20 August 2019

Kabar Aceh Untuk Dunia


Bermain Patok Lele yang ‘Ka Hana Le’

...

  • PORTALSATU
  • 28 June 2017 11:10 WIB

Anak-anak di Dayah Guci kembali belajar bermain patok lele. @Irman/portalsatu.com
Anak-anak di Dayah Guci kembali belajar bermain patok lele. @Irman/portalsatu.com

Alif, baru tamat sekolah dasar, tidak mengenal permainan patok lele. Teman-teman sekampungnya di Dayah Guci, Teupin Raya, Pidie, juga merasa asing dengan permainan tradisional itu.

Kupeu nyan? (untuk apa itu?)” Alif bertanya ketika ia ditunjukkan peralatan permainan patok lele, 26 Juni 2017. “Han tom maen (tidak pernah bermain),” ujar Alif.

Farhan yang sudah duduk di bangku SMK mengaku pernah bermain patok lele. Namun, ia menggelengkan kepalanya saat diminta menggunakan peralatan permainan tersebut. Farhan tidak ingat lagi cara bermain patok lele, dan ia tidak tertarik untuk belajar kembali permainan tersebut. “Han ek lon (tidak mau saya),” kata dia dengan suara lebih kepada dirinya sendiri.

Aneuk mit jinoe pane ditu’oh maen patok lele, hana meu dituri pih, karna han tom dikalon le (bocah zaman sekarang mana tahu permainan patok lele, tidak kenal pun, karena tidak pernah dilihat lagi),” ujar Marzuki, 40 tahun, warga Dayah Guci.

Warga lainnya menimpali, “Nyan kon permainan tanyoe jameun, jinoe ka hana le. Aneuk mit jinoe yang na carong maen video gem bak hape dan laptop atau maen playstation bak warnet (patok lele itukan permainan kita masa kecil dahulu, sekarang tidak ada lagi. Bocah zaman sekarang hanya pintar bermain video games di telepon pintar dan laptop atau bermain playstation di warung internet)”.

Selain patok lele, anak-anak di Dayah Guci—begitu pula gampong lainnya di Aceh—kini juga tidak mengenal permainan tak galah atau sambar elang, dan balapan menggunakan silop bruek alias sandal batok kelapa kering yang diberi lubang di bagian tengah untuk dipasang tali plastik.

***

Melansir kompas.com, 19 Mei 2016, Dosen Ilmu Sejarah Universitas Syiah Kuala, T.A. Sakti menyebutkan, permainan tradisional lahir dari kreativitas masyarakat dan beranjak dari kondisi alamnya. Dalam setiap permainan tradisional terdapat nilai-nilai luhur, seperti kekompakan, relasi sosial, berani, jujur, mencintai alam, dan membangun kreativitas.

Nilai-nilai itu secara pelan-pelan tertanam pada anak-anak yang terlibat dalam permainan. “Permainan tradisional secara tidak langsung menjadi media pembentukan karakter anak-anak,” ujar Sakti.

Permainan tradisional juga membangun kebersamaan karena tidak ada permainan yang bisa dimainkan sendiri. Berbeda dengan permainan pada telepon pintar, bisa bermain tanpa butuh orang lain. “Peradaban sudah berganti. Saat ini orang semakin individualis. Sesama tetangga bisa tidak saling kenal,” ucap Sakti.

Di Aceh, permainan tradisional mulai jarang dimainkan sejak era 1990-an. Saat itu, Aceh tengah dilanda konflik, permainan yang bisa dimainkan pada malam hari hilang. Perkembangan teknologi semakin menyudutkan permainan tradisional. Kini, bahkan sebagian anak tidak pernah merasakan permainan tradisional. “Sekarang, karakter, moral, dan perilaku anak-anak semua dibentuk melalui pendidikan formal. Padahal, nilai-nilai luhur dari kegiatan tidak formal lebih mengakar,” ujar Sakti.

Menurut Sakti, hilangnya permainan tradisional dalam masyarakat adalah kerugian. Namun, di sisi lain, perubahan suatu peradaban tidak bisa dihadang. Permainan tradisional kini bisa dihidupkan kembali dengan pendekatan wisata. Selain merawat budaya juga mendatangkan keuntungan ekonomi bagi daerah.

Tidak hanya di Aceh, berbagai jenis permainan anak tradisional yang banyak tersebar di berbagai daerah di Sumatera Utara maupun daerah lainnya di Indonesia terancam punah lantaran tak ada lagi yang memainkannya.

Antropolog Universitas Negeri Medan (Unimed), Dr. Phil Ichwan Azhari, mengatakan, permainan anak tradisional seperti patok lele, congkak, galasing, engklek, sambar elang dan enggrang, sudah tergantikan permainan yang lebih modern seperti video games maupun bombom car.

Padahal, kata Ichwan, aneka permainan tradisional tersebut memiliki cukup banyak keunggulan yang tidak didapat pada permainan modern, seperti tumbuhnya rasa solidaritas atau kesetiakawanan, rasa empati kepada sesama, keakraban dengan alam dan selalu menjunjung nilai-nilai sportivitas. Selain itu sisi positif lainnya yang dapat diperoleh dari aneka permainan tradisional tersebut adalah memungkinkan timbulnya inisiatif, kreativitas anak untuk menciptakan dan inovasi untuk memproduksi sendiri.

"Dengan munculnya daya kreativitas itu, sianak kemudian akan mencoba mencari desain baru dan mengadaptasi permainan yang mereka butuhkan," kata Ichwan, dilansir kompas.com, 2 Juni 2009.

Menurut Ichwan, aneka permainan anak tradisional itu juga akan menjauhkan anak dari sikap konsumtif, menampilkan kegembiraan, gerak tubuh yang ekspresif, di samping juga melatih tingkat kecerdasan dan logikanya. "Misalnya saja pada permainan galasing yang harus dimainkan oleh minimal empat orang untuk satu grup. Keempat orang ini akan bahu-membahu mengalahkan lawannya agar jangan sampai melewati daerah yang dijaganya," katanya.

Beda dengan permainan anak modern yang semuanya diproduksi oleh pabrik secara massal, sehingga kreativitas anak untuk menciptakan sendiri permainannya menjadi hilang dan rata-rata permainan itu dimainkan satu orang saja. Akibatnya sianak akan asyik dengan dirinya sendiri saja tanpa peduli dengan teman-teman sebaya dan lingkungannya.

Ichwan menyebutkan, permainan modern cenderung akan menjadikan anak individualis dan berbasis materi. Anak setiap saat akan meminta uang untuk membeli alat permainannya. Karenanya permainan modern potensial menjadikan anak sebagai generasi yang hanya menuntut, meminta, kurang usaha, tidak inovatif dan tidak kreatif, untuk memproduksi dan mereproduksi apa yang dibutuhkannya.

"Sudah saatnya orang tua untuk kembali mengajarkan aneka permainan anak tradisional itu kepada anaknya. Karena selain lebih mendidik, aneka permainan tradisional itu juga lebih murah biayanya," kata Ichwan.

***

Beda dengan Farhan yang sudah remaja, sejumlah bocah usia taman kanak-kanak dan sekolah dasar di Dayah Guci tampak tertarik ketika diajarkan permainan patok lele. Adil dan Fahlevi, misalnya. Setelah diajarkan di bawah pengawasan orang tua, keduanya langsung bermain patok lele dengan riang gembira sampai keringat membasahi bajunya.

Satu demi satu bocah lainnya yang merupakan tetangga mereka kemudian turut bergabung, belajar patok lele dan bermain bersama diwarnai canda tawa. Permainan tradisional itu tampak membuat masa kecil mereka lebih ceria, tanpa harus mengeluarkan uang satu rupiah pun.[](idg)

Editor: IRMANSYAH D GUCI

Berita Terkait


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.