01 June 2020

Kabar Aceh Untuk Dunia


Investor Hengkang dari KIA, Anggota DPRA Minta Plt. Gubernur Aceh Copot Dirut PT PEMA 

...

  • PORTALSATU
  • 17 May 2020 22:22 WIB

Mukhtar Daud (Geusyik Tar). Foto: istimewa
Mukhtar Daud (Geusyik Tar). Foto: istimewa

BANDA ACEH - Anggota Komisi III Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA), Muktar Daud alias Geusyik Tar, mendesak Plt. Gubernur Aceh mencopot jabatan Direktur PT Pembangunan Aceh (PEMA). Pasalnya, PT PEMA dinilai gagal mengembangkan Kawasan Industri Aceh (KIA) di Ladong, Aceh Besar. 

Geusyik Tar menyampaikan itu menyikapi hengkangnya  PT Trans Continent yang sebelumnya berencana membangun Pusat Logistik Berikat di KIA. Dia menyebut investor itu angkat kaki dari KIA lantaran sampai saat ini PT PEMA tidak memiliki komitmen yang konkret. Padahal, Plt. Gubernur Aceh Nova Iriansyah, sudah melakukan groundbreaking Pusat Logistik Berikat milik PT Trans Continent di KIA itu pada pengujung Agustus 2019 lalu.

"Sangat memprihatinkan, kenapa PT Trans Continent tidak bertahan. Plt. Gubernur Aceh tak boleh diam, harus mengevaluasi dan mengambil sikap tegas mencopot Dirut PT PEMA," tegas Geusyik Tar kepada portalsatu.com di Banda Aceh, Ahad, 17 Mei 2020.

Geusyik Tar menambahkan, selama ini Pemerintah Aceh berupaya mengundang investor untuk berinvestasi di Aceh. "Ternyata setelah ada perusahaan hendak berinvestasi malah kabur, karena Pemerintah Aceh melalui PT PEMA tak serius mengembangkan KIA di Ladong," ujarnya.

Melansir detik.com, PT Trans Continent yang berencana membangun Pusat Logistik Berikat di KIA, Ladong, Aceh Besar, menarik alat kerjanya. Hengkangnya investor pertama ini akibat belum adanya kepastian hukum. 

"Kepastian hukum tentang sewa menyewa lahan dan tata kelola antara PT Pembangunan Aceh (PEMA) dengan kami hingga sekarang sudah sembilan bulan belum ada," kata CEO PT Trans Continent, Ismail Rasyid, Ahad, 17 Mei 2020.

Menurut Ismail, permasalahan lain yang dialami pihaknya yaitu belum adanya basic infrastruktur di KIA Ladong, seperti standar minimum kawasan industri. Dia menilai di lokasi tersebut juga sama sekali belum ada seperti yang dijanjikan PEMA. "(Kita) sudah beberapa kali (membahas masalah ini dengan Pemerintah Aceh)," jelas putra Aceh tersebut.

Ismail menjelaskan, infrastruktur di KIA Ladong menjadi tanggung jawab PT PEMA. Sedangkan pihaknya selaku investor membangun fasilitas pendukung untuk membuat Pusat Logistik Berikat (PLB).

Setelah groundbreaking pada Sabtu, 31 Agustus 2019 lalu, kata Ismail, PT Trans Continent sudah memasukkan alat berat ke KIA Ladong seperti excavator, crane, forklift, genset, container dan personel operator dari Regional Hub Trans Continent di Tanjung Morawa Sumatera Utara. Selain itu, juga ada ada alat impor langsung yakni Reach Stacker seharga Rp 6 miliar.

Akibat belum adanya kepastian hukum tersebut, Ismail mengaku belum dapat melanjutkan pembangunan. Dia mengaku mengalami kerugian ratusan juta rupiah perbulannya. "Karena belum ada kepastian tentang perjanjian tata kelola lahan tersebut maka akan menganggur alat-alat kerja yang sudah kami invest. Cicilan bulanan harus tetap bayar, maintenance, depresiasi, begitu juga karyawan ikut nganggur tidak kerja tapi gaji tetap dibayar. Rata-rata (kerugian) Rp 600 juta per bulan," ungkap Ismail.

Pusat Logistik Berikat milik PT Trans Continent dibangun di KIA, Ladong, dengan rencana investasi tahap awal perusahaan itu Rp5 miliar. "Tahap awal saya kira ini seperti komitmen saya dulu sudah Rp5 miliar dan kita akan lakukan secara bertahap, bertahap, bertahap hingga kita menyesuaikan sesuai perkembangan," kata Ismail Rasyid usai groundbreaking, Sabtu, 31 Agustus 2019.

Menurut Ismail, lahan yang dipakai untuk membangun Pusat Logistik Berikat yaitu milik Pemerintah Aceh yang dikelola PT PEMA. Ismail menjadi investor pertama yang berinvestasi di kawasan yang dikhususkan untuk industri tersebut.

Plt. Gubernur Aceh, Nova Iriansyah, saat groundbreaking mengatakan kehadiran pusat logistik berikat ini nantinya akan sangat bermanfaat bagi aktivitas usaha di Aceh. Dengan adanya pusat logistik, perusahaan manufaktur di dalam negeri tidak perlu lagi impor bahan baku, barang modal, atau bahan penolong, karena semua tersedia di sini.

"Dengan semua peran itu, dapat dipastikan bahwa kehadiran pusat logistik ini akan sangat penting untuk mendukung pergerakan ekonomi di daerah kita," Nova saat itu.[](Khairul Anwar/detik.com)

Editor: portalsatu.com

Berita Terkait


Alamat:

Jalan Prof. Ali Hasjmy, No. 6, Desa Lamteh, Ulee Kareng, Kota Banda Aceh. Kode Pos: 23118.

portalsatu.com © 2020 All Rights Reserved.