17 February 2019

Kabar Aceh Untuk Dunia


'Bank Aceh Butuh Bankir Visioner'

...

  • MUDIN PASE
  • 04 February 2019 09:30 WIB

Ayi Jufridar. Foto: istimewa/net
Ayi Jufridar. Foto: istimewa/net

BANDA ACEH - Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unimal, Ayi Jufridar, menilai Bank Aceh membutuhkan manajemen berani dan berpengalaman dalam pengelolaan kredit produktif.

"Tidak hanya membuat senang kepala daerah semata. Dana penyertaan modal itu bukan milik kepala daerah, tetapi milik rakyat" tegas Ayi Jufridar saat dimintai komentar oleh portalsatu.com, Senin, 4 Februari 2019, soal rendahnya kredit produktif Bank Aceh.

Menurut Ayi, kalau bankir visioner seperti itu tidak ada di Aceh, harus berani memakai bankir luar yang mampu menambah kinerja perusahaan. 

"Bank Aceh harus fokus kepada penyaluran kredit di sektor riil agar bisa mendorong pertumbuhan ekonomi," ujar pria yang juga dikenal sebagai penulis nasional ini.

Selama ini, Ayi menilai, Bank Aceh hanya fokus kepada penyaluran kredit konsumtif karena ingin aman tanpa perlu bekerja keras. Debitur Bank Aceh berasal dari kalangan PNS. Pembayaran cicilan selalu lancar karena dipotong langsung dari gaji. Namun, kredit konsumtif tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan sektor riil yang dibutuhkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi secara signifikan.

Ayi juga mempertanyakan, "Benarkah permintaan kredit produktif terutama dari UMKM sangat rendah? Dalam beberapa seminar dan pelatihan bagi UMKM di Lhokseumawe dan Aceh Utara, terlihat UMKM sebenarnya bukan tidak mau memanfaatkan kredit di bank, tetapi sulit bagi mereka mendapatkan kepercayaan pihak bank, selain sebagian di antaranya tidak bankable".

Menurut Ayi, kondisi ini seharusnya mendorong Bank Aceh mempermudah penyaluran kredit bagi UMKM dan kredit produktif lainnya. Sebenarnya, banyak fasilitas kredit di bank untuk berbagai kebutuhan yang produktif, tetapi akses informasi sangat terbatas.

Ayi menyebutkan, sebagai lembaga keuangan yang sahamnya dimiliki Pemerintah Provinsi dan Kabupaten/Kota, Bank Aceh memiliki tanggung jawab untuk mendorong pertumbuhan ekonomi daerah. Sebab ini akan berpengaruh terhadap penyediaan lapangan kerja, peningkatan daya beli, dan pada akhirnya peningkatan kesejahteraan masyarakat. 

"Selama ini, kita lihat peran Bank Aceh dalam hal ini (pertumbuhan ekonomi) sangat minim. Dana yang dihimpun dari masyarakat, seharusnya disalurkan kembali dalam bentuk kredit produktif," kritik Ayi yang juga wartawan senior di Aceh.

Dia meminta pemegang saham belajar pada bank daerah lain, yang berani mengambil bankir "nonorganik" untuk membesarkan bank. "Contohlah Bank DKI, Bank Jabar Banten atau Bank Banten yang besar di tangan bankir profesional yang bukan diambil dari dalam melulu," tandas Ayi Jufridar. 

Diberitakan sebelumnya, Direktur Utama Bank Aceh, Haizir Sulaiman, membenarkan angka kredit konsumtif mencapai 90 persen. Sementara kredit produktif untuk Usaha Kecil Menengah (UKM) hanya 10 persen.

"Inilah persoalan Bank Aceh sekarang. Memang pernyataan Plt. Gubernur Aceh itu benar,” kata Haizir, Kamis, 31 Januari 2019.

Dia menyebutkan, angka kredit konsumtif melonjak dibandingkan perkreditan produktif. Permasalahannya yang mengambil kredit konsumtif hanya kalangan Pegawai Negeri Sipil (PNS). Kata dia, tentu Bank Aceh telah membuka peluang untuk kredit produktif baik bagi UKM maupun sektor usaha lain.

“Minat pengambilan kredit melaui Bank Aceh masih minim, padahal menunggu calon permohonan pengambilan kredit,” ujarnya.

Menurut Haizir, Bank Indenesia (BI) mengeluarkan aturan mengenai angka yang harus dicapai Bank Aceh maupun bank konvensional lain di bidang
perkreditan. Namun, sejauh ini Bank Aceh belum mencapai target.

“Aturan BI harus mencapai dua puluh persen. Namun saat ini hanya sepuluh persen sedang berjalan,” tegasnya.

Dia menambahkan, sebelum adanya teguran dari BI mengenai capaian angka kredit produktif, Bank Aceh telah membahas soal pencapaian angka itu sejak tahun 2018 lalu. Bank Aceh kini sedang membahas langkah selanjutnya untuk menggenjot peningkatan kredit produktif.

“Saat ini Bank Aceh sedang membedah dan mencari celah agar angka perkreditan itu meningkat,” paparnya.

Dia menjelaskan, tahun 2019, Bank Aceh telah membuka Center UKM, bidang sektor pertanian, kelautan, maupun perdagangan. Tujuannya untuk
meningkatkan pertumbuhan ekonomi.

“Tahun ini memang perkreditan produktif diutamakan, sesuai harapan Plt. Gubernur Aceh,” ujarnya.

Menurut dia, penyataan Plt. Gubernur Aceh adalah masukan sangat baik untuk menyelamatkan Bank Aceh. Sebab Bank Aceh milik rakyat Aceh, yang perlu diperhatikan dan diselamatkan.

“Kritikan Plt. Gubernur baik, karena biliau sayang ke Bank Aceh,” ucap Haizir.

Plt. Gubernur Aceh, Nova Iriansyah, mensinyalir ada yang tak beres di Bank Aceh.

“Coba kalian masuk ke Bank Aceh. Saya sudah mencium aroma busuk, tapi saya belum tahu di mana,” kata Nova Iriansyah saat Talk Show "Aceh Hebat, APBA 2019, Pembangunan Mau Kemana?", di Banda Aceh, Selasa, 29 Januari 2019.

Nova menilai kinerja Bank Aceh tak sesuai dengan harapan. Pasalnya pemberian kredit terkesan hanya difokuskan ke konsumtif, tidak menyentuh pertumbuhan ekonomi Usaha Kecil dan Menengah (UKM). Menurutnya, Bank Aceh itu beda dengan bank nasional. Bank Aceh harus membantu pengusaha daerah.

"Tentu ada yang tidak beres didalamnya. Bau-bau yang tidak beresnya apa, ya kita cari. Buktinya BI menegur Bank Aceh. Tapi tidak mengarah ke korupsi, tapi ada kinerja yang harus diperbaiki,” tegas Nova.[](Khairul Anwar)

Editor: portalsatu.com

Berita Terkait


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.