26 February 2020

Kabar Aceh Untuk Dunia


Dewan Minta Data Ulang Sawah, Ini Rinciannya dari Kadistan

...

  • PORTALSATU
  • 09 January 2020 21:00 WIB

Azhar, Kadistan Aceh Besar. Foto istimewa/dok
Azhar, Kadistan Aceh Besar. Foto istimewa/dok

JANTHO - Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) Aceh Besar mendesak Dinas Pertanian dan Perkebunan untuk mendata ulang luas sawah teraliri irigasi maupun tadah hujan. 

Ketua Komisi II DPRK Aceh Besar, Mursalin, menyebutkan kondisi sebagian petani di kabupaten ini memprihantikan. Pasalnya, sejumlah kawasan belum memiliki jaringan irigasi, sehingga petani terpaksa menggarap sawah pada musim tadah hujan.

“Di Aceh Besar banyak sawah yang belum teraliri jaringan irigasi. Tentu ini masalah besar yang harus diselesaikan,” kata Mursalin saat ditemui di Banda Aceh, Kamis, 9 Januari 2020.

Menurut Mursalin, pihak dinas terkait belum melaporkan lokasi atau daerah yang memiliki jaringan irigasi maupun tadah hujan, termasuk luas sawah yang berfungsi dan sebaliknya. ”Dinas harus melaporkan kondisi yang terjadi di lapangan supaya nanti dewan dapat membahasnya,” ujar dia.

Menurut dia, Pemerintah Aceh Besar harus mencari solusi terkait masih banyak sawah belum dapat digarap secara maksimal. Termasuk mengusulkan sarana dan prasarana kebutuhan petani untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi melalui bidang pertanian. “Seperti adanya usulan pembangunan embung, pompanisasi dan beberapa hal lain, sehingga nanti dapat dibahas bersama,” tutur Mursalin.

Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Aceh Besar, Dr. Ir. Azhar, M.Sc., mengakui belum menyerahkan data luas sawah yang teraliri irigasi maupun tadah hujan.

“Memang belum saya serahkan data itu, nanti akan saya serahkan, juga saya laporkan ke Komisi II,” kata Azhar saat dikonfirmasi melalui telepon seluler, Kamis.  

Azhar menjelaskan, luas sawah di Kabupaten Aceh Besar tahun 2019 adalah 29.710 hektare (ha). Dikelompokkan kepada lahan irigasi dan lahan tadah hujan. Luas sawah beririgasi 20.092 ha dengan perincian perkecamatan Lhoong (752 ha), Lhoknga (0 ha), Leupung (89 ha), Indrapuri (2.235 ha), Kuta Cot Glie (790 ha), Seulimuem (3.020 ha), Kota Jantho (449 ha), Lembah Seulawah (822 ha), Mesjid Raya (0 Ha), Darussalam (622 ha), Baitussalam (0 ha), Kuta Baro (2.013), Montasik (3.183 ha), Blang Bintang (1.595 ha), Ingin Jaya (1.574 ha), Krueng Barona Jaya (185 ha), Suka Makmur (1.451 Ha), Kuta Malaka (525 Ha), Simpang Tiga (617 Ha), Darul Imarah (0 ha), Darul Kamal (170 Ha), Peukan Bada dan Pulo Aceh masing-masing (0 Ha).

“Dari 23 kecamatan di Aceh Besar terdapat enam kecamatan yang tidak memiliki sawah beririgasi yaitu Kecamatan Lhoknga, Mesjid Raya, Baitussalam, Darul Imarah, Peukan Bada dan Pulo Aceh. Di kecamatan tersebut hanya dapat ditanami padi sekali dalam setahun (musim tanam gadu). Khusus untuk lahan sawah beririgasi pada tahun 2019 telah diuji coba penanaman tiga kali dalam setahun (IP 300) dengan lokasi percontohan di Indrapuri dan Kuta Malaka,” papar Azhar.

Sementara luas sawah tadah hujan 9.308 ha dengan rincian perkecamatan: Lhoong (42 ha), Lhoknga (852 ha), Leupung (55 ha), Indrapuri (840), Kuta Cot Glie (2.035 ha), Seulimuem (632 ha), Kota Jantho (787 ha), Lembah Seulawah (120 ha), Mesjid Raya (30 ha), Darussalam (454 ha), Baitussalam (148 ha), Kuta Baro (145 ha), Montasik (70 ha), Blang Bintang (267 ha), Ingin Jaya (220 ha), Krueng Barona Jaya (0 ha), Suka Makmur (196 ha), Kuta Malaka (117 ha), Simpang Tiga (210 ha), Darul Imarah (665 ha), Darul Kamal (428 ha), Peukan Bada (650 ha), Pulo Aceh (345 ha).

“Dari luas lahan tadah hujan 9.308 hektare sesuai dengan rekomendasi Dinas PUPR melalui rapat turun ke sawah yang digelar setiap musim tanam, maka untuk musim kemarau atau MT Gadu 2019, telah dipetakan kecamatan yang bisa ditanami dan tidak bisa ditanami padi sawah,” ujar Azhar.

Adapun luas sawah yang dapat dialiri irigasi Krueng Aceh dan Krueng Jrue seluas 5.278 ha. Sesuai rekomendasi Dinas PUPR untuk kecamatan yang tidak cukup air, kata Azhar, pemerintah melalui Dinas Pertanian telah menganjurkan petani melakukan penanaman alternatif seperti jagung dan kedelai.

"Terkait anomali iklim sebagaimana dirasakan petani, Dinas Pertanian mengajak kita semua untuk shalat minta hujan agar Allah SWT menurunkan hujan untuk mengantisipasi kekeringan yang pada gilirannya menyebabkan gagal panen," ucapnya. 

"Selain itu, kami juga mengajak petani untuk ikut serta dalam program Asuransi Usaha Tani Sawah (AUTP), Asuransi Usaha Tani Padi Sawah (AUTP),” pungkas Azhar.[]

Penulis: Khairul Anwar

Editor: portalsatu.com

Berita Terkait


Alamat:

Jalan Prof. Ali Hasjmy, No. 6, Desa Lamteh, Ulee Kareng, Kota Banda Aceh. Kode Pos: 23118.

portalsatu.com © 2020 All Rights Reserved.