04 June 2020

Kabar Aceh Untuk Dunia


Dilema Sinetron Ramadan Timur Tengah yang Terhempas Corona

...

  • portalsatu.com
  • 04 April 2020 21:30 WIB

Wabah corona memaksa banyak proyek sinetron Ramadan berhenti beroperasi, membuat dilema antara dihadang wabah namun dikejar permintaan pasar yang besar. (AFP/LOUAI BESHARA)
Wabah corona memaksa banyak proyek sinetron Ramadan berhenti beroperasi, membuat dilema antara dihadang wabah namun dikejar permintaan pasar yang besar. (AFP/LOUAI BESHARA)

Adegan yang kurang, episode yang belum selesai, dan lokasi syuting yang terus disemprot disinfektan, adalah sejumlah kendala yang dihadapi sinetron Ramadan untuk tetap bisa berjalan untuk mengejar ketertinggalan sebelum bulan suci umat Islam yang datang tinggal beberapa pekan lagi.

Sejumlah negara di Timur Tengah telah memberlakukan pembatasan ketat untuk memperlambat penyebaran pandemi virus corona Covid-19. Kebijakan itu membuat sejumlah rumah produksi tutup untuk sementara waktu, sedangkan lainnya bekerja di bawah aturan ketat.

Pada waktu yang bersamaan, masyarakat telah diminta untuk menjauhi jalanan dan bekerja dari rumah, yang menciptakan potensi penonton televisi yang besar dan memaksa jaringan televisi menyediakan stok konten.

"Kami memiliki empat serial televisi Ramadan yang belum beres, kami syuting di Libanon, dan yang lainnya di Suriah. Semuanya ditunda," kata kepala akuisisi sebuah jaringan televisi yang berbasis di Dubai kepada AFP.

"Hitung mundur [menuju Ramadan] telah dimulai. Kami butuh konten sebanyak mungkin sebelum Ramadan. Bila kami tak bisa memiliki acara yang siap, kami terpaksa membeli dari rumah produksi luar bahkan bila itu memiliki kualitas yang lebih rendah," kata pria yang tak ingin disebut namanya itu.

Menurut lembaga riset Amerika Serikat Frost & Sullivan dan Pan Arab Research Center di Northwestern University di Qatar, sebanyak 90 persen masyarakat di penjuru Timur Tengah menonton televisi konvensional.

Harga iklan dan jumlah pemirsa melonjak sepanjang Ramadan, yang tahun ini diperkirakan dimulai pada pekan ketiga April. Hal itu terjadi ketika banyak keluarga memutuskan kumpul bersama dan menyaksikan sinetron setelah berbuka puasa, atau kala sahur.

Sinetron sepanjang Ramadan itu mengisahkan banyak hal, mulai dari perang antar geng di pedesaan, tabu di masyarakat, saga sejarah, percintaan, perselingkuhan, misteri, hingga komedi menjadi santapan sehari-hari pemirsa televisi di Timur Tengah.

Sebelum ada wabah corona, para stasiun televisi itu sudah bersaing ketat dalam pertempuran melawan layanan streaming seperti Netflix dan Starz Play milik lokal dalam memperebutkan penonton muda.

Menunggu Waktu

Bagi Jamal Sinan, pemilik Eagles Films Production, saat ini adalah perlombaan dengan waktu untuk bisa kembali syuting demi tiga serial Ramadan miliknya di Libanon.

"Kami berkomitmen mengikuti aturan sembari kami mencari cara khusus untuk melanjutkan pekerjaan, seperti syuting dengan juru kamera yang lebih sedikit.. Namun kami tak tahu kapan itu bisa terjadi," katanya kepada AFP.

"Hanya waktu yang bisa menunjukkan hal itu," lanjutnya.

Salah satu serial miliknya merekrut bintang Libanon, Cyrine Abdel Nour sebagai pemeran utamanya, yaitu seorang penjahit yang jatuh cinta dengan pemilik rumah mode.

Mengenakan masker putih dan bersarung tangan biru, Nour berdiri dan menutup mata kala disemprot dengan cairan penyanitasi dari ujung kepala hingga kaki, sebelum memasuki sebuah rumah di sebuah desa di Libanon tempat salah satu adegan dilakukan sebelum penghentian syuting.

Abdel Nour mengunggah sebuah video dari kejadian tersebut di akun Instagram miliknya yang diikuti sekitar 8,9 juta penggemar.

"Tolong jangan tertawakan saya," katanya dalam unggahan itu. "Inilah bagaimana kami syuting. Semoga wabah ini segera berakhir, sehingga kami bisa kembali syuting,"

Ketika syuting film dihentikan di sejumlah negara seperti Libanon dan Kuwait, sejumlah proyek masih berjalan di tempat lainnya seperti Uni Emirat Arab namun dengan aturan ketat pembatasan jumlah juru kamera dan kru non-esensial.

Butuh Sinetron

Jaringan terbesar bagi masyarakat Arab, MBC telah "secara konsisten menyanitasi studio dan lokasi syuting," menurut juru bicaranya, Mazen Hayek.

"Ada unit [medis] gawat darurat yang bisa mobil di luar kantor pusat," tambahnya.

Di Mesir, televisi dianggap sebagai anak emas, tak ada perintah resmi yang telah dikeluarkan untuk menutup studio.

Namun Ashraf Zaki, ketua kelompok aktor di sana mengatakan "80 persen film telah berhenti syuting," dan sejumlah aktor telah memulai petisi daring meminta perintah resmi untuk menghentikan aktivitas dan menuduh pihak berwenang telah mengambil risiko.

Kematian secara global akibat pandemi virus corona Covid-19 telah melambung hingga lebih dari 48 ribu kasus pada pekan ini, dan sejumlah kebijakan yang diambil untuk menghentikan penyebaran wabah ini telah memukul keras industri hiburan.

Tak terhitung agenda telah ditunda dan bioskop telah ditutup di banyak negara, dengan lebih dari tiga miliar orang dilarang keluar dari rumah mereka.

Produser asal Suriah, Diana Jabbour mengatakan perusahaannya menghentikan syuting bahkan sebelum pemerintah memintanya.

"Kami tak akan bertaruh dengan kesehatan semua orang yang bekerja dengan kami, dari teknisi terkecil hingga aktor papan atas," katanya kepada AFP.

Namun untuk penggemar berusia 60 tahun seperti Hayam Ali, yang tak meninggalkan rumahnya di Sharjah, UAE, sejak tiga pekan karena khawatir akan Covid-19, tak memiliki sinetron selama Ramadan akan menjadi hempasan besar baginya.

"Ramadan itu berdoa, makanan enak, kumpul keluarga, dan televisi. Namun saya belum melihat siapa pun dalam pekan ini dan saya tak mengira akan bisa dalam waktu dekat. Serial televisi itu lebih dari sekadar cukup. Saya akan sungguh butuh itu," katanya.[]Sumber:cnnindonesia.com

Editor: portalsatu.com

Berita Terkait


Alamat:

Jalan Prof. Ali Hasjmy, No. 6, Desa Lamteh, Ulee Kareng, Kota Banda Aceh. Kode Pos: 23118.

portalsatu.com © 2020 All Rights Reserved.