15 August 2020

Kabar Aceh Untuk Dunia


Setelah Diresmikan, Pasar Induk Lhokseumawe Belum Difungsikan

...

  • Fazil
  • 21 January 2020 14:00 WIB

Ramli, Kepala Disperindagkop-UKM Lhokseumawe. Foto: Fazil/portalsatu.com
Ramli, Kepala Disperindagkop-UKM Lhokseumawe. Foto: Fazil/portalsatu.com

LHOKSEUMAWE - Pasar Induk Lhokseumawe di Jalan Lingkar Gampong Ujong Blang, Kecamatan Banda Sakti, sudah diresmikan pada November 2019 lalu. Akan tetapi, bangunan pasar lengkap dengan gudang dibangun dengan anggaran mencapai puluhan miliar tahun 2015-2018, sampai saat ini belum difungsikan.

Peresmian pasar induk itu dilakukan Wali Kota Suaidi Yahya bersamaan dengan pembukaan Pameran Kota Lhokseumawe, 11-17 November 2019.  Lantas, setelah dua bulan berlalu usai peresmian, mengapa pasar terpadu tersebut belum difungsikan sebagaimana dijanjikan?  

"Kita sudah melakukan komunikasi, dan pengelolaannya bahwa telah didiskusikan serta menemukan titik yang menentukanlah. Presentasinya sudah dilakukan beberapa waktu lalu dari pihak Perusahaan Daerah Pembangunan Lhokseumawe (PDPL) di kantor wali kota. PDPL mempresentasikan mengenai rencana mereka dengan aset-aset atau bangunan pasar induk itu apa yang ingin dibuat, dan bisnis apa yang mereka lakukan," ujar Kepala Disperindagkop-UKM Lhokseumawe, Ramli, kepada para wartawan, Senin, 20 Januari 2020.

Ramli mengakui harapan semua pihak pasar induk itu segera difungsikan. “Karena setelah peresmian tersebut masyarakat juga bertanya-tanya mengapa belum difungsikan, dan ini sedang persiapan konsep bagaimana bentuk kerja samanya antara pemerintah dengan PDPL”. 

"Mudah-mudahan dalam triwulan pertama ini sudah clear masalah agreement-nya. Kalau agreement sudah berjalan maka nanti sudah sah siapa pengelolanya," ucap Ramli.

Sebelumnya, dikonfirmasi portalsatu.com, 29 Oktober 2019, Ramli menyebutkan, "Intinya adalah bukan masalah peresmiannya saja, setelah peresmian apa yang bisa kita lakukan. Untuk tahap awal kita sudah membangun komunikasi dengan pihak-pihak pengusaha supaya bisa berjalan, minimal nanti setelah peresmian itu gudang-gudang atau bangunan pasar induk itu ada yang menggunakannya".

Artinya, menurut Ramli, diharapkan ada aktivitas secara perlahan di Pasar Induk Lhokseumawe itu setelah diresmikan. “Ada sarana berupa gudang tiga unit 16 x 32 meter. Jika ada pengusaha yang butuh gudang kapasitas besar maka itu bisa digunakan untuk menyimpan komoditas,” ujarnya. 

"Jadi, setelah dilakukan peresmian, kita akan melakukan MoU atau nota kesepahaman dengan mereka (pengusaha). Bagaimana mekanismenya ini juga sedang kita diskusikan sehingga tidak menjadi masalah hukum ke depan, karena itu akan menjadi retribusi atau pendapatan bagi daerah, maka regulasi-regulasinya yang perlu kita jaga," tutur Ramli. (Baca: Pasar Induk, Disperindagkop: Intinya Setelah Peresmian Apa yang Bisa Kita Lakukan)

 

(Bangunan kios di Kompleks Pasar Induk Lhokseumawe. Foto diambil 15 Oktober 2019/Fazil/portalsatu.com)

Wali Kota Lhokseumawe, Suaidi Yahya, saat menggelar konferensi pers, 4 November 2019, mengatakan setelah diresmikan pasar induk itu diharapkan natinya komoditas-komoditas di Lhokseumawe, Aceh Utara maupun daerah lainnya bisa ditampung di gudang pasar tersebut.

“Kita berharap pengusaha-pengusaha bisa menampung komoditas di Pasar Induk Lhokseumawe. Untuk sementara kita upayakan pasar induk ditangani Unit Pelaksana Teknis (UPT) di Disperindagkop sebelum nantinya dikelola dengan perusahaan daerah,” kata Suaidi  didamping Sekda Lhokseumawe, T. Adnan dan Asisten III Miswar.

Menurut Suaidi, setelah dilakukan peresmian Pasar Induk Lhokseumawe itu harus langsung difungsikan. Oleh karena itu, pemkot akan mengajak para pengusaha bidang komoditas untuk bisa bergabung dalam pasar terpadu tersebut.

 “Pasar Induk itu memiliki tiga gudang, dalam kompleks itu juga ada tempat pemasaran (Pasar Rakyat Ujong Blang dan Pasar Rakyat Terpadu). Artinya bisa dipasarkan juga, tetapi bukan seperti pasar tradisional yang kita lakukan, mungkin pedagang-pedagang tradisional itu bisa mengambil (komoditas) di pasar induk tersebut. Nanti semua keagenan kita arahkan ke pasar itu baik barang dari Berastagi maupun Takengon bisa berkumpul terlebih dahulu di lokasi Pasar Induk kita,” ujar Suaidi. (Baca: Soal Peresmian Pasar Induk dan Pameran Lhokseumawe, Ini Penjelasan Wali Kota)

Pantauan portalsatu.com, 15 Oktober 2019, di Kompleks Pasar Induk itu terdapat tiga “gudang komoditas” berdampingan dengan salah satu “gudang pendingin (cold storage)”. Selain itu, dua bangunan pasar yakni “Pasar Rakyat Ujong Blang”, dan “Pasar Rakyat Terpadu Kecamatan Banda Sakti, Lhokseumawe”.

Selain tiga gudang dan dua “pasar rakyat”, juga terdapat tempat bongkar muat barang yang berdiri tegak berwarna merah maron persis di samping “Pasar Rakyat Ujong Blang” dan “Pasar Rakyat Terpadu”.

Kedua pasar itu memiliki 30 “kios” yang kabarnya akan diperuntukkan kepada para pedagang. Di dalam lapak jualan “pasar rakyat” tersebut, sudah terpasang bola lampu serta fasilitas pendukung lainnya, seperti kamar mandi yang sudah siap dimanfaatkan. Namun, bangunan menghabiskan anggaran miliaran rupiah itu belum difungsikan.

 

(Lapak jualan di dalam Pasar Induk Lhokseumawe. Foto diambil 15 Oktober 2019/Fazil/portalsatu.com)

Data dilihat portalsatu.com pada laman resmi Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) Kota Lhokseumawe, paket pembangunan pasar induk itu ditenderkan sejak tahun anggaran 2015 hingga 2018. Anggaran proyek tersebut di bawah Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Disperindagkop-UKM) Lhokseumawe.

Tahun 2015, Pembangunan Pasar Induk Kota Lhokseumawe Tahap I dengan nilai pagu Rp2,75 miliar lebih dan HPS paket Rp2,75 miliar. Tahun 2016, Pembangunan Pasar Induk Kota Lhokseumawe Tahap II nilai pagu dan HPS paket Rp4,85 miliar lebih. Tahun 2017, Pembangunan Pasar Induk Kota Lhokseumawe Tahap III nilai pagu Rp2,5 miliar dan HPS paket Rp2,49 miliar lebih.

Tahun 2018, nama paketnya menjadi Biaya Jasa Konstruksi Fisik Pembangunan/Revitalisasi Pasar Rakyat Induk Terpadu Kec. Banda Sakti nilai pagu dan HPS paket Rp5,80 miliar lebih bersumber dari APBN. Selain itu, tahun 2018 juga ada paket Biaya Jasa Konstruksi Fisik Pembangunan/Revitalisasi Pasar Rakyat Ujong Blang nilai pagu dan HPS paket Rp5,68 miliar lebih, juga dari APBN.[](nsy)

Lihat pula: Dibangun Dengan APBN Rp6,6 M, 'Pasar Rakyat Pusong' Lhokseumawe Terbengkalai

Editor: portalsatu.com

Berita Terkait


Alamat:

Jalan Prof. Ali Hasjmy, No. 6, Desa Lamteh, Ulee Kareng, Kota Banda Aceh. Kode Pos: 23118.

portalsatu.com © 2020 All Rights Reserved.