26 June 2019

Kabar Aceh Untuk Dunia


Warga Ini Merasa Ditipu PT Mifa Bersaudara

...

  • Rino
  • 26 May 2019 23:55 WIB

Foto: istimewa/dok.
Foto: istimewa/dok.

ACEH BARAT - Baharuddin (51), warga Desa Peunaga Cut Ujong, Kecamatan Meureubo, Kabupaten Aceh Barat, mengaku ditipu PT Mifa Bersaudara. Pasalnya, janji bahwa perusahaan akan mempekerjakan dan memberi anaknya beasiswa hanya "pepesan kosong".

Menurut Baharuddin, sebelum perusahaan yang melakukan penambangan percobaan sejak Januari 2012 itu beraktivitas penuh, ia sempat diberi beberapa jaminan. Jaminan tersebut bahkan dibuat dalam bentuk surat berkop perusahaan dan bermaterai yang ditandatangani oleh kuasa direksi PT Mifa Bersaudara saat itu, Rahmad Ahmed.

Dalam surat tertanggal 3 April 2013 itu, perusahaan memberi jaminan akan mempekerjakan Baharuddin dan anaknya di perusahaan sesuai kualifikasi. Selain itu, perusahaan akan memberi beasiswa kepada anaknya, untuk melanjutkan pendidikan ke tingkat universitas setara ahli madya.

"Kalau nanti ada pertemuan, mau saya tunjukin surat ini," ucap Baharuddin saat ditemui portalsatu.com, Minggu, 26 Mei 2019.

Selain itu, hingga saat ini, Baharuddin memilih bertahan, tinggal di depan stockpile (lokasi penumpukan/persediaan) batu bara milik sebuah perusahaan tambang. Kendati setiap hari harus berhadapan dengan debu

Dia beralasan, uang pembebasan lahan yang ditawarkan perusahaan terlalu rendah. Makanya, tak mengikuti jejak belasan kepala keluarga (KK) lain yang telah lama pindah dari Desa Peunaga Cut Ujong, Kecamatan Meureubo, Kabupaten Aceh Barat.

"Harganya terlalu rendah. Untuk tanah, satu meter Rp500 ribu. Untuk bangunan, katanya 1,8 juta per meter. Harusnya perusahaan mengerti, mereka yang pendatang, masa kami yang harus mengalah," ujarnya.

Dia menguraikan, rumah penduduk yang  paling berdekatan dengan stockpile berjumlah 25 KK. Namun, hanya rumahnya dan beberapa rumah keluarga lain yang berhadapan langsung dengan stockpile.

"Kalau tidak salah belasan yang menerima. Dusun Pertanian. Tinggal saya, dan seorang lagi. Dan ada satu lagi, namun sudah pindah, rumahnya tertutup," sebutnya.

Rumah-rumah tersebut terletak di pinggir jalan nasional Meulaboh-Tapak Tuan. Stockpile berada tepat di seberang jalan, dan hanya dipisahkan oleh pagar beton yang diberi jaring penangkap debu di atasnya.

Di balik beton tersebut ditanami pepohonan untuk meminimalisir paparan debu akibat adanya aktivitas bongkar muat batu bara di terminal khusus (tersus) perusahaan.

Menjawab pernyataan Baharuddin soal surat jaminan perusahaan, Kuasa Hukum PT Mifa Bersaudara, Sophan Sosila Tomanggor mengaku tidak tahu menahu. Apalagi, kuasa direksi yang saat itu menandatangani surat tersebut sudah tidak bekerja lagi di perusahaan.

"Rahmad Ahmed juga sudah lama tidak kerja lagi," sanggahnya.

Terkait pembebasan lahan, Sophan mengklaim bahwa harga pembebasan lahan tersebut wajar. Selain itu, perusahaan telah berusaha melakukan pembenahan secara teknis untuk membenahi masalah paparan debu.

"Tahun 2017 sampai 2018 sebagai respons keluhan sejumlah warga yang berdomisili di sekitar jalan khusus PT Mifa Bersaudara sudah dilakukan pembebasan dengan harga yang wajar, dimana untuk tanah diperhitungkan dengan harga Rp500 ribu per meter," jelas Sophan.

Untuk bangunan, ditebus dengan harga tersendiri sesuai bahan, kondisi dan spesifikasi atau standar penilaian bangunan. Prioritas perusahaan saat itu adalah rumah tinggal agar penghuninya segera terbebas dari masalah yang mereka keluhkan.

Upaya meminimalisir paparan debu dilakukan peninggian pagar, pemindahan stockpile turning area atau terminal, penambahan unit penyiraman jalan pengangkutan, peningkatan intensitas penyiraman sesuai kondisi dan kebutuhan, penambahan jaring penangkap debu, dan penanaman pohon.

"Terkait rumah warga tersebut, sejak awal sudah ditawarkan bersama dengan warga lainnya, namun  yang bersangkutan menolak, padahal harga tanah yang ditawarkan wajar sesuai harga pasar," ucapnya.[]

Editor: portalsatu.com

Berita Terkait


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.