13 August 2020

Kabar Aceh Untuk Dunia


Retribusi Pelayanan Pasar Rendah, Ini Sejumlah Pasar ‘Disia-siakan’ di Lhokseumawe

...

  • PORTALSATU
  • 22 January 2020 16:30 WIB

ilustrasi. Foto: istimewa/net
ilustrasi. Foto: istimewa/net

LHOKSEUMAWE – Sebagian besar pendapatan Pemkot Lhokseumawe masih bergantung kepada anggaran transfer pemerintah pusat dan provinsi lantaran pendapatan asli daerah (PAD) sangat minim. Realisasi retribusi pelayanan pasar, misalnya, sampai tahun anggaran 2019 amat rendah, bahkan anjlok dari tahun sebelumnya. Padahal, hampir saban tahun pemerintah kota ini (pemkot) membangun pasar. Ironisnya, sejumlah bangunan pasar terkesan “disia-siakan” alias terbengkalai.

Dilihat portalsatu.com, beberapa hari lalu, dalam buku Laporan Keuangan Pemkot Lhokseumawe Tahun Anggaran 2018, disebutkan bahwa pemerintah kota ini harus meningkatkan PAD untuk mengurangi ketergantungan kepada dana perimbangan.

Realisasi PAD Pemkot Lhokseumawe Tahun Anggaran (TA) 2018 senilai Rp65,618 miliar lebih. Kontribusi PAD terhadap realisasi total pendapatan daerah ‘hanya’ 8,75 persen. Dengan demikian, ketergantungan keuangan pemkot ini kepada pemerintah pusat dan provinsi masih cukup besar, yaitu 91,25 persen.

Dari total PAD TA 2018 Rp65,618 miliar lebih itu, realisasi retribusi daerah Rp3,088 miliar dari target Rp4,428 miliar lebih. Sedangkan realisasi retribusi daerah TA 2017 Rp4,050 miliar. Artinya, realisasi pada tahun 2018 lebih rendah dari 2017.

Retribusi daerah TA 2018 itu berasal dari realisasi retribusi jasa umum Rp1,718 miliar lebih (57,47 persen dari target Rp2,991 miliar lebih), realisasi retribusi jasa usaha (pemakaian kekayaan daerah) Rp690,480 juta (93,31 persen dari target Rp740 juta), dan realisasi retribusi perizinan tertentu Rp679,478 juta (97,42 persen dari target Rp697,500 juta).

Dari lima jenis retribusi jasa umum, realisasinya belum ada yang mencapai target pada TA 2018. Realisasi retribusi pelayanan pasar, misalnya, yakni Rp477,390 juta (82,31 persen dari target Rp580 juta).

Masih minimnya retribusi jasa umum, retribusi jasa usaha, dan retribusi perizinan tertentu, membuat kontribusi retribusi daerah terhadap PAD TA 2018 ‘hanya’ 4,7 persen. Sedangkan terhadap keseluruhan pendapatan ‘cuma’ 0,41 persen, atau mengalami penurunan dari realisasi tahun sebelumnya (2017) sebesar 1,31 persen.

Sementara itu, data diperoleh portalsatu.com dari sumber di lingkungan Pemkot Lhokseumawe, 22 Januari 2020, realisasi retribusi pelayanan pasar TA 2019 ‘hanya’ Rp189,958 juta (32,75 persen dari target Rp580 juta). Data tersebut menunjukkan, realisasi pelayanan pasar TA 2019 jauh merosot dari 2018, meskipun targetnya sama, Rp580 juta.

Adapun realisasi retribusi pemakaian kekayaan daerah TA 2019 Rp660,830 juta (91,78 persen dari target Rp720 juta). Retribusi pemakaian kekayaan daerah itu berasal dari realisasi sewa los kios Rp450,830 juta (112,71 persen dari target Rp400 juta) dan realisasi retribusi pasar buah Rp210 juta (65,63 persen dari target Rp320 juta).

Dasar hukum retribusi pemakaian kekayaan daerah maupun retribusi pelayanan pasar adalah Qanun No. 14 Tahun 2012 yang sudah diubah dengan Qanun No. 4 Tahun 2016.

Wartawan portalsatu.com sudah berupaya untuk mengonfirmasi pejabat terkait di Badan Pengelolaan Keuangan Kota (BPKK) Lhokseumawe tentang data perincian realisasi PAD TA 2019. Namun, saat didatangi, pejabat bersangkutan tidak ada di kantornya, 22 Januari 2020.

Pasar ‘disia-siakan’

Hasil penelusuran portalsatu.com sementara ini, sejumlah bangunan pasar di Lhokseumawe terkesan “disia-siakan” alias terbengkalai lantaran belum difungsikan. Di antaranya, ‘pasar rakyat’ di Gampong Pusong, Jalan Pase Lhokseumawe, dibangun dengan APBN tahun 2016 senilai Rp6,6 miliar lebih. (Baca: Dibangun Dengan APBN Rp6,6 M, 'Pasar Rakyat Pusong' Lhokseumawe Terbengkalai)

Lalu, Pasar Induk Lhokseumawe di Jalan Lingkar Gampong Ujong Blang, Kecamatan Banda Sakti, sudah diresmikan pada November 2019 lalu, tetapi bangunan pasar lengkap dengan gudang dibangun menggunakan anggaran mencapai puluhan miliar tahun 2015-2018, sampai saat ini belum difungsikan. (Baca: Setelah Diresmikan, Pasar Induk Lhokseumawe Belum Difungsikan)

Selain itu, pasar sayur dan kios di Dusun Kuta Kareung, Gampong Meunasah Mesjid, Cunda, Kecamatan Muara Dua. Bagian atap bangunan pasar yang dibangun dengan dana Otsus tahun 2012 senilai Rp2 miliar lebih itu sempat hancur akibat dijarah orang tidak bertanggung jawab. Pemerintah kemudian merehabilitasi pasar tersebut dengan APBA tahun 2018. Namun, sampai sekarang pasar sayur dan kios itu juga belum difungsikan. (Baca: Pasar Sayur dan Kios Belum Difungsikan, Ini Kata Kadisperindagkop Lhokseumawe)

Catatan portalsatu.com, Pemkot Lhokseumawe hampir saban tahun membangun pasar, termasuk revitalisasi dan rehabilitasi. (Baca: Saban Tahun Bangun Pasar Tapi PAD Minim)[](fazil/nsy)

Lihat pula: Anggota DPRK Lhokseumawe Sorot Disperindagkop Soal Sejumlah Pasar Terbengkalai

Editor: portalsatu.com

Berita Terkait


Alamat:

Jalan Prof. Ali Hasjmy, No. 6, Desa Lamteh, Ulee Kareng, Kota Banda Aceh. Kode Pos: 23118.

portalsatu.com © 2020 All Rights Reserved.