19 October 2019

Kabar Aceh Untuk Dunia


Cerita Duafa Belum Dibangun Rumah Karena Tender Gagal

...

  • Fazil
  • 09 October 2019 12:00 WIB

T. Anjar Asmara, warga duafa di Gampong Batuphat Timur, Kacamatan Muara Satu, Lhokseumawe. Foto: Fazil/portalsatu.com
T. Anjar Asmara, warga duafa di Gampong Batuphat Timur, Kacamatan Muara Satu, Lhokseumawe. Foto: Fazil/portalsatu.com

T. Anjar Asmara (34) masih ingat jawaban pihak Dinas PUPR Lhokseumawe saat memverifikasi kondisi rumahnya yang sudah tidak layak huni di Gampong Batuphat Timur, Kacamatan Muara Satu, bulan Puasa lalu, Juni 2019. “Saat orang dinas datang ke sini, saya tanyakan, ‘kapan kira-kira akan dibangun rumah (layak huni) untuk saya?’ Orang dinas menjawab, ‘satu bulan setelah pengecekan sudah turun atau ada rumahnya’,” ujar Anjar Asmara kepada portalsatu.com, Selasa, 8 Oktober 2019, sore.

Namun, sudah tiga bulan Anjar menanti, sampai kini rumah layak huni untuk dirinya belum ada tanda-tanda akan dibangun. Tidak ada pemberitahuan apapun dari pihak Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), mengapa pembangunan rumah duafa itu belum direalisasikan. Anjar pun kaget saat mendengar pertanyaan wartawan, apakah dirinya sudah mengetahui tender pembangunan rumah kaum duafa Kecamatan Muara Satu tahun anggaran 2019 ini gagal? Anjar menggelengkan kepalanya. Dia sama sekali tidak tahu.

***

(Rumah T. Anjar Asmara. Foto: Fazil/portalsatu.com)

Anjar adalah salah satu warga yang sudah diverifikasi tim Dinas PUPR Lhokseumawe untuk dibantu rumah bersumber dari APBK 2019. Selain Anjar, ada 10 warga miskin lainnya di Kecamatan Muara Satu, calon penerima rumah bantuan Pemerintah Kota Lhokseumawe. Pemerintah menjanjikan akan membangun rumah sederhana untuk kaum duafa itu karena rumah mereka saat ini dinilai tak layak huni.     

Rumah Anjar berdinding kayu, sebagian tampak bolong-bolong, dan bekas dimakan rayap. Sebagian tripleks plafon rumah itu sudah rusak. Atap seng dapur rumah tersebut berkarat dan bocor. Rumah itu berada di Kompleks Pondok Baru Gampong Batuphat Timur, Kecamatan Muara Satu, Lhokseumawe. Letaknya di tengah-tengah rumah permanen milik warga lainnya.

Rumah itu memiliki dua kamar. Satu ruangan tidur Anjar dan istrinya. Pasangan suami istri ini belum memiliki anak. Satu kamar lagi ditempati orang tua Anjar, Herlina (65) dan T. Miswardi (68).

"Beginilah kondisi rumah saya, sudah banyak bagian yang rusak. Dapur sangat repot mengurus atap bocor saat hujan, karena seng sudah tua dan berkarat. Kalau hujan deras tergenang air di dapur, karena lantai sangat rendah," kata Herlina, ibu kandung Anjar.

Menurut Anjar, rumah itu dibangun orang tuanya sekitar tahun 1987 silam di atas tanah berukuran 11 x 6 meter milik mereka. "Selama ini saya dan keluarga berusaha merehab rumah ini seadanya. Seperti penimbunan areal rumah setinggi 60 cm, karena sebelumnya sering banjir saat musim hujan," ungkapnya.

“Bahkan, beberapa tahun lalu rumah saya tergenang air sekitar 1 meter. Banjir juga dialami tetangga saya, karena lokasi ini berdekatan dengan anak sungai. Alhamdulillah, sekarang sudah diperbaiki saluran pembuangan, selokan di samping rumah. Sehingga air tidak mengendap ketika musim hujan, tidak banjir lagi,” ucap Anjar.

***

(Ruangan dapur rumah T. Anjar Asmara. Foto: Fazil/portalsatu.com)

Anjar mengaku tidak memiliki pekerjaan tetap. “Kadang-kadang kerja bangunan,” katanya. Ayahnya, T. Miswardi, tukang parkir di Pasar Batuphat Timur. “Ayah saya sekali-kali juga tarik becak,” ucap Anjar saat ditanya tentang becak tua di depan rumahnya.

Lantaran tidak punya penghasilan tetap, Anjar tak mampu membangun rumah layak huni. Itulah sebabnya, dia mengajukan permohonan bantuan rumah kepada Pemerintah Kota Lhokseumawe melalui dinas terkait. Tim Dinas PUPR kemudian turun ke lapangan untuk memverifikasi, termasuk mendatangi rumah Anjar pada Ramadan lalu. "Saat itu mereka (tim Dinas PUPR) juga mengambil foto kondisi rumah saya. Setelah itu sampai sekarang tidak ada kabar lagi,” ujar Anjar.

Tiba-tiba Anjar mendengar kabar dari awak media yang mengonfirmasi dirinya sebagai salah seorang calon penerima bantuan rumah duafa tahun 2019 sudah diverifikasi tim Dinas PUPR Lhokseumawe. Konfirmasi itu dilakukan setelah sejumlah wartawan menerima informasi dari Masyarakat Transparansi Aceh (MaTA), Senin, 7 Oktober 2019 sore, bahwa paket pembangunan 11 rumah kaum duafa Kecamatan Muara Satu, sudah dua kali tender berakhir gagal. Sehingga, proyek di bawah Dinas PUPR Lhokseumawe itu gagal direalisasikan tahun ini.

Kepala Unit Layanan Pengadaan (ULP) Sekretariat Kota Lhokseumawe, Tri Hariadi, dikonfirmasi portalsatu.com lewat telepon seluler, Senin malam, mengakui paket  pembangunan 11 rumah kaum duafa di Kecamatan Muara Satu, dua kali tender berakhir gagal. “Betul. Jadi, kalau menurut saya dapat informasi dari Pokja (Kelompok Kerja) Konstruksi, itu tidak ada yang memenuhi persyaratan. (Perusahaan rekanan yang ikut tender paket itu tidak memenuhi persyaratan) ya. Tidak memenuhi teknislah, administrasi, semuanya,” ujar Tri.

Menurut Tri, setelah dua kali tender berakhir gagal, pihaknya berkonsultasi melalui surat dengan Kadis PUPR Lhokseumawe sebagai pengguna anggaran (PA) paket pembangunan rumah duafa tersebut. Jawaban Kadis PUPR, kata Tri, tidak cukup waktu lagi untuk pelaksanaan pekerjaan seandainya ULP membuka tender ketiga kali sampai ditetapkan pemenang dalam sisa masa tahun anggaran 2019 ini.

Anjar merasa terkejut saat mengetahui informasi tersebut. "Saya sangat kecewa kalau seperti ini. Karena sampai sekarang saya masih berharap ada rumah tersebut. Lagi pula saya baru sekali mengajukan permohonan bantuan ini kepada dinas terkait," ujarnya.

Dia memohon kepada Wali Kota Lhokseumawe melalui Dinas PUPR agar tidak membatalkan pembangunan rumah bantuan tersebut tahun ini. “Saya sudah sangat berharap, tahunya begini kan kecewa,” ucap Anjar meratap.[]

Baca juga: Paket 11 Rumah Duafa 2 Kali Tender Gagal, MaTA: Copot Kepala ULP

Ini Rincian Anggaran Pembangunan Rumah Duafa di Lhokseumawe Tahun 2019

Editor: portalsatu.com

Berita Terkait


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.