26 May 2019

Kabar Aceh Untuk Dunia


Pengusaha Kilang Lokal Jadi Penonton Musim Panen Raya Padi di Abdya

...

  • PORTALSATU
  • 22 October 2018 20:30 WIB

Petani merontokkan padi hasil panen di sawah di Kecamatan Tangan-Tangan, Aceh Barat Daya, 22 Oktober 2018. @portalsatu.com/Suprian
Petani merontokkan padi hasil panen di sawah di Kecamatan Tangan-Tangan, Aceh Barat Daya, 22 Oktober 2018. @portalsatu.com/Suprian

BLANGPIDIE - Pengusaha kilang padi di Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) jadi penonton pada musim panen kali ini. Pasalnya, gabah hasil panen di daerah itu kebanyakan diangkut ke Sumatera Utara oleh pedagang luar.

Salah seorang pengusaha Kilang Padi Laris di Desa Alue Manggota, Kecamatan Blangpidie, Lisman, dikomfirmasi portalsatu.com, Senin, 22 Oktober 2018, mengatakan, tidak sedikit pedagang dari Medan datang membeli gabah ke Abdya pada musim panen raya padi musim tanam (MT) gadu 2018.

“Saat ini pedagang luar bebas beli gabah pada petani Abdya. Rata-rata hasil panen diangkut dengan truk-truk ukuran besar ke Sumatera Utara. Sementara pengusaha kilang padi kecil-kecilan yang modalnya pas-pasan terpaksa menjadi penonton pada musim panen kali ini,” ujar Lisman.  

Lisman menyebutkan, petani di Abdya sepertinya lebih cenderung menjual gabah ke pedagang luar daerah ketimbang menjual untuk pengusaha lokal. Selain dibayar kontan, pedagang Medan juga membeli gabah dalam keadaan basah. 

“Pengusaha lokal tidak beli gabah basah, karena kilang padi kecil-kecilan tidak punya dryer (mesin pengering padi modern). Modal usaha juga pas-pasan. Beli gabah tidak bayar kontan, makanya petani memilih menjual hasil panen ke pedagang luar,” katanya.

Lisman berkata, jika pemerintah daerah terus menerus membiarkan hasil panen petani Abdya diangkut secara besar-besaran ke Sumatera Utara, maka ke depan dapat dipastikan banyak usaha kilang padi di pedesaan akan tutup.

“Kita berharap Pemkab Abdya membuat qanun (aturan) larangan angkut gabah ke luar daerah. Karena jika terus dibiarkan akan berdampak pada ketahanan pangan daerah. Ke depan harga beras tidak terkendali lagi di pasaran terutama ketika memasuki musim paceklik,” ujar Lisman.

Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan Abdya, Nasruddin, menyebutkan 10 ribu hektare lebih luas tanaman padi di kabupaten ini tersebar di sembilan kecamatan saat ini sedang memasuki musim panen. Yaitu, Kecamatan Lembah Sabil, Manggeng, Tangan-Tangan, Setia, Blangpidie, Susoh, Jumpa, Kuala Batee, dan Babahrot.[](Suprian)

Editor: portalsatu.com

Berita Terkait


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.