12 August 2020

Kabar Aceh Untuk Dunia


Pedagang Pasar Inpres: Lon Lakee Meuah, Bek Neumee Awak Kamoe u Pasar Induk

...

  • PORTALSATU
  • 10 July 2020 23:00 WIB

Ibrahim S (memakai peci haji) dan istrinya, Nurhayati (jilbab merah) membersihkan lapak mereka setelah kebakaran di Pasar Inpres Lhokseumawe, Jumat, 10 Jui 2020. Foto: portalsatu.com
Ibrahim S (memakai peci haji) dan istrinya, Nurhayati (jilbab merah) membersihkan lapak mereka setelah kebakaran di Pasar Inpres Lhokseumawe, Jumat, 10 Jui 2020. Foto: portalsatu.com

Ibrahim S., tampak memegang sebatang bambu untuk mengumpulkan seng bekas kebakaran bangunan Pasar Sayur di Kompleks Pasar Inpres Lhokseumawe, Jumat, 10 Juli 2020, sore. Istri Ibrahim, Nurhayati, menggunakan sapu lidi menyapu bekas lapak yang sudah menjadi arang.

Lapak milik pasangan suami istri itu ludes terbakar bersama tempat usaha ratusan pedagang lainnya di Kompleks Pasar Inpres, Jalan Listrik, Gampong Tumpok Teungoh, Kecamatan Banda Sakti, Lhokseumawe, Kamis, 9 Juli, dinihari.

Pemerintah Kota Lhokseumawe berencana merelokasi ratusan pedagang itu ke Pasar Induk di Gampong Ujong Blang, Kecamatan Banda Sakti. “Kalau nantinya para pedagang yang mengalami musibah ini mau direlokasi ke Pasar Induk, kita akan relokasi,” kata Suaidi Yahya menjawab wartawan saat ia bersama Wakil Wali Kota Yusuf Muhammad, Kapolres Lhokseumawe AKBP Eko Hartanto dan Dandim 0103/Aceh Utara Letkol Inf Agung Sukoco, meninjau lokasi kebakaran pasar itu, Kamis siang.

Menurut Suaidi Yahya, jika para pedagang itu menolak dipindahkan ke Pasar Induk, Pemko Lhokseumawe akan mengambil langkah lain yang nantinya akan dibahas terlebih dahulu. “Kalau masyarakat (pedagang) tidak mau direlokasi, ya, ada sikap lain, kami duduk dulu nantinya,” ujar dia. (Baca: Pasar Inpres Terbakar, Wali Kota: Kalau Pedagang Mau akan Direlokasi ke Pasar Induk)

Ibrahim dan Nurhayati menolak rencana Pemko Lhokseumawe itu. Begitu pula para pedagang lainnya yang mengalami kebakaran di Pasar Inpres. Mereka memilih tetap berjualan di Pasar Inpres. Itulah sebabnya, sebagian pedagang membersihkan bekas kebakaran. Bahkan, Ibrahim-Nurhayati dan beberapa pedagang lainnya sudah membuat lapak darurat.

“Besok (Sabtu) pagi, kami mulai berjualan lagi di sini. Jual bawang, tomat dan cabai eceran,” ujar Nuhayati diamini Ibrahim dan seorang pedagang lainnya, Nurlaili.

Nurhayati mengaku ia bersama suaminya sudah berjualan di Pasar Inpres sejak tahun 1994 silam. Saban hari usai Subuh, ia dan suaminya jalan kaki dari rumah mereka di Kampung Jawa Baru, Kecamatan Banda Sakti, ke pasar pagi tersebut.

“Kami sudah tua. Suami saya 67 tahun, saya 54 tahun. Saya tidak bisa bawa honda. Biarkan kami cari rezeki di sini saja, jangan dipindahkan ke Pasar Induk. Kami takut di sana sepi pembeli. Kalau ke sana harus bayar ongkos becak pergi dan pulang mungkin sekitar Rp50 ribu. Jika barang tidak laku bagaimana nasib kami nanti,” tutur Nurhayati.

Nurhayati dan Ibrahim merasa khawatir kalau mereka dipindahkan ke Pasar Induk tidak lagi memperoleh penghasilan seperti di Pasar Inpres. “Kami takut kalau berjualan di sana tidak cukup belanja untuk kebutuan sehari-hari. Anak kami ada empat, butuh belanja dari pagi sampai sore Rp150 ribu. Kalau berjualan di sana, mungkin Rp50 ribu tidak dapat per hari, karena kami sudah lihat lokasinya,” timpal Ibrahim.

Makajih awak kamoe kon han meutem minah keudeh hai syara meutuah. Neu teulong peugah siat bak pemerintah bek dipinah kamoe, bah inoe kamoe. Lon lakee meuah siploh jaroe u ateuh, bek neumee awak kamoe keudeh u Pasar Induk (Makanya kami bukan tidak mau pindah ke sana. Tolong sampaikan kepada pemerintah jangan dipindahkan kami, biarkan kami di sini. Saya minta maaf dengan sepuluh jari tangan ke atas, jangan bawa kami ke Pasar Induk),” kata Nurhayati meratap.

Asnawati (60), pedagang sayur di Pasar Inpres, juga menolak dipindahkan ke Pasar Induk. Alasannya karena jauh dengan tempat tinggalnya di Gampong Tumpok Teungoh. “Saya tidak bisa bawa honda, naik becak tidak cukup uang kalau tidak laku sayuran di sana nanti. Saya tetap bertahan di sini, mulai besok berjualan lagi,” ujar Asnawati sambil membersihkan lapaknya.

Saat para pedagang itu sedang membersihkan puing-puing bekas kebakaran di Pasar Inpres, Jumat sore, Wali Kota Lhokseumawe, Suaidi Yahya, didampingi Danlanal Lhokseumawe, Letkol Laut (P) Muhammad Dimmy Oumry, Kapolres Lhokseumawe, AKBP Eko Hartanto, dan Dandim 0103/Aceh Utara Letkol Inf Agung Sukoco, menyerahkan secara simbolis bantuan masa panik untuk para pedagang yang lapaknya ludes terbakar. Penyerahan bantuan berupa sembako itu digelar di halaman Kantor Satpol PP dan WH yang berdampingan dengan Kompleks Pasar Inpres.

Bantuan secara simbolis diterima Muspika Banda Sakti untuk disalurkan kepada para pedagang korban kebakaran di Pasar Inpres. Namun, perwakilan pedagang tidak hadir saat penyerahan bantuan secara simbolis tersebut. “Nantinya pihak Muspika Banda Sakti menyerahkan bantuan masa panik ini kepada Haria Pasar. Lalu, Haria Pasar menyalurkan kepada para pedagang yang mengalami kebakaran di Pasar Inpres,” kata Kepala Dinas Sosial Lhokseumawe, Ridwan Jalil.

Wali Kota Suaidi Yahya mengatakan pihaknya akan menunggu hasil musyawarah Muspika Banda Sakti dengan perwakilan pedagang korban kebakaran di Pasar Inpres soal rencana relokasi ke Pasar Induk. “Itu kita tunggu keputusan dari Muspika Banda Sakti duduk dulu dengan perwakilan pedagang di Pasar Inpres yang musibah kebakaran itu, bagaimana hasil kesepakatan atau musyawarah mereka, nanti baru kita ambil sikap,” ujar Suaidi Yahya usai menyerahkan bantuan masa panik secara simbolis.

“Langkah selanjutnya, pasar itu tetap harus beroperasi. Nantinya kita akan bangun lagi, itukan aset pemerintah. Kalau kita bangun tidak bisa langsung, karena penganggaran kita per tahun dan membutuhkan cukup besar biaya, karena kita lihat yang terbakar itu cukup luas,” tutur Suaidi Yahya.[](red/*)

Editor: portalsatu.com

Berita Terkait


Alamat:

Jalan Prof. Ali Hasjmy, No. 6, Desa Lamteh, Ulee Kareng, Kota Banda Aceh. Kode Pos: 23118.

portalsatu.com © 2020 All Rights Reserved.