25 May 2018

Kabar Aceh Untuk Dunia


Bank DBS: Bila Ingin Bertahan, Harus Bekerja Sama dengan Fintech

...

  • portalsatu.com
  • 18 March 2018 15:00 WIB

Presiden Direktur PT Bank DBS Indonesia, Paulus Sutisna di Jakarta. @ARIEF KAMALUDIN/KATADATA
Presiden Direktur PT Bank DBS Indonesia, Paulus Sutisna di Jakarta. @ARIEF KAMALUDIN/KATADATA

Bank DBS berinvestasi di perusahaan fintech, dan meluncurkan layanan algolending untuk memperkuat bisnis di Indonesia.

SETELAH meluncurkan bank berbasis digital bernama Digibank pada Agustus 2017, DBS mengambil langkah strategis lain dengan mengakuisisi bisnis retail dan wealth management Bank ANZ Indonesia. Bagian dari aksi korporasi di empat negara lain -Hong Kong, Singapura, Cina, dan Taiwan- ini selesai pada Februari lalu. Bank asal Singapura itu memang tengah berfokus memperbesar pengaruhnya di Asia.

Presiden Direktur PT Bank DBS Indonesia Paulus Sutisna mengatakan perusahaan memiliki kemampuan finansial besar untuk mendorong pengembangan bisnis. Dan Indonesia dipandang sebagai pasar besar yang paling menjanjikan. “Ambisi besar, kemampuan ada,” kata Paulus kepada Hari Widowati, Martha Thertina, Metta Dharmasaputra, dan Muchamad Nafi dariKatadata.co.id.

Dalam wawancara di DBS Bank Tower lantai 37, akhir bulan lalu, Paulus mengungkapkan sejumlah rencana bisnisnya. Beberapa di antaranya terkait kerja sama dengan perusahaan telekomunikasi untuk merealisasikan layanan algolending serta investasi di perusahaan teknologi finansial (fintech). Berteman kopi espresso dan teh hangat, pada perbincangan sekitar satu setengah jam ini, ia didampingi Senior VP Wealth Management Head Consumer Banking Group Bank DBS Indonesia Widrawan Hindrawan.

Bagaimana target dan strategi bisnis DBS ke depan?

Paulus: Kami melihat Indonesia sebagai pasar yang besar sekali. Di Singapura, DBS sudah seperti BCA, ada di tiap corner. Jadi, kesempatan untuk tumbuh lagi sedikit. Kalau mau jadi bank besar, mesti keluar dari Singapura. Secara logis ke Indonesia, India, dan Cina.

Sekarang, kapitalisasi pasar kami lebih besar dari Credit Agricole, Credit Suisse, Standard Charter, Deutsche Bank. Kami sudah dekat sekali dengan Bank of New York, menjadi salah satu pemain besar dunia. Kami mau kembangkan di tiga market (Indonesia, India, dan Cina) sehingga akan lebih gede lagi.

Ambisi besar, kemampuan ada. DBS cukup besar tapi tidak terlalu besar sehingga birokrasinya singkat. Jadi untuk membuat keputusan cepat. Contohnya, decision untuk membeli ANZ itu cepat sekali. Begitu juga keputusan untuk menjalankan Digibank.

Bagaimana secara spesifik di Indonesia?

Paulus: Digibank ini kesempatan emas untuk menjadi seperti BCA ketika dia membuat kantor cabang atau ATM yang banyak sekali. Kami mengembangkan Digibank di India dan Indonesia. Yang kami luncurkan tahun lalu itu baru tahap awal. Sudah cukup bagus dengan satu proposisi bahwa orang buka account tidak usah ke kantor cabang. Sama sekali tidak ada kertas. Terakhir, tidak ada tanda tangan karena kami pakai e-KTP.

Waktu kami luncurkan pada Agustus, satu hari 60 account dibuka. Sekarang sekitar 1.000 account per hari. Kalau kami berbicara mengenai bank konvensional, untuk buka sedemikian banyak account per hari perlu banyak kantor cabang dan pekerja. Dengan Digibank, prosesnya semua elektronik. Hasil awalnya sudah bagus. Tapi, apakah ini yang kami mau? Bukan. Kami mau lebih “gila” lagi, 3,5 juta account dalam lima tahun dari sejak peluncuran tahun lalu. Orang group bahkan bilang target itu terlalu konservatif.

Bagaimana caranya untuk mencapai target tersebut?

Tidak cukup dengan yang saya sebutkan tadi, paperless, branchless. Ini berbicara kenyamanan, customer journey, orang pakai Digibank enak banget. Selanjutnya, kami mesti memastikan Digibank dipakai. Karena itu kami harus masuk ke ekosistem dan kerja sama dengan siapa saja, misalnya Go-Jek, Tokopedia, dengan produk-produk yang inovatif.

Untuk tahap pertama sesudah kami meluncurkan Digibank yang basic, semua produk perbankan kami masukkan, kami buat simple. Orang beli bancassurancebond, misalnya, di situ. Kemarin, kami beli ANZ, credit card ANZ bisa langsung dilihat di Digibank.

Apa saja rencana pengembangan Digibank?

Paulus: Digibank dipakai juga oleh wealth segment, tapi sasarannya lain lagi, level lebih ke bawah. Ke depan, kami sedang mengembangkan algolending. Selama ini kami memberikan pinjaman ke individu atau company dengan kriteria tradisional: ada score card, kami ketik, terus kami memberikan pinjaman, tanggal sekian memberi plafon sekian.

Sekarang kami uji coba dengan salah satu perusahaan telekomunikasi. Kami akan langganan (data), bisa dari Indosat, Telkomsel, atau yang lain. Dari billing pelanggannya, berapa sering topup atau kalau yang postpaid berapa banyak tagihan, lalu di mana saja lokasinya.

Kami mau masuk ke big data. Ini salah satunya. Kami kawinkan dengan data dari media sosial. Kami bisa keluar dengan scoring, jadi tidak lewat cara tradisional yang kami tanya gajinya. Kan sering ditipu, mengaku gaji gede padahal tidak. Ini real data. Dari situ, kami bisa keluar dengan plafon. Ini sedang pilot, segera kami luncurkan.

Artinya partnership dengan perusahaan telekomunikasi tersebut sudah berjalan? Kapan Algolending akan diluncurkan?

Paulus: Masih beberapa bulan lagi. Dan, algolending ini baru contoh satu dengan yang sudah riil, pilot dengan telekomunikasi. Selanjutnya bisa macam-macam. Kami bisa pakai data e-commerce seperti Tokopedia. Mereka punya data pembeli dan penjualSeller ini jual 100 biji tiap hari. Dari data itu kami analisis. Salah satu yang kami bisa sentuh juga, bukan cuma untuk retail, tapi untuk SME (Small and Medium Enterprises/Usaha Kecil dan Menengah).

Ini jadi jawaban untuk bank-bank seperti kami, karena hampir semua bank asing itu gagal di SME ini. Mungkin ini jawaban untuk kami, bagaimana menerobos pasar SME.

Bicara soal akuisisi bisnis retail dan wealth management ANZ, bagaimana dampaknya ke bisnis DBS Indonesia?

Paulus: Dengan membeli ANZ, kami dapat satu produk yang kami tidak punya yaitu credit card dan payment channelKedua, kami dapat customer. Dengan mendapat customer 600 ribu kami bisa crossed sell semua produk kami. Itu alasan kenapa DBS Group beli ANZ. Dengan masuknya ANZ wealth-nya juga jadi cukup besar.

Kami beli bisnis ANZ di lima negara: Indonesia, Cina, Singapura, Taiwan, dan Hong Kong. Hong Kong dan Singapura sebetulnya tidak ada gunanya karena kami sudah besar. Cina sebetulnya susah, tough market. Taiwan lumayan besar, tapi jewel-nya Indonesia.

Bagaimana peluang bisnis wealth management di Indonesia mengingat beberapa bank juga sudah masuk ke segmen ini?

Widrawan: Kami lakukan research. Kami lihat pertumbuhan AUM (Assets Under Management) orang-orang high net worth individual (berpendapatan tinggi) di Indonesia bertumbuh menjadi US$ 184 miliar pada 2016. Jumlah nasabah juga meningkat sekitar 14 persen menjadi sekitar 54 ribu customer. Pertumbuhan 2008-2016 itu sekitar 12 persen baik dari AUM maupun dari populasi high net. Itu indikasi market-nya ada. Kami melihat semakin banyak kompetisi, semakin banyak inovasi.

Dengan integrasi ANZ, AUM menjadi double. Selama tiga tahun terakhir, kami bertumbuh hampir 3,5 kali lipat secara AUM untuk wealth-nya. Jumlah nasabah otomatis double, tapi yang bisa kami garap masih sangat besar. Dari segi penetrasi masih ada ruang cukup besar, belum ditambah Digi wealth dari Digibank. Itu memberikan ruang perencanaan keuangan sehingga bisnis bisa bertumbuh lebih besar lagi.

Yang perlu kita perhatikan juga adalah pertumbuhan dana pihak ketiga di Indonesia. Akhir Desember 2017, dana pihak ketiga sekitar Rp 5.100 triliun, bertumbuh hampir 12 persen dari angka tahun sebelumnya. Itu saja kami belum garap. Jadi, dengan tingkat suku bunga yang rendah, inovasi perencanaan keuangan akan semakin lebih bagus.

Dengan ANZ masuk DBS, apakah bisnis wealth management DBS Indonesia sudah termasuk yang terdepan?

Paulus: Total dana kelolaan wealth management kami Rp 56 triliun dari sebelumnya Rp 32 triliun. Dengan kelolaan tersebut, kami cukup percaya diri menjadi yang terdepan di antara foreign bank.

Setelah ada Panama Papers, Tax Amnesty, orang balik ke sini mencari tempat-tempat baru untuk investasi. Itu memperbesar ceruk pasar yang bisa diambil?

Widrawan: Bukan hanya uang yang masuk. Sebenarnya, di dalam negeri uangnya juga ada. Kalau tidak salah, jumlahnya lebih besar karena yang di luar negeri itu mereka (ikut tax amnesty) hanya membayar. Kalau ada kebutuhan bisnis, mereka kembalikan. Tapi kalau tidak ada kebutuhan bisnis, mereka hanya bayar penalti. Di dalam negeri, yang di bawah kasur itu jauh lebih besar.

Saat tax amnesty, ada tambahan dari bank Singapura ke DBS Indonesia?

Paulus: Waktu tax amnesty, DBS itu bank yang membawa uang ketiga terbesar. Diumumkan waktu itu oleh OJK (Otoritas Jasa Keuangan). Sempat dibilang bank Singapura mencegah dana ke Indonesia, DBS itu yang terbesar ketiga membawa uang repatriasi.

DBS Indonesia sudah mempunyai tawaran instrumen supaya mereka tetap betah?

Widrawan: Sebetulnya kami sudah siapkan dan kami sangat sesuai dengan arahan OJK untuk instrumen-instrumen yang kami tawarkan. Karena OJK mengeluarkan beberapa aturan apa yang boleh diinvestasikan.

Dalam pengembangan layanan digital, DBS Indonesia juga membuka peluang kolaborasi dengan fintech?

Paulus: Kami sedang dalam proses membeli sebagian saham fintech company Indonesia, tapi tidak besar, 10 persen-lah. Tapi yang beli tidak harus DBS Indonesia karena secara ukuran, kami kecil. Bisa saja dari DBS Group untuk kepentingan bisnis di Indonesia. Itu contoh kami juga akan ke sana. Bila ingin survive, tidak bisa tanpa menghiraukan fintech. Dan bukan hanya untuk survive tapi untuk menjadi besar.

Ada algolending dan investasi ke fintech. Ke depan, kredit ke SME akan membesar?

Paulus: Bukan SME dan retail saja. Antara retail dan SME yang kecil itu beda tipis. Kami tetap fokus ke corporate yang besar-besar, tetap jalan terus. Juga ke perusahaan terkait infrastruktur milik pemerintah. Tapi, kami lihat kesempatan besar dengan disruption process di retail ini.

Bagaimana porsi kredit untuk yang corporate dan retail?

Paulus: Sebagian besar, 70 persen, di corporate, di retail kecil. Tapi setelah kami membeli ANZ sudah 50:50. Kalau kami push, pasti yang tumbuh lebih di retail-nya. Sebab, penting punya good retail business. Bank-bank di Indonesia kesulitan dengan funding yang murah, hanya beberapa bank saja yang bisa (mendapatkan) seperti BCA, Mandiri, BNI, bank yang punya mass retail. Kalau funding yang mahal gampang. 

Nah, kami dengan Digibank berharap bisa mendapat banyak customers, targetnya 3,5 juta nasabah yang memakai Digibank, sama seperti orang-orang pakai account BCA. Mereka taruh uang di situ, tidak peduli bunganya kecil karena dipakai untuk transaksi setiap hari. Dana yang mengendap itu yang bakal stabil dan menjadi cheap funding. Dari situ kami bisa pakai untuk mendanai yang lain-lain.

Secara makro, daya beli sempat jatuh, tapi DBS malah memperbesar retail. Apakah DBS berasumsi bahwa tahun ini ekonomi Indonesia akan lebih baik?

Paulus: Kami tidak melihat Indonesia short term. Sebetulnya, kami tidak peduli tahun ini mau bagus atau jelek. Tapi, kami percaya long term ekonomi Indonesia bakal bagus. Kami habiskan jutaan dolar untuk Digibank dan beli ANZ karena kami benar-benar yakin bahwa ke depan bagus. Pay back bukan tahun depan atau tahun ini, tapi panjang. Kami tetap berharap ekonomi Indonesia tahun ini akan bagus.

Pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat membaik lagi. Lalu, ada faktor risiko di dalam negeri. Orang bisa saja memindahkan uang ke luar. Apakah itu menjadi ancaman untuk meraih market di sini?

Paulus: Kalau fund manager, begitu ada kabar Trump berbicara pajak yang mulai turun, mereka memindahkan dana. Itu kejadian di seluruh dunia. Tapi, kalau dari segi wealth management, lebih melihat ke individu-individu yang punya duit di Indonesia bakal kabur atau tidak. Sejauh ini, kami lihat dari tahun lalu, yang mulai gonjang-ganjing, tidak ada yang pergi.

Widrawan: Dari kondisi yang ada, sekarang dan ke depan, kami tidak melihat ada gonjang-ganjing. Dilihat dari all emerging market di Asia, investor luar mau masuk Indonesia, baik instrumen obligasi maupun equity. Indonesia masih memberikan yield yang lebih atraktif dari negara Asia lainnya. Yang kedua, biasanya investor asing mau masuk karena CDS (Credit Default Swap) kita sudah terendah sepanjang masa, stabilitas baik. Ada Pemilu pun, mereka tidak khawatir lagi.

Dan kebetulan kita masuk investment gradeSebetulnya masih banyak dana dari luar negeri yang mau masuk ke Indonesia karena investment grade dan wacana mau di-upgrade lagi.

Setelah membeli bisnis retail dan wealth management ANZ, ada rencana akuisisi bank untuk perbesar bisnis?

Saya mengikuti proses akuisisi ANZ satu setengah tahun. Sebagian troops kami tidak ngapa-ngapain, tapi mengurusi akuisisi karena sangat njelimet dan detail. Dalam beberapa bulan terakhir, setiap dua kali weekend mesti datang ke kantor. Prosesnya bisa 48 jam nonstop untuk integrasi, melelahkan dan memakan waktu.

Sekarang sudah terintegrasi, tapi jangan pikir sudah selesai, masih banyak yang perlu dibereskan. Proses integrasi, maximize the profitability, dan efisiensi, membutuhkan banyak tenaga dan waktu. Kalau sekarang mulai memikirkan beli bank lagi, beberapa tahun lagi bakal terbuang. Jadi, jawabannya, belum dulu. DBS Group Holding menduduki daftar teratas di antara 10 Bank dengan Kapitalisasi Terbesar di Asia Tenggara (12 Mar 2018).]Sumber:katadata

Editor: THAYEB LOH ANGEN


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.