13 November 2018

Kabar Aceh Untuk Dunia


Ini Data BPS Aceh Soal Perkembangan Harga Komoditas Hingga Jumlah Wisman

...

  • Jamaluddin
  • 02 November 2018 11:30 WIB

BPS Aceh gelar jumpa pers, 1 Novomber 2018. @Jamaluddin/portalsatu.com
BPS Aceh gelar jumpa pers, 1 Novomber 2018. @Jamaluddin/portalsatu.com

BANDA ACEH - Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Aceh, Wahyudin, M.M., menyampaikan perkembangan indeks harga konsumen yang mengalami peningkatan pada Oktober 2018 terjadi di beberapa komoditas.

Di antaranya, udang basah mengalami inflasi 0,1001 persen, jeruk 0,0821 persen, tomat sayur 0,0552 persen. Selain itu, angkutan dalam kota 0,0483 persen, besi beton 0,0426 persen, dan bensin  0,0415 persen.

"Komoditas yang mengalami penurunan harga adalah ikan tongkol dengan deflasi sebesar 0,1040 persen, daging ayam ras 0,0465 persen, bawang merah 0,0444 persen, dencis 0,0242 persen, jeruk nipis atau limau 0,0191 persen, dan ayam hidup mengalami deflasi 0,0183 persen," kata Wahyudin saat jumpa pers di Aula BPS Aceh, Kamis, 1 Novomber 2018.

Sementara itu, nilai tukar petani (NTP) berdasarkan pantauan harga-harga di beberapa daerah di Aceh, dihasilkan NTP sebesar 94,39 atau mengalami penurunan indeks 0,44 persen. Hal ini disebabkan indeks yang diterima petani (IT) meningkat sebesar 0,05 persen, sedangkan indeks yang dibayar petani (IB) meningkat sebesar  0,05 persen.

Harga gabah kualitas GKP di tingkat petani meningkat sebesar 0,53 persen atau senilai Rp26,27 menjadi 5.012,50 rupiah perkilogram. Demikian juga di tingkat penggilingan meningkat sebesar 0,28 persen atau Rp14,43 menjadi 5.500 rupiah perkilogram. Peningkatan harga ini disebabkan berakhirnya masa panen raya sehingga stok habis.

Sementara di bidang ekspor-impor melalui pelabuhan pada September 2018, mengalami penurunan jika dibandingkan dengan Agustus. Nilai ekspor Aceh sebesar 12.545.169 USD, atau mengalami penurunan sebesar 10,69 persen. "Total nilai persentase komoditi (komoditas) asal Aceh yang diekspor melalui propinsi lain pada September 2018 sebesar 36,74 persen terhadap total ekspor komoditi asal Aceh yang sebesar 19.832.096 USD," kata Wahyudin.

Di bidang transportasi dilaporkan mengalami penurunan sebesar 5,35 persen berdasarkan data September 2018. Jumlah penumpang yang tercatat di Bandara Sultan Iskandar Muda (SIM) mencapai 101.978 orang, dan jumlah totalnya di seluruh Aceh pada September 2018 mencapai 117.029 orang,  mengalami penurunan jika dibandingkan dengan Agustus.

Sedangkan penumpang mancanegara yang berangkat dari Aceh melalui Bandara SIM pada September 2018 sebanyak 7.723 orang. Jika dibandingkan pada Agustus telah mengalami penurunan sebanyak 36,07 persen. Sedangkan yang masuk melalui Bandara SIM pada September tercatat 11.347 orang. Jika dibandingkan pada Agustus telah mengalami peningkatan sebesar 21,00 persen.

Jumlah wisatawan mancanegara (wisman) yang datang ke Aceh, masuk melalui pintu kedatangan pada September sebanyak 3.078 orang, menurun sebesar 0,32 persen dibandingkan bulan Agustus.

"Secara kumulatif terhitung dari Januari-September 2018 sebanyak 25.962 orang pengunjung, telah mengalami peningkatan sebesar 12,48 persen dibandingkan tahun 2017," kata Wahyudin.

Sementara di bidang industri manufaktur besar dan sedang di Aceh pada triwulan III tahun 2018 memperlihatkan pertumbuhan negatif dibandingkan produksi triwulan II tahun 2018, yaitu sebesar -5,15 persen (q to q).

Produksi industri manufaktur besar dan sedang di Aceh jika dibandingkan tahun 2017 year on year, justru mengalami kenaikan produksi yang cukup besar yaitu 48,51 persen. Pertumbuhan ini terlihat pada kelompok industri barang galian bukan logam.

"Juga di industri tembakau pun telah mengalami penurunan produksi sebesar -23,38 persen jika dibandingkan hasil pendataan pada triwulan II tahun 2018. Dan ini disusul dengan industri bahan kimia dan barang dari bahan kimia dengan pertumbuhan negatif-11,80 (q to q)," kata Wahyudin.

Peningkatan produksi terjadi di bidang kendaraan bermotor, trailer dan semi trailer pada triwulan III 2018 sebesar 13,21 persen. Industri farmasi, produk obat kimia dan obat tradisional sebesar 13,21 persen. Sedangkan industri galian bukan logam sebesar 6,81 persen.[]
 

Editor: portalsatu.com

Berita Terkait


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.