18 August 2018

Kabar Aceh Untuk Dunia


Yuk, Nonton Kisah 'Raja Ubit Paska di Rimba' di Cang Film ADF Sore Ini

...

  • IHAN NURDIN
  • 16 April 2017 13:40 WIB

BANDA ACEH - Aceh Documentary Film (ADF) sore nanti mengadakan 'Cang Film' berupa pemutaran sekaligus diskusi mengenai film-film bertema khusus. Sore nanti film yang diputar berjudul "Raja Ubit Paska di Rimba" garapan Said Rasul dan Masri Arif. Berlangsung di Mini Teater ADF di Seutui, Banda Aceh pukul 16:00 WIB, Minggu, 16 April 2017.

Manager ADF Astina Ria yang bertanggung jawab untuk program Cang Film ini mengatakan, kegiatan ini merupakan salah satu program di bawah ADF.

"Film yang diputar nanti sore adalah film dokumenter yang diproduksi pada pertengahan tahun 2016 dalam program Aceh Documentary Competition (ADC)," katanya kepada portalsatu.com.

Tujuan dari pemutaran film ini kata dia, untuk mengajak pemuda maupun sineas Aceh untuk lebih jeli lagi dalam melihat isu-isu yang sedang berkembang di aceh.

"Jadi setelah nonton film, setiap penonton akan melakukan diskusi terkait isu yang diangkat dlm film tersebut. Jadi konsepnya bukan hanya duduk nonton saja, tapi setelah pemutaran ini diharapkan pemuda-pemuda maupun sineas Aceh dapat membangkitkan kembali nama Aceh sebenarnya," kata Tina.

Agenda ini kata Tina dilakukan dua kali sebulan dan terbuka untuk umum. Tak hanya film dokumenter, pihaknya juga memutar film-film fiksi yang dihasilkan sineas Aceh.

"Sesekali kita juga akan putar film nasional. Yang tertarik bisa langsung datang nanti sore ke ADF," ujarnya.

Film ini bercerita tentang kisah Raja Ubiet yang tinggal di kawasan hutan Rawa Tripa di Nagan Raya. Teuku Raja Tampok dan 700 pengikutnya mengasingkan diri ke pedalaman hutan Aceh pada masa kolonial Belanda. Lantas mereka turun gunung pada tahun 80-an di era Gubernur Ibrahim Hasan, lalu menetap di Dusun Blang Tripa, Desa Alue Waki Gunong Kong. Sebagiannya lagi masih menetap di pedalaman hutan Aceh. Di antara keturunannya yang masih hidup sekarang kurang mendapatkan perhatian dari pemerintah, termasuk kurangnya fasilitas pendidikan untuk anak-anak mereka.[]

Editor: IHAN NURDIN


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.