18 December 2017

Kabar Aceh Untuk Dunia

Cerita di Balik Musibah Gempa
Aulia Akbar, ‘Imam Brimob’ di Masjid Musa

...

  • PORTALSATU
  • 12 December 2016 14:15 WIB

Aulia Akbar, personel Kompi 1 Detasemen A Pelopor Satuan Brimob Polda Aceh menjadi guru pengajian bagi anak-anak pengungsi korban gempa di Musa, Pidie Jaya.@IST
Aulia Akbar, personel Kompi 1 Detasemen A Pelopor Satuan Brimob Polda Aceh menjadi guru pengajian bagi anak-anak pengungsi korban gempa di Musa, Pidie Jaya.@IST

SUARA merdu Aulia Akbar saat mengumandangkan azan menjadi daya tarik bagi masyarakat Kemukiman Musa untuk salat berjemaah di Masjid Baiturrahmim. Personel Brimob berpangkat Bharada ini kemudian diminta menjadi imam salat di masjid di Desa Musa Teungoh, Kemukiman Musa, Kecamatan Bandar Baru, Pidie Jaya itu. Masyarakat setempat lantas memanggil personel Kompi 1 Detasemen A Pelopor Satuan Brimob Polda Aceh tersebut sebagai “Imam Brimob”.

Aulia Akbar turut mengajarkan anak-anak pengungsi korban gempa di Musa membaca Alquran saban malam usai salat Magrib. Jadi, selain menjadi muazin dan imam salat berjemaah, putra kelahiran Desa Alue Pande, Kecamatan Panga, Aceh Jaya, 6 Juni 1994, itu juga sebagai ustaz atau guru pengajian di Masjid Baiturrahim Musa pascagempa.

Alumni Al-Fityan School Aceh, di Desa Reuloh, Kecamatan Ingin Jaya, Aceh Besar yang menjadi anggota Brimob sejak 2015 itu sudah hafal 5 juz Alquran.

“Sekarang Bharada Aulia Akbar menjadi terkenal di tengah masyarakat Kemukiman Musa dan sekitarnya. Masyarakat memanggilnya ‘Imam Brimob’. Ini salah satu hikmah di balik musibah gempa, dan kami akan terus memberikan kontribusi positif untuk rakyat,” kata Dansat Brimob Polda Aceh Kombes Pol. Norman Widjajadi, S.I.K., melalui Danki 1 Detasemen A Pelopor Satbrimob AKP Iswahyudi, S.H., kepada portalsatu.com, Minggu, 12 Desember 2016.

***

Gempa mengguncang Aceh, 7 Desember 2016, sekitar pukul 05.03 WIB. Kabupaten paling parah mengalami dampak gempa berkekuatan 6,4 SR itu ialah Pidie Jaya. “Pukul 07.00 WIB hari itu, (dari Banda Aceh) kami langsung bergerak ke Pidie Jaya. Hari pertama itu fokus ke Meureudu (Ibu Kota Pidie Jaya),” ujar Iswahyudi.

Hari kedua, personel Satuan Brimob Polda Aceh yang diterjunkan ke Pidie Jaya itu, dibagi empat lokasi untuk penanggulangan pascagempa. Untuk Kecamatan Bandar Baru, 75 personel Brimob dipimpin Iswahyudi. Mereka membuka Posko Brimob di halaman Masjid Baiturrahim, di Desa Musa Teungoh atau disebut Masjid Musa. Di lokasi itu juga didirikan sejumlah tenda pengungsian dan dibuka dapur umum untuk para korban gempa.  

Kubah Masjid Musa menjadi miring dan tampak nyaris ambruk akibat gempa. Bangunan masjid itu juga retak-retak. Dipimpin Iswahyudi, personel Brimob kemudian menghantam salah satu bagian penyangga kubah. Tujuannya agar kubah yang sudah rusak dalam posisi miring itu dapat diturunkan ke bawah. Yang terjadi kemudian, kubah masjid itu menjadi tegak kembali.

“Tapi posisinya sudah amblas, jadi pendek. Kemudian kami bersihkan puing-puing (yang menumpuk di tengah ruangan masjid tepat di bawah kubah) agar masjid ini bisa difungsikan kembali untuk salat berjamaah,” kata Iswahyudi.

Walaupun kubah masjid itu kembali tegak dan telah dibersihkan, tapi untuk fungsi jangka panjang, Masjid Musa perlu dibangun kembali. Pasalnya, selain merusak kubah, gempa juga telah membuat bangunan masjid tersebut retak-retak.  

***

Setelah pasukan khusus (satuan elite) Polri itu membersihkan puing-puing di dalam Masjid Musa, akhirnya dapat difungsingkan untuk salat berjemaah. Tepat waktu Magrib, hari Kamis itu, terdengar azan sangat merdu. Masyarakat yang berada di seputaran masjid lantas berusaha mencari tahu siapa sang muazin. Sebab suara azan kali ini dinilai beda dari biasanya, sebelum gempa mengguncang kawasan itu.

Ternyata sang muazin bersuara emas itu ialah Aulia Akbar yang berseragam Polri. Ia menjadi muazin untuk salat Magrib berjemaah perdana pascagempa.

“Imam Besar Masjid Musa Teungku M. Yunus kemudian mempersilakan Aulia Akbar untuk menjadi imam salat Magrib  berjamaah. Esoknya, hari Jumat, Imam Besar Masjid Musa juga mempersilakan anak muda tersebut untuk menjadi imam salat Jumat, karena suaranya yang merdu saat azan dan lantunan ayat suci Alquran,” ujar Iswahyudi.

Sejak itulah, para pengungsi korban gempa di Musa memanggil Aulia Akbar sebagai “Imam Brimob”. Tidak hanya dengan orang-orang dewasa, Aulia Akbar semakin akrab pula dengan anak-anak pengungsi korban gempa setelah ia menjadi guru pengajian saban malam usai Magrib.

“Aulia Akbar berharap anak-anak di daerah ini ke depannya terus mengikuti pengajian, baik belajar membaca Alquran maupun kitab-kitab untuk memperdalam ilmu agama Islam,” kata Danki 1 Detasemen A Pelopor Satbrimob Polda Aceh menyampaikan pesan sang “Imam Brimob” itu.[](idg)

Editor: IRMANSYAH D GUCI


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.