26 June 2019

Kabar Aceh Untuk Dunia


BI Lhokseumawe Sampaikan Perkembangan Inflasi Indeks Harga Konsumen

...

  • portalsatu.com
  • 14 June 2019 14:35 WIB

Foto: istimewa
Foto: istimewa

LHOKSEUMAWE - Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Lhokseumawe, Yufrizal, menyampaikan kondisi terkini perkembangan Inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) Kota Lhokseumawe pada Mei 2019, terkendali sesuai target. Pada Mei 2019, Kota Lhokseumawe tercatat mengalami inflasi sebesar 0,86% (mtm), lebih tinggi dibandingkan inflasi April 2019 sebesar 0,64% (mtm) dan Mei 2018 sebesar 0,69% (mtm).

Menurut Yufrizal, inflasi tersebut lebih rendah dibandingkan dua kota lainnya yang menjadi lokasi penghitungan inflasi di Aceh yaitu, Banda Aceh sebesar 1,48% (mtm) dan Meulaboh sebesar 1,33% (mtm). Secara agregat, inflasi Provinsi Aceh pada Mei 2019 sebesar 1,27% (mtm), lebih tinggi dari inflasi nasional yang tercatat sebesar 0,68% (mtm). Berdasarkan perkembangan tersebut, inflasi tahunan Kota Lhokseumawe pada periode Mei 2019 sebesar 2,78% (yoy).

"Inflasi Kota Lhokseumawe bulan Mei 2019 terutama bersumber dari komponen bergejolak (Volatile Food) dan komponen inti yang memberikan andil inflasi masing-masing sebesar 0,46% dan 0,42%. Sementara komponen harga yang diatur pemerintah (Administered Price) mengalami deflasi tipis dengan andil sebesar (-) 0,02%. Untuk komponen Volatile Foods pada bulan Mei 2019 mengalami inflasi sebesar 1,71% (mtm), sedikit lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 1,74% (mtm). Lima komoditas yang memberikan andil inflasi terbesar yaitu daging ayam ras (0,11%), teri (0,09%), cabai merah (0,08%), cumi-cumi (0,07%) dan pisang (0,07%)," kata Yufrizal, Jumat, 14 Juni 2019.

Sementara itu, lanjut Yufrizal, komoditas yang memberikan andil deflasi adalah tongkol/ambu-ambu (-0,32%), udang basah (-0,11%), bandeng/bolu (-0,03%), angkutan udara (-0,02%), tomat sayur (-0,02%). Inflasi daging ayam ras disebabkan tingginya permintaan antara lain untuk kebutuhan kuliner dan rumah tangga selama Ramadhan, permintaan yang tinggi juga terjadi pada komoditas buah-buahan di antaranya pisang, jeruk, dan pepaya. Selain itu, berakhirnya panen pada sentra produksi di tengah kebutuhan yang tetap tinggi, mendorong kenaikan harga cabai merah. 

"Untuk harga komoditas ikan laut khususnya tongkol dan udang mengalami penurunan sejalan dengan kembali normalnya aktivitas melaut nelayan setelah sempat jeda untuk melakukan tradisi Meugang dan kondisi cuaca yang lebih baik. Penurunan harga ikan tongkol kemudian mengerek turun komoditas ikan tawar khususnya bandeng yang bersifat substitusi terhadap ikan laut. Secara tahunan, inflasi komponen Volatile Foods tercatat mengalami inflasi sebesar 2,63% (yoy)," ujar Yufrizal.

Yufrizal menambahkan, komponen barang/jasa yang diatur oleh pemerintah (Administered Prices) tercatat mengalami deflasi sebesar (-) 0,16% (mtm), lebih dalam dibandingkan bulan sebelumnya sebesar -0,05% (mtm). Sedangkan deflasi AP pada bulan Mei 2019 terutama bersumber dari penurunan tarif angkutan udara sejalan dengan kebijakan pemerintah yang menurunkan tarif batas atas tarif tersebut, secara tahunan bahwa komponen Administered Prices mencatat inflasi sebesar 4,74% (yoy).

Kemudian, kata Yufrizal, komponen inti bulan Mei 2019 mengalami inflasi sebesar 0,74% (mtm), lebih tinggi dari bulan sebelumnya sebesar 0,32% (mtm). Komoditas yang memberikan andil inflasi terbesar antara lain baju kaos berkerah (0,05%) dan celana panjang jeans (0,05%) sejalan dengan meningkatnya permintaan masyarakat untuk pakaian baru menjelang hari raya Idul Fitri 1440 Hijriah, dan secara tahunan inflasi inti mencapai 2,25% (yoy). 

"Bank Indonesia (BI), pemerintah kota beserta seluruh pihak yang tergabung dalam Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Kota Lhokseumawe mengucapkan terima kasih dan apresiasi kepada para pedagang yang telah berniaga dengan baik dan masyarakat yang telah turut menjaga tingkat inflasi dengan berbelanja dan konsumsi secara bijak pada periode menjelang dan selama Ramadhan tahun 2019, sehingga tingkat inflasi tetap terkendali. Hal ini tentu diharapkan terus berlanjut dan menjadi budaya di tengah masyarakat," ungkapnya.

Lanjut Yufrizal, ke depan inflasi akan tetap dijaga sehingga berada pada sasaran inflasi 2019, yaitu 3,5±1%. Untuk itu, koordinasi antara pemerintah, Bank Indonesia dan lembaga terkait yang tergabung dalam Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) terus diperkuat dalam menghadapi sejumlah risiko yang dapat mendorong kenaikan harga.[](rilis)

Editor: portalsatu.com

Berita Terkait


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.