26 March 2019

Kabar Aceh Untuk Dunia


'BPMA, Bek Lage Buya Tambue'

...

  • MUDIN PASE
  • 12 January 2019 12:30 WIB

Kantor BPMA di Banda Aceh. Foto: dok. portalsatu.com/Fazil
Kantor BPMA di Banda Aceh. Foto: dok. portalsatu.com/Fazil

BANDA ACEH - Direktur Utama PD Pase Energi, Terpiadi A. Majid, mendukung kewenangan Badan Pengelola Migas Aceh (BPMA). Menurutnya, sebagai implementasi kekhususan Aceh, BPMA harus didukung.

"Kita beri mereka kesempatan berjuang untuk memaksimalkan semua potensi Migas Aceh," ucap Terpiadi dihubungi via telepon seluler, dua hari lalu.

Terpiadi berharap BPMA punya mental pejuang. Sebab investasi bidang migas rumit dan banyak godaan. Tanpa mental pejuang sangat mungkin mereka salah langkah. "Mereka harus belajar pada unit usaha Aceh yang lain, belajar tentang kegagalan BPKS atau PDPA," ujarnya.

Selaku putra daerah yang pernah bekerja di bidang migas, Terpiadi sangat ingin melihat BPMA sukses. "Maka saya minta BPMA 'bek lage buya tambue, ek peureubah han ek hue'," tegas Terpiadi bertamsil.

Artinya, semua kewenangan yang dimiliki wajib dijalankan secara maksimal. Terutama sistem bagi hasil dengan Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS). "Saya minta BPMA jangan menggunakan pola gross split karena merugikan Aceh, sebaiknya cost recovery yang lebih memastikan peran BPMA dalam memaksimalkan pendapatan Migas Aceh," pinta mantan Ketua KNPI Aceh Utara ini.

Bidang Humas dan Kelembagaan BPMA, Achyar Rasyidi, meminta masyarakat percaya kepada BMPA. "Kami selalu ingin membuktikan bahwa amanah ini pantas kami emban," tegas dia.

Dia menyebutkan, walaupun BPMA baru saja beroperasi, pihaknya telah aktif berperan dalam industri Migas Aceh. Beberapa kegiatan itu ialah transfer tata kelola Migas Aceh dilakukan secara bertahap dari SKK Migas kepada BPMA dalam tahun ini. Berdasarkan PP 23 Tahun 2015, BPMA berwenang sebagai pengatur tata kelola industri migas di darat Aceh hingga 12 mil laut di lepas pantai (off shore).

Pada pergantian tahun 2018 ke 2019, tepatnya 30-31 Desember 2018 lalu, BPMA sukses melakukan lifting perdana yang dilaksanakan tiga personel lifting BPMA yang telah bersertifikat. Lifting perdana ini berupa kondensat Medco E&P Malaka di Terminal Arun.

Medco E&P Malaka telah menyelesaikan 10 pengeboran dengan rincian 6 sumur non-HPHT (High Pressure High Temperature) dan 4 sumur HPHT. Salah satunya adalah AR-1A delineation well (sumur pengembangan) merupakan sumur gas terakhir yang dibor secara vertikal sampai pada kedalaman 10,023 feet.

Pekerjaan konstruksi CPP KKKS Medco E&P Malaka sudah mencapai 98 persen dan akan melaksanakan Performance Test Facility pada Januari 2019 ini untuk mencapai Full Capacity Plan hingga 63 mmscfd.

"Walau kami baru bekerja, yakinlah kami maksimal. Kami akan terus membuka komunikasi dengan semua pihak demi suksesnya BPMA," ujar Achyar.[]

Editor: portalsatu.com

Berita Terkait


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.