18 September 2019

Kabar Aceh Untuk Dunia


Soal Kredit Produktif Bank Aceh, Tidak Ada atau Tak Mau?

...

  • MUDIN PASE
  • 04 February 2019 07:00 WIB

Fathurrahman Anwar. Foto: istimewa
Fathurrahman Anwar. Foto: istimewa

BANDA ACEH - Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unsyiah, Fathurrahman Anwar, S.E., MBA., mengaku tidak percaya jika Bank Aceh kesulitan menggaet nasabah kredit produktif. 

"Saya sulit percaya bahwa Bank Aceh kesulitan mendapatkan nasabah yang bergerak di sektor produktif. Sebaliknya yang terjadi kemungkinan besar, Bank Aceh tidak tertarik untuk membiayai sektor produktif," kritik dosen muda ini saat dimintai tanggapannya, Ahad, 3 Februari 2019, terkait persoalan rendahnya kredit produktif Bank Aceh.

Fathur menduga, itu terjadi karena Bank Aceh tidak mau menanggung risiko yang besar, walaupun margin keuntungan yang dapat diperoleh lebih tinggi. Dengan kondisi seperti ini, selain tidak dapat mengembangkan diri, Bank Aceh juga tak memenuhi kewajiban utamanya dalam upaya menggerakkan sektor riil.  

"Salah satu permasalahan utama Aceh saat ini adalah rendahnya perputaran uang. Sebagai gambaran alokasi dana APBN di Aceh tahun 2017 mencapai Rp46,7 triliun, namun PDRB Aceh pada tahun yang sama hanya berkisar Rp140 triliun. Itu artinya uang hanya berputar kurang dari tiga kali di Aceh," ungkap Fathur yang meraih MBA dari University of Arkansas, USA.

Menurut Fathur, seharusnya dengan jumlah uang masuk dari pemerintah sebesar itu ditambah dengan investasi dari sektor swasta, ekonomi Aceh mestinya minimal bisa tiga kali lipat dari kondisi saat ini.

"Sebagai pembanding Sumatera Utara yang memperoleh alokasi dana APBN sebesar Rp60,8 triliun  tahun 2017, mampu menghasilkan capaian PDRB sebesar Rp684 triliun atau lebih dari 10 kali jumlah suntikan dana pemerintah pusat," ujar pria yang pernah terlibat dalam program pengembangan agro bisnis peternakan itu.

Fathur menilai kondisi ini dipicu oleh tidak bergeraknya sektor produktif di Aceh. Hampir seluruh dana yang ada "bocor" keluar daerah dari aktivitas yang bersifat konsumtif. 

Dia menilai perlu langkah besar untuk mengubah situasi ini dan itu harus dilakukan Bank Aceh. Oleh karena itu, dia meminta Pemerintah Aceh bersikap tegas terhadap kelalaian yang dilakukan manajemen Bank Aceh Syariah.

"Langkah yang paling tepat adalah dengan melakukan evaluasi kinerja secara berkala dan mengubah pola pemberian insentif untuk manajemen dan karyawan Bank Aceh," sarannya.

Fathur melanjutkan, jika misalnya selama ini insentif yang diterima karyawan Bank Aceh dalam bentuk bonus hanya didasarkan pada capaian keuntungan dan tingkat kesehatan Bank. Maka ubah dengan diterapkannya sistem evaluasi kinerja baru menggunakan balance scorecard. Indikator kinerja yang lebih luas termasuk capaian Bank Aceh dalam pemberian kredit produktif.

"Dalam waktu  yang sama Pemerintah Aceh juga perlu menetapkan target penyaluran kredit produktif kepada Bank Aceh Syariah lebih tinggi dari yang ditetapkan Bank Indonesia," saran Fathur.

Dengan cara ini, kata Fathur, manajemen yang tadinya hanya fokus pada upaya memperoleh keuntungan, yang selama ini dengan mudah dilakukan dengan memberikan kredit konsumtif kepada PNS dan investasi pada surat berharga milik pemerintah, akan terpaksa berupaya lebih serius meningkatkan penyaluran kredit produktif. "Karena pendapatan bonusnya juga terikat pada capaian tersebut," jelasnya.

Sebelumnya diberitakan, Direktur Utama (Dirut) Bank Aceh, Haizir Sulaiman, S.H., M.H., membenarkan angka kredit konsumtif mencapai 90 persen. Sementara kredit produktif untuk Usaha Kecil Menengah (UKM) hanya 10 persen.

"Inilah persoalan Bank Aceh sekarang. Memang pernyataan Plt. Gubernur Aceh itu benar,” kata Haizir, Kamis, 31 Januari 2019.

Dia menyebutkan, angka kredit konsumtif melonjak dibandingkan perkreditan produktif. Permasalahannya yang mengambil kredit konsumtif hanya kalangan Pegawai Negeri Sipil (PNS). Kata dia, tentu Bank Aceh telah membuka peluang untuk kredit produktif baik bagi UKM maupun sektor usaha lain.

“Minat pengambilan kredit melaui Bank Aceh masih minim, padahal menunggu calon permohonan pengambilan kredit,” ujarnya.

Menurut Haizir, Bank Indenesia (BI) mengeluarkan aturan mengenai angka yang harus dicapai Bank Aceh maupun bank konvensional lain di bidang
perkreditan. Namun, sejauh ini Bank Aceh belum mencapai target.

“Aturan BI harus mencapai dua puluh persen. Namun saat ini hanya sepuluh persen sedang berjalan,” tegasnya.

Dia menambahkan, sebelum adanya teguran dari BI mengenai capaian angka kredit produktif, Bank Aceh telah membahas soal pencapaian angka itu sejak tahun 2018 lalu. Bank Aceh kini sedang membahas langkah selanjutnya untuk menggenjot peningkatan kredit produktif.

“Saat ini Bank Aceh sedang membedah dan mencari celah agar angka perkreditan itu meningkat,” paparnya.

Dia menjelaskan, tahun 2019, Bank Aceh telah membuka Center UKM, bidang sektor pertanian, kelautan, maupun perdagangan. Tujuannya untuk
meningkatkan pertumbuhan ekonomi.

“Tahun ini memang perkreditan produktif diutamakan, sesuai harapan Plt. Gubernur Aceh,” ujarnya.

Menurut dia, penyataan Plt. Gubernur Aceh adalah masukan sangat baik untuk menyelamatkan Bank Aceh. Sebab Bank Aceh milik rakyat Aceh, yang perlu diperhatikan dan diselamatkan.

“Kritikan Plt. Gubernur baik, karena biliau sayang ke Bank Aceh,” ucap Haizir.

Plt. Gubernur Aceh, Nova Iriansyah, mensinyalir ada yang tak beres di Bank Aceh.

“Coba kalian masuk ke Bank Aceh. Saya sudah mencium aroma busuk, tapi saya belum tahu di mana,” kata Nova Iriansyah saat Talk Show "Aceh Hebat, APBA 2019, Pembangunan Mau Kemana?", di Banda Aceh, Selasa, 29 Januari 2019.

Nova menilai kinerja Bank Aceh tak sesuai dengan harapan. Pasalnya pemberian kredit terkesan hanya difokuskan ke konsumtif, tidak menyentuh pertumbuhan ekonomi Usaha Kecil dan Menengah (UKM). Menurutnya, Bank Aceh itu beda dengan bank nasional. Bank Aceh harus membantu pengusaha daerah.

"Tentu ada yang tidak beres didalamnya. Bau-bau yang tidak beresnya apa, ya kita cari. Buktinya BI menegur Bank Aceh. Tapi tidak mengarah ke korupsi, tapi ada kinerja yang harus diperbaiki,” tegas Nova.[](Khairul Anwar)

Editor: portalsatu.com

Berita Terkait


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.