20 October 2018

Kabar Aceh Untuk Dunia


Umar Mukhtar Libya Diduga Punya Hubungan Dekat dengan Tgk Chik Di Tiro

...

  • PORTALSATU
  • 04 June 2018 21:15 WIB

Anggota Masyarakat Peduli Sejarah Aceh (Mapesa) memasak makanan buka puasa di sekretariatnya, Ahad, 18 Ramadan 1439 H, 3 Juni 2018. @PORTALSATU.COM/JAMALUDDIN
Anggota Masyarakat Peduli Sejarah Aceh (Mapesa) memasak makanan buka puasa di sekretariatnya, Ahad, 18 Ramadan 1439 H, 3 Juni 2018. @PORTALSATU.COM/JAMALUDDIN

SETELAH azan magrib dan berbuka puasa, semua beranjak ke masjid untuk salat berjamaah. Usai salat tarawih, anggota Masyarakat Peduli Sejarah Aceh (Mapesa) dan Central Information of Samudra Pasai Haritage (Cisah), berkumpul kembali dan larut dalam perbincangan tentang sejarah. 

Pembina Mapesa Tgk. Taqiyuddin Muhammad, mengatakan bahwa hakikat sejarah Aceh, jika ingin meneliti tentang sejarah Aceh, maka sejarahnya dimulai dari Hijaz, karena sejarah Aceh adalah sejarah Islam.

Di masa sekarang sejarah itu seakan tertutup disebabkan terjadinya kegelapan terhadap peradaban Islam setelah Perang Salibis yang nyata seperti yang terjadi di Palestina, atau seperti di Aceh yang diserang oleh imperialisme Belanda pada abad ke-18.

Tgk. Taqiyuddin mengatakan, sebenarnya ketika perubahan sejarah terjadi, sudah sejak awal kehadiran kaum imperialisme barat telah dirasakan. Dalam upaya menanggapi hal tersebut kemudian para ulama pun menulis kitab yang berisi tentang seruan jihad, atau menulis kitab-kitab yang berisi tentang penelitian keadaan masa tersebut untuk menumbuhkan kesadaran tentang bahayanya imperialisme barat.

Tokoh tersebut pun bangkit dan tampil ke depan, misalnya di Libya dengan hadirnya Umar Mukhtar, sedangkan di Aceh dengan bangkitnya Tgk. Chik Di Tiro. Dan para peneliti menduga dua tokoh ini punya hubungan yang dekat yang ditandai dengan adanya kesamaan dalam strategi pemikiran pertahanan dalam perang menghadapi imperialis.

Tindakan yang diambil di masa tersebut berupa membangun zawiyah-zawiyah di setiap persimpangan sebagai basis pertahanan melawan serangan imperialis. 

Namun disayangkan, di waktu itu juga di Aceh ada orang-orang dari dalam Aceh sendiri yang mendukung Belanda melakukan penyerangan. Dan, menurut peneliti Islam, pengkhianatan itu menjadi salah satu penyebab sejarah kesultanan Islam runtuh.

Keterlibatan Aceh dalam kehidupan internasional setelah itu pun terhenti, ketika Belanda dengan disiplin mulai melakukan penyerangan terhadap Aceh Darussalam, dan pada abad ke-19 status kesultanan hilang.

Menurut Tgk. Taqiyuddin, kebenaran sejarah akan lebih banyak diketahui dengan disiplin dalam melakukan penelitian-penelitian, seperti meneliti hubungan-hubungan koneksi yang kuat dengan Yaman, Syiraz, India, Malabar, dan lain-lain pada masa lalu juga.

Berdasarkan data dari catatan yang ada pada batu nisan sedikit telah memberikan ringkasan bahwa hubungan Aceh dengan dunia Islam di Arab adalah nyata.

"Untuk mendidik generasi masa depan yang mencintai Islam, generasi harus diajari shirah Nabawi, dan sejarah-sejarah awal Islam. Lingkungan yang biasa mendengar kalimah-kalimah yang baik akan melahirkan generasi yang membawa pengaruh yang baik kemana saja ia hadir," kata Tgk. Taqiyuddin.

Buka puasa bersama, menyantuni anak yatim, dan diskusi sejarah, dilaksanakan Tim Mapesa di sekretariatnya, di Punge Blang Cut, Jalan Bahagia No. 47, Banda Aceh, Minggu, 18 Ramadan 1439 H/3 Juni 2018. Acara itu dihadiri para pecinta sejarah dengan berbagai latar belakang profesi.

Ketua Mapesa, Mizuar Mahdi, mengatakan acara buka puasa itu terwujud dengan adanya dana dari hasil sumbangan para anggota Mapesa dan ditambah dengan Rp4,1 juta yang terkumpul dari akun steemit Mapesa dan Cisah.[]

Penulis: Jamaluddin

Editor: THAYEB LOH ANGEN


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.