi makam Tgk. Chik Pante Kulu yang tak terawat dan tak terurus sama sekali, padahal karya beliau Hikayat Prang Sabi begitu kita banggakan dan dunia kagum terhadapnya. Setelah melalui proses latihan yang panjang akhirnya pertunjukan teater itu pada 7-8 Desember 2018 terlaksana dengan baik," kata Cut Aja.

Cut Aja mengatakan bahwa ia telah tinggal di Tanggerang Banten sejak tamat SMA hingga sekarang. Walaupun tidak menetap di Aceh, ia sangat berharap baik kepada pemerintah atau masyarakat Aceh, supaya sesering mungkin membuka ruang dan memperkenalkan kembali kepada generasi muda tentang hikayat-hikayat Aceh lainnya, dan juga berharap kiranya Hikayat Prang Sabi itu bisa menjadikan masyarakat Aceh lebih mengenal kembali siapa dirinya sebagai orang Aceh.

“Saya sebagai orang Aceh merasa sangat bangga dan berterima kasih kepada penulis naskah dan sutradara Pak Yusuf Bombang yang telah mempercayai saya dan memberikan kesempatan untuk ikut serta, kepada teman-teman seniman yang terlibat di dalamnya dan telah bersedia menerima saya dengan segala kekurangan saya, kepada Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh (Disbudpar) yang telah memfasilitasi segala kebutuhan hingga terselenggara dan suksesnya pertunjukan ini,” Pesan Cut Aja sehari sebelum pagi 13 Desember 2018 kembali ke Tanggerang, Banten untuk berkumpul kembali dengan  keluarga yang telah ditinggalkannya sejak 27 November 2018 waktu itu.[]

Editor: THAYEB LOH ANGEN

Berita Terkait


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.