18 November 2019

Kabar Aceh Untuk Dunia


Festival di Jepang Akhirnya Putar Film Tentang Budak Seks Zaman Perang

...

  • BBC Indonesia
  • 05 November 2019 20:30 WIB

Patung budak seks di luar Kedutaan Besar Jepang di Seoul. @AFP
Patung budak seks di luar Kedutaan Besar Jepang di Seoul. @AFP

Festival film Jepang akhirnya memutar sebuah film dokumenter tentang perempuan yang dipaksa menjadi pekerja seks pada zaman perang, setelah sebelumnya membatalkan pemutaran, keputusan yang memicu kecaman.

Penyelenggara festival di Kawasaki tersebut menyatakan masalah keamanan terkait pemutaran film telah teratasi.

Puluhan ribu "budak seks" dari Asia, termasuk Indonesia, dipaksa bekerja di bordil militer Jepang.

Kelompok nasionalis Jepang menyangkal para perempuan ini dipaksa menjadi pekerja seks.

Permulaan tahun ini pameran tentang "budak seks" dipaksa ditutup selama dua bulan karena muncul ancaman akan dibakar. 

Alasan dibalik perubahan

Keputusan tidak memutar film tersebut diubah setelah "banyak pihak menyatakan siap memberikan bantuan untuk mengatasi kekhawatiran keamanan", kata seorang anggota dewan pelaksana kepada kantor berita AFP.

Beberapa sutradara yang terlibat dalam festival film mengecam rencana untuk tidak memutar film.

Salah satunya bahkan menarik filmnya sendiri dari festival sebagai bentuk protes.

Film berjudul "Shusenjo: The Main Battleground of the Comfort Women Issue" sekarang dijadwalkan akan diputar pada hari terakhir festival.

Meskipun demikian, sebagian orang yang muncul pada film tersebut telah mengajukan tuntutan di Pengadilan Negeri Tokyo, meminta ganti rugi dan mendesak film tersebut tidak diputar.

Mereka mengatakan bersedia muncul di dokumenter tersebut karena berpikir ini adalah bagian dari penelitian dan bukannya dalam rangka pembuatan film, lapor Asahi Shimbun.

Siapakah para 'budak seks'?

Ahli sejarah memperkirakan 200.000 perempan dipaksa bekerja di berbagai bordil untuk melayani tentara Jepang.

Kebanyakan dari mereka berasal dari Korea, tetapi juga dari Indonesia, China, Filipina dan Taiwan.

Sejumlah kelompok nasionalis Jepang menyangkal pernyataaan tersebut. Mereka menegaskan tidak terdapat bukti tertulis bahwa militer Jepang memerintahkan perekrutan perempuan secara paksa.

Masalah budak seks merupakan salah satu pertikaian yang merusak hubungan Jepang dengan sejumlah negara tetangganya di Asia.

Tokyo menyatakan traktat 1965 yang memulihkan hubungan diplomatik dan pemberian bantuan keuangan Jepang lebih dari US$800 juta atau Rp11 triliun untuk Korea Selatan telah menyelesaikan masalah.

Tahun 2015, Jepang menandatangani persetujuan dengan Korea Selatan untuk mengatasi persoalan ini.

Jepang meminta maaf dan berjanji membayar satu miliar yen atau Rp129 miliar -- jumlah yang diminta Korea Selatan -- bagi para korban.

Sejumlah pengecamnya mengatakan persetujuan dicapai tanpa berkonsultasi dengan para korban.

Perempuan Indonesia juga dipaksa

Di Indonesia, perempuan dari Jawa dibawa ke garis depan peperangan, seperti di Kalimantan, Sulawesi, bahkan juga Maluku, termasuk di Pulau Buru.

Salah satunya adalah Sri Sukanti (80-an tahun) yang baru berusia sembilan tahun ketika dibawa tentara Jepang ke Gedung Papak, Purwodadi, Jawa Tengah.

"Wah ayah saya semaput-semaput (pingsan) saya dibawa dikira mau dibunuh. Terus ada lagi teman saya sekolah, dikira mau dibunuh. 'Jangan, saya saja, saya saja'," ungkap Sri.

Di Indonesia, lewat badan bentukan Jepang Asia Women Fund, diberikan dana sebesar 380 juta yen (sekitar Rp24 milliar dengan kurs saat itu) melalui Kementerian Sosial secara bertahap selama 10 tahun untuk membangun fasilitas 235 panti jompo di seluruh daerah.

Sri Sukanti mengaku pernah mendapatkan dana bantuan dari Kementerian Sosial selama sekitar tiga bulan pada tahun 2011.[]Sumber:bbc.com

Editor: portalsatu.com

Berita Terkait


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.