18 September 2019

Kabar Aceh Untuk Dunia


Cerita Keluarga Talita Korban Kecelakaan Xenia di Pante Bidari

...

  • Fazil
  • 18 June 2019 12:30 WIB

Suasana rumah duka almarhumah Talita di Paloh Lada, 17 Juni 2019. Foto: Fazil/portalsatu.com
Suasana rumah duka almarhumah Talita di Paloh Lada, 17 Juni 2019. Foto: Fazil/portalsatu.com

Isak tangis keluarga, sanak saudara, dan tetangga Ti Hajar (37 tahun), pecah saat mobil ambulans menepi di halaman gubuk tua di Gampong Paloh Lada, Kecamatan Dewantara, Aceh Utara, Senin, 17 Juni 2019, sekitar pukul 14.30 WIB. Dari dalam ambulans itu diturunkan jenazah Talita Hasna Humaira (4 tahun), putri kandung Ti Hajar.

Talita salah seorang dari enam korban meninggal dunia akibat kecelakaan mobil Daihatsu Xenia kontra bus Sempati Star dan Atlas di Jalan Banda Aceh-Medan, Gampong Meunasah Leubok, Kecamatan Pante Bidari, Aceh Timur, Senin, 17 Juni 2019, dinihari. Lima korban meninggal dunia lainnya, Tasman (39 tahun), warga asal Gampong Raya Dagang, Kecamatan Peusangan, Bireuen, Nazir ZA (39 tahun), Kartini (32 tahun), M. Safrizal (12 tahun) dan Ichsan Maulana (4 tahun), keempatnya satu keluarga penduduk Gampong Paya Dua, Kecamatan Banda Baro, Aceh Utara.

Kecelakaan lalu lintas tersebut juga menyebabkan tiga korban luka berat, Ti Hajar (ibu kandung Talita), Zahara (2 tahun, putri Ti Hajar atau adik Talita), dan Muhammad Fattahillah (10 tahun, putra pasangan suami istri Nazir ZA dan Kartini). Ketiga korban luka berat kini dirawat secara intensif di rumah sakit.

Menurut pihak kepolisian kepada portalsatu.com, saat kejadian itu mobil Xenia BK 1085 ZS melaju dari arah Medan dengan kecepatan tinggi. Bus Atlas BL 7555 G meluncur dari arah yang sama berada di depan mobil Xenia. Sedangkan bus Sempati Star BL 776 AA melaju dari arah berlawanan yaitu Banda Aceh menuju Medan. Setibanya di lokasi kejadian jalan lurus, Xenia menyalip Atlas yang berada di depannya dengan mengambil lajur kanan. Saat bersamaan dari arah berlawanan melaju Sempati Star, sehingga terjadi tabrakan 'laga kambing'. Lalu, Atlas menabrak Xenia yang sudah terhenti di tengah jalan.

Kesembilan korban—enam meninggal dunia dan tiga luka berat—adalah sopir dan penumpang mobil Xenia. Saat kejadian, mobil itu dikemudikan Tasman. Menurut pihak keluarga Ti Hajar kepada portalsatu.com, Tasman merupakan suami kedua Ti Hajar. Keduanya menikah setelah Ti Hajar sempat menjanda usai bercerai dengan suami pertama. Hasil pernikahan Ti Hajar dengan suaminya yang pertama, dikarunia seorang putra, Muhammad Yanis (9 tahun, siswa kelas tiga SD), dan seorang putri, yakni Talita. Jadi, Yanis dan Talita ialah anak tiri Tasman. Namun, Yanis tidak ikut dalam rombongan mobil yang ditumpangi ibunya. Yanis tinggal di rumah Ti Hadijah, kakak kandung Ti Hajar di Paloh Lada.  

“Hasil pernikahan Tasman dengan Ti Hajar, mereka dikarunia seorang putri, Zahara, usianya masih sekitar 2 tahun, yang turut menjadi korban luka berat akibat kecelakaan mobil itu,” ujar Nasruddin, abang ipar Ti Hajar.

***

Ti Hajar berasal dari keluarga kurang mampu. Selama ini, ia bersama suami dan anaknya menempati gubuk tua di Paloh Lada. Gubuk itu berdinding bambu dan beratap daun rumbia. Lantainya terbuat dari kayu yang dibangun setinggi satu meter di atas tanah. Untuk masuk ke gubuk tersebut harus menaiki empat anak tangga yang juga dibuat dari kayu.

“Gubuk warisan orangtuanya, kebetulan Ti Hajar putri bungsu dari 10 bersaudara,” kata Nasruddin.

Menurut Nasruddin, selama ini di gubuk itu kadang kala Ti Hajar menjahit pakaian pesanan orang lain. Sedangkan suaminya, Tasman bekerja sebagai penjual sandal di pinggir jalan kawasan Keude Krueng Geukueh, Ibu Kota Kecamatan Dewantara. “Barang itu (sandal) milik orang lain yang disuruh berjualan sama Tasman," ujarnya.

Informasi diperoleh Nasruddin, Tasman berangkat ke Medan, Sumatera Utara, diajak rekannya, Nazir ZA, warga Paya Dua, Kecamatan Banda Baro. “Nazir mengajak Tasman sebagai sopir mobil Xenia yang dirental oleh Nazir untuk suatu keperluan ke Medan. Agar ada yang menemani istri dan anak Nazir, diajaklah istri dan anak Tasman sekalian,” kata Nasruddin.

Nahas, dalam perjalanan pulang dari Medan ke Aceh Utara, Xenia tersebut mengalami tabrakan beruntun dengan Sempati Star dan Atlas. Tasman yang meninggal dunia, jenazahnya dipulangkan ke kampung halaman di Bireuen. Jenazah Nazir, istri dan dua anaknya, dipulangkan ke Paya Dua. Sedangkan jenazah Talita dimakamkan di Paloh Lada.

Ibu Talita, Ti Hajar, dan Zahara, adik Talita, kini menjalani perawatan intensif di rumah sakit. Usai kecelakaan mobil, keduanya, termasuk Muhammad Fattahillah (putra Nazir ZA), dievakuasi ke Rumah Sakit Graha Bunda Idi, Aceh Timur.

Menurut Nasruddin, Ti Hajar kemudian dirujuk ke Rumah Sakit Umum Zainoel Abidin (RSUZA) Banda Aceh. Hal sama disampaikan Geuchik Gampong Paloh Lada, Razali. "Ti Hajar sudah dirujuk ke RSUZA Banda Aceh, karena kondisinya dikabarkan kritis," ujar Razali.

Razali, Nasruddin dan warga lainnya di Paloh Lada mendoakan agar Ti Hajar dan Zahara segera pulih sehingga dapat pulang kembali ke gampong itu. Pihak keluarga bersama masyarakat Paloh Lada juga menggelar tahlilan untuk almarhumah Talita dan almarhum Tasman. Untuk tempat tahlilan, masyarakat mendirikan tenda di halaman gubuk tua milik Ti Hajar.[]

Editor: portalsatu.com

Berita Terkait


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.