20 January 2021

Kabar Aceh Untuk Dunia


Wali Kota Lhokseumawe dan Pelaku UMKM Bahas Pemasaran Produk, Ini Kesimpulannya

...

  • PORTALSATU
  • 10 November 2020 15:40 WIB

Pertemuan Wali Kota Lhokseumawe Suaidi Yahya dengan para pelaku UMKM di Gedung Bappeda Lhokseumawe, 9 November 2020. Foto: portalsatu.com
Pertemuan Wali Kota Lhokseumawe Suaidi Yahya dengan para pelaku UMKM di Gedung Bappeda Lhokseumawe, 9 November 2020. Foto: portalsatu.com

LHOKSEUMAWE – Banyak usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) di Lhokseumawe menghasilkan produk kuliner hingga kerajinan tangan kreatif. Namun, pelaku UMKM selama ini kesulitan memasarkan produk mereka. Pemko Lhokseumawe berjanji membangun gerai produk unggulan di Kecamatan Muara Satu, dan memfasilitasi kerja sama dengan supermarket untuk memasarkan produk UMKM lokal itu.

Demikian antara lain kesimpulan hasil pertemuan Wali Kota Lhokseumawe, Suaidi Yahya, dan Wakil Wali Kota Yusuf Muhammad, dengan puluhan pelaku UMKM, di Open Plan Presentation (OPP) Room Gedung Bappeda Lhokseumawe, Senin, 9 November 2020, sore.

Ruangan pertemuan itu tidak mampu menampung semua pelaku UMKM yang hadir, sebagian besar merupakan kaum ibu. Beberapa pelaku UMKM terpaksa duduk di luar ruangan. Meskipun memakai masker, tapi peserta pertemuan tersebut tampak duduk rapat alias tidak menjaga jarak lantaran ruangan over kapasitas.

Dalam pertemuan itu, Wali Kota Suaidi Yahya dan Wakil Wali Kota Yusuf Muhammad didampingi Asisten II (Bidang Ekonomi dan Pembangunan) Sekda Lhokseumawe Anwar dan Kepala Bappeda Salahuddin, yang memandu diskusi.

Salahuddin mengatakan berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah UMKM di Lhokseumawe mencapai 2.354 unit. Bappeda mengundang para pelaku UMKM di Lhokseumawe untuk membahas pengembangan potensi dan perluasan pemasaran produk. Hal ini sejalan dengan upaya pemerintah untuk meningkatkan kemampuan masyarakat, pengembangan potensi usaha kecil dan menengah serta mendukung mewujudkan kemandirian ketahanan pangan selama pandemi Covid19.

Wali Kota Suaidi saat membuka pertemuan mengatakan pihaknya ingin mendengar masukan dari para pelaku UMKM di Lhokseumawe agar pemerintah kota ini dapat mengambil langkah-langkah tepat untuk mendukung pengembangan potensi dan perluasan pemasaran produk usaha mikro, kecil dan menengah. Suadi ingin pelaku UMKM terus berupaya mengembangkan potensi dan meningkatkan kualitas produk, termasuk packing (pengepakan atau kemasan) yang menarik. Sehingga Pemko Lhokseumawe dapat memfasilitasi promosi dan pemasaran. 

Salah seorang pelaku UMKM, Maimun alias Cek Mun, mengatakan jika benar jumlah usaha mikro, kecil dan menengah di Lhokseumawe mencapai 2.354 unit seperti data BPS, seharusnya Pasar Inpres di kota ini sudah penuh dengan produk lokal. Pertanyaannya, berapa UMKM yang eksis di Lhokseumawe. "2.354 hayeu that ka Lhokseumawe nyoe, pak (kalau UMKM sebanyak 2.354, sudah hebat sekali Lhokseumawe ini)," ujar Cek Mun. 

Menurut Cek Mun, perlu adanya ruang atau wadah bagi para pelaku UMKM di Lhokseumawe untuk memperkenalkan dan memasarkan produknya kepada masyarakat luas. Wadah itu bisa berupa bazar, penyediaan gerai, pameran, atau sejenisnya. 

Cek Mun mencontohkan, pihaknya pernah mengadakan bazar produk UMKM di Museum Kota Lhokseumawe. "Setelah kita buat bazar itu, banyak kawan-kawan UMKM yang menghubungi kita untuk mendaftar kalau kita buat bazar UMKM berikutnya. Artinya, di Lhokseumawe ini sudah banyak produk UMKM, tapi karena tidak ada wadah dia tidak muncul," ungkapnya.

Cek Mun juga sering mendengar bahwa Lhokseumawe susah mencari produk unggulan kota ini. "Kalau dibuat bazar-bazar UMKM nanti tinggal dipilih, di antara sekian produk, apa yang bisa menjadi produk unggulan. Kawan-kawan juga harus fair, misalnya Pemko Lhokseumawe memilih salah satu produk UMKM sebagai produk unggulan dengan pertimbangan kualitas dan kemasannya lebih bagus, maka kita jangan iri. Jadi, kita berbagi kualitas produk kita sehingga menjadi pilihan Pemko Lhokseumawe," tuturnya.

Selain itu, dia meminta Pemko Lhokseumawe melakukan terobosan baru untuk membantu pelaku UMKM memasarkan produknya. "Yang sangat kita harapkan adanya dukungan pemko agar produk UMKM bisa dipasarkan di retail modern. Jadi, setelah pertemuan ini, beberapa bulan ke depan, kita harapkan produk kawan-kawan sudah ada di Indomaret dan Alfamart yang ada di Lhokseumawe," kata Cek Mun. 

Cek Mun berharap pemerintah daerah dan masyarakat Lhokseumawe lebih mencintai produk UMKM lokal. "Meunye droe teuh hana ta pakek, soe yang pakek meutuah," ucap dia menamsilkan, yang disambut tepuk tangan peserta pertemuan itu. 

Pelaku UMKM lainnya, Ana, mengaku kesulitan memasarkan produk. "Produk saya ada bandeng crispy, ada mi ayam janda," kata Ana yang pemaparannya terhenti lantaran meledak tawa dan tepuk tangan hadirin.

Ana berharap Pemko Lhokseumawe memfasilitasi tempat khusus untuk pemasaran produk UMKM lokal yang mudah dijangkau. "Kawan-kawan saya dari luar daerah, kalau mereka kemari pasti bertanya, apa produk ciri khas Kota Lhokseumawe. Mereka maunya produk unggulan Lhokseumawe dijual di lokasi yang mudah dilihat. Kalau bisa di pinggir Jalan Banda Aceh-Medan, seperti di Bireuen keripiknya itu dijual di pinggir jalan,” ujarnya.

Beberapa pelaku UMKM lainnya mempromosikan produk mereka dalam pertemuan tersebut. Di antaranya, produk usaha tani hingga daun kelor dari salah satu badan usaha milik gampong (BUMG) di Lhokseumawe.

Setelah menanggapi masukan dari beberapa pelaku UMKM, Wali Kota Suaidi meminta izin meninggalkan ruangan pertemuan itu. Suaidi meminta Wakil Wali Kota Yusuf Muhammad yang berlatar belakang pengusaha melanjutkan diskusi dengan pelaku UMKM itu.

Kepada wartawan, Wali Kota Suaidi mengatakan, “Maunya kita semua UKM ini bisa lebih berkembang. Kita lihat kendalanya adalah pemasaran, karena promosinya kurang. Maka pemerintah akan memfasilitasi pemasaran dan melakukan promosi. Nanti kita akan biayai untuk promosi supaya (produknya) diketahui oleh masyarakat Aceh lebih luas sehingga UKM ini bisa lebih maju. Selama ini banyak yang tidak tahu karena promosinya kurang”.

“Dan packing-nya juga kita akan seleksi agar kualitasnya lebih bagus. Tempat packing-nya sudah disediakan oleh pemerintah di Dinas Perindagkop dan UKM Lhokseumawe,” tutur Suaidi.

“Jadi, setelah duduk bersama ini, insya Allah, nanti kita merumuskan langkah-langkah apa yang kita ambil untuk kemajuan UKM ini. Misalnya, tahun 2021, kita akan biayai untuk promosi, pemasaran. Apakah harus diberikan modal dan sebagainya nanti akan kita ambil kebijakan yang tepat,” ucap Wali Kota Lhokseumawe itu.

Kepala Bappeda Lhokseumawe, Salahuddin, dikonfirmasi usai pertemuan itu mengatakan “potensi produk unggulan di Kota Lhokseumawe luar biasa. Produk kuliner, fashion, usaha tani, kerajinan tangan kreatif, tas, sandal dan sepatu, daun kelor. Produk ikan keumamah dengan berbagai macam varian rasa, udang dan bileh crispy, dan lain-lain”.

“Pemko Lhokseumawe sesuai dengan arahan dan kebijakan yang disampaikan Bapak Wali Kota dan Bapak Wakil Wali Kota bahwa untuk para pelaku UMKM di Kota Lhokseumawe akan diberikan pelatihan berbasis aplikasi, stimulus ekonomi, memanfaatkan rumah packing yang telah ada, dan kemudahan perizinan/gratis,” ujar Salahuddin.

Selain itu, kata Salahuddin, Pemko Lhokseumawe akan membangun gerai/kios untuk produk unggulan di kawasan Muara Satu, bekerja sama/bermitra dengan pihak supermarket untuk memasarkan produk UMKM lokal, dan bantuan modal usaha, dengan tujuan penguatan ekonomi Kota Lhokseumawe.

Menurut Salahuddin, jumlah pelaku UMKM yang hadir dalam pertemuan itu sekitar 60 orang. “Kita undang sesuai kapasitas OPP. Room Bappeda. Yang hadir melebihi kapasitas undangan. Antusias peserta  pelaku UMKM sangat luar biasa,” katanya.[](*)

Editor: portalsatu.com

Berita Terkait


Alamat:

Jalan Prof. Ali Hasjmy, No. 6, Desa Lamteh, Ulee Kareng, Kota Banda Aceh. Kode Pos: 23118.

portalsatu.com © 2021 All Rights Reserved.