24 August 2019

Kabar Aceh Untuk Dunia


Di Subulussalam, "Pangkat" Jadi Hidangan Berbuka Puasa

...

  • SUDIRMAN
  • 30 May 2017 16:00 WIB

@Sudirman/portalsatu.com
@Sudirman/portalsatu.com

SUBULUSSALAM - Mendengar kata "pangkat" sebagai menu berbuka puasa mungkin terasa aneh. Pangkat kok dimakan?

Pertanyaan ini muncul seketika mendengar hal yang tidak lazim. Karena masyarakat umum hanya tahu, pangkat adalah bagian dari atribut atau emblem tanda kepangkatan sebagaimana dikenal di dunia militer, kepolisian atau birokrat. Sehingga tidak wajar atribut menjadi hindangan berbuka puasa Ramadan.

Namun Anda jangan terkecoh, pangkat dalam terminologi masyarakat Subulussalam dan Aceh Singkil adalah nama lokal untuk penyebutan pucuk atau umbut batang rotan (myrialepis paradoxa). Nah, umbut rotan ini banyak ditemukan di hutan sekitar wilayah Subulussalam dan Aceh Singkil. Umbut rotan yang masih segar-segar ini diolah menjadi anyang (sejenis urap) atau gulai pangkat.

Setiap menjelang Ramadan, pangkat ini mudah ditemukan di pasar trandisonal. Bahkan setiap hari Minggu, pedagang selalu menjajakan pangkat di pasar per batang (sekitar 1,5 meter) dijual dengan harga Rp5 ribu.

"Supaya enak dalam gulai pangkat biasanya campur ikan lele sale atau ikan asin juga enak," kata Sakiyah, 40 tahun warga Subulussalam kepada portalsatu.com, Selasa, 30 Mei 2017.

Sakiyah menyebutkan, anyang atau gulai pangkat merupakan salah satu makanan tradisional yang sangat digemari masyarakat Subulussalam dan sekitarnya, terutama saat bulan puasa, masyarakat membutuhkan sajian makan yang menggugah selera makan.

"Kadang kalau terus-terusan ikan laut, gulai, goreng bosan juga, kurang selera makan. Tapi kalau pangkat ndak bosan karena enak," kata pedagang sayur ini.

Ia mengatakan, tidak semua rotan pucuknya bisa dikonsumsi. Jenis pucuk rotan yang layak dimakan hanya tanaman rotan getah mirip bambu-bambuan biasanya tumbuh di pinggir-pinggir sungai.

"Harus bisa dibedakan rotan biasa dengan pangkat yang layak dimakan itu pucuk rotan tamanan getah biasa banyak di tepi sungai. Tapi sekarang ngapain cari ke hutan, di pasar tradisional banyak," katanya.

Mahajir Manik, 39 tahun, menambahkan, penganan dari pucuk rotan ini pun ada dua jenis, yakni pangkat dan simboling. Pangkat berkuran lebih besar (3-5 cm), berwarna merah kekuning-kuningan, rasanya tidak pahit, tidak pula kelat.

"Kalau simboling bewarna hijau muda, ukuran lebih kecil, rasanya lebih asam dari pangkat, terasa kelat, campur pahit seperti daun pepaya," katanya.

Nah, rasa pahit yang terdapat di makanan berbahan baku pangkat atau simboling ini justru dipercaya dapat merangsang nafsu makan seseorang, terutama saat bulan Ramadan. Sehingga makanan khas ini banyak digemari warga dan menjadi menu utama penganan berbuka puasa. Anda berminat? Silakan coba![]

Editor: IRMANSYAH D GUCI

Berita Terkait


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.