21 July 2019

Kabar Aceh Untuk Dunia


Teater Hikayat Prang Sabi, Impian Lama yang Telah Terwujud

...

  • Jamaluddin
  • 11 December 2018 09:00 WIB

Cut Aja Rizka di antara pemain teater.
Cut Aja Rizka di antara pemain teater.

Tahun 2002

Inilah tahun pertama muncul impian dari seorang pecinta hikayat Aceh, Muhammad Yusuf  atau sering dikenal dengan nama Yusuf Bombang atau Apa Kaoy, untuk  menggarap pertunjukan teater hingga idenya saat itu pun disampaikanlah pada Moritza Thaher (Momo) untuk menjadikan hikayat Aceh bisa dipentaskan di panggung yang layak.

Beberapa bulan sebelum 7-8 Desember 2018
Yusuf pun kembali menghubungi Moritza Thaher, juga mengajak Cut Aja Rizka, Teuku Abdul Malik, Muhammad Nazar (mantan wagub), Mirja Irwansyah, Ampon Nazar, Fikar W Eda, Ketua Peusaba Mawardi Usman dan lain-lain untuk bergabung dengannya, mereka semua dengan penuh semangat langsung menerima tawaran itu. Sementara Fikar W Eda tidak menjawab ajakan Yusuf kemudian di peran penyair diminta Salman Yoga S menggantikannya.  

Setelah ditanyakan, umumnya para seniman mau menerima ajakan yusuf karna sebagaimana telah diketahui secara umum bahwa Hikayat Prang Sabi adalah sebuah karya dari seorang ulama Besar dan sastrawan besar Aceh Tgk. Chik Pante Kulu yang sangat ditakuti oleh Belanda.

Di antara para pendukung itu, Mawardi Usman diminta oleh Yusuf, ditugaskan untuk membuat property-properti keperluan teater seperti rincong, pedang, dan senapan dibuat dengan berbahan dari kayu. 

Pada September 2018

Seluruh aktor teater pun mulai berlatih di Pentasagoe, Taman Budaya, Banda Aceh, di sana mereka melatih bagaimana cara baca, irama, dan menghafal teks naskah teater, sedangkan para penari berlatih di taman budaya.

Kemudian pada 21 Oktober 2018 lokasi latihan pindah tempat berlatih, seluruh pendukung teater hikayat Prang Sabi, aktor, penari, dan pemain Rapai mulai berlatih teater di Gedung DPD Partai SIRA di Batoh, tempat Nazar wagub bekerja.

Di ruang lantai II gedung bercat biru muda itu gadis- gadis penari dari sanggar Keumala Intan mulai berlatih dengan serius, dan karena jadwal latihannya di adakan waktu di malam, mereka harus pun harus menghentikan latihan ketika pukul sepuluh dan kembali.

Saat latihan di sana para penabuh rapai dari Sanggar Rapai Tuha berlatih menabuh rapainya mengiringi para penari sanggar Keumala Intan latihan menari. 

Kurang lebih sepekan sebelum pertunjukan, tepatnya pada akhir November Cut Aja Rizka yang menetap di Tanggerang pun terbang ke Aceh. Namun sewaktu pengurusan tiket pesawat ia kepada portalsatu.com mengaku sempat terkejut dengan harga tiket yang menurutnya tak masuk akal melambung, namun karena kecintaannya pada Hikayat Prang Sabi ia pun tetap terbang ke Aceh.

"Hikayat Prang Sabi ini adalah bukan fiksi akan tetapi adalah fakta. Fakta tentang kepahlawanan yang hikayatnya ditulis oleh Teungku Chik Pante Kulu," kata Cut Aja sewaktu berziarah ke makam Tgk. Chik Pante Kulu bersama kru teater lainnya.

Pada 28 November

Untuk mengisi acara Pentasagoe edisi II tahun 2018, Yusuf memanfaatkan kesempatan itu untuk menggelar pertunjukan percobaan teater Hikayat Prang Sabi dengan tema Tadarus Hikayat Musem keunong sa yang ditampilkan berisi cuplikan-cuplikan dari teater Hikayat Prang Sabi, di Lucky Tribe Aceh, simpang ring road coffe, Banda Aceh. 

Pada 3 Desember

Sseluruh kru teater berziarah ke makam Teungku Tgk. Chik Pante Kulu dan Makam Tgk. Chik di Tiro.

Dan pada 5-6 Desember, sutradara beserta Asisten sutradara dan seluruh pendukung teater lakukan gladi bersih di Indoor Taman Budaya.

Pada 7 Desember

Pertunjukan pertama pun digelar. Saat usai acara kepadaportalsatu.com penata musik sekaligus pencetus ide awal teater bersama yusuf Bombang, Moritza mengatakan andai waktu persiapannya lebih lama, misalnya setahun setengah, ia sangat yakin teater Hikayat Prang Sabi akan dapat dipersembahkan menjadi pertunjukan yang luar biasa.

Pada malam pertunjukan kedua, pentas terlihat di pinggir kiri-kananya telah dihiasi dengan objek yang terlihat seperti tebing batu, dan kearahnya disorot dengan lampu display dengan warna yang terus berganti sendiri hingga terlihat lebih menarik. 

Cut Aja Rizka juga tampil berperan sebagai Tgk. Fatimah, janda korban perang juga sebagai pelatih silat kaum perempuan di gampong. Latihan silat itu dipadu dengan tarian sambil menyanyikan lagu perang Sabil yang pernah populer belasan tahun yang lalu di album Nyawoung.

Penata visual latar teater seperti visual Balai, pasar, dan dalam rumah, Yusuf mempercayakan dirancang oleh Teuku Malek. Berbicara tentang Teuku Malek, sebelum bertugas menyiapkan visual latar untuk teater Hikayat Prang sabi, ia di bulan November lalu baru saja sukses mengorbit sebuah film documenter karya garapannya tentang perdamaian di Aceh yang diberi tema dengan The Triump and Role Model of Aceh Peace.

Malam itu, suara Rapai Pase dari grup Rapai Pase Raja Buwah pun menggema diiring dengan music latar oleh Moritza hingga terdengar seperti suara epic music war soundtrack di Youtube.

Untuk diketahui, sebelum tampil di teater, Grup Rapai Pase Raja Buwah binaan Muhammad Yusuf ini pada pada 30 September 2018 yang lalu juga telah berjaya mendapat kehormatan dari sutradara terkenal Jepang Suzuki Tadashi untuk ikut mengisi suara latar pertunjukan di teater Dionysus garapannya yang di gelar di panggung Teater Terbuka Candi Prambanan, Jokjakarta.[]

Editor: THAYEB LOH ANGEN

Berita Terkait


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.