20 June 2019

Kabar Aceh Untuk Dunia


Ini Komentar Penonton di Banda Aceh tentang Film The Man from The Sea

...

  • Jamaluddin
  • 24 February 2019 11:40 WIB

Setelah pemutaran Film The Man from The Sea (Laut), di Gedung Sultan Selim II, Banda Aceh, Sabtu, 23 Februari 2019. Foto Jamaluddin/portalsatu.com
Setelah pemutaran Film The Man from The Sea (Laut), di Gedung Sultan Selim II, Banda Aceh, Sabtu, 23 Februari 2019. Foto Jamaluddin/portalsatu.com

BANDA ACEH - Film The Man from The Sea (Laut) dinilai tidak mencirikan budaya Aceh, cuma mengambil lokasi syuting di Aceh. Penilaian itu disampaikan salah seorang penonton saat sesi tanya jawab tentang film The Man from The Sea (Laut) yang digelar di Gedung Sultan Selim II, Banda Aceh, Sabtu, 23 Februari 2019.

Penonton itu bernama Said Fauzan, mengaku dari Dinas Pariwisata Kota Banda Aceh. "Esensi filmnya yang mau diangkat dalam film ini apa gitu. Memang tadi mau angkat tsunami ceritanya, tapi waktu diceritakan tsunami, tidak ada emosional yang membuat orang hidup dalam dalam cerita itu. Akan tetapi hanya story-nya saja itu dicerita sebagai korban tsunami dan sebagainya," kata Said.

Menurut dia, film itu tidak menceritakan tentang peristiwa tsunami Aceh atau seperti apa gambarannya. Secara emosional penonton tidak ikut larut.

Dalam konteks Jepang, kata dia, Aceh ada kerja sama dengan pemerintah Jepang tentang rekonstruksi dan rehabilitasi antara Banda Aceh dengan Jepang. Sebagaimana pengalamannya sewaktu melakukan perjalanan ke sana, dalam konteks itu ia menyaksikan bahwa di sana tsunami itu sangat menakutkan bagi orang Jepang sehingga mereka menimbulkan sifat traumatik.

"Mereka rela membuat sebuah kota baru demi meninggalkan kota lama yang menjadi porak-poranda oleh tsunami," katanya.

"Tapi mereka heran dengan Aceh mengapa tempat yang dahulu pernah dilanda tsunami kini malah menjadi tempat edukasi wisata tsunami seperti Museum Tsunami, dan PLTD Apung. Dengan sebab itu Jepanglah sebenarnya yang kini sedang meniru Aceh dalam bagaimana cara menilai tsunami".

"Kini mereka sekarang mencontoh Aceh dengan membangun monumen tsunami," kata Pak Said.

Pak Said menambahkan, "Dari segi culture-nya film The Man of The Sea (Laut) tidak menggambarkan budaya yang ada di Aceh, tapi hanya area saja (lokasi syuting)," ujarnya.

Menanggapi itu, produser film The Man of The Sea (Laut), Willawati menjawab bahwa sebenarnya film itu adalah kolaborasi antara Jepang, Prancis, dan Indonesia. Terkadang dalam pembuatan film agak susah dan secara umum itu pembuatannya ditujukan untuk universal, bukan konteks Aceh.

"Kalau budayanya, memang ngak bisa. Kalau gitu bikin film dokumenter tentang Aceh saja ya pak kalau budayanya sangat Aceh. Mudah-mudahan ini awal banyak kurang sana sana sini mudah-mudahan berikutnya ada orang yang, ada pihak lain yang tertarik membuat tipe lain dari Aceh," kata Willi.[]

Editor: portalsatu.com

Berita Terkait


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.