07 December 2019

Kabar Aceh Untuk Dunia


Cerita Penimbunan Hingga Jaksa Turun Tangan

...

  • Fazil
  • 26 November 2019 10:30 WIB

Lokasi penimbunan di dekat Kompleks Makam Putro Neng. Foto direkam 25 November 2019. Foto: portalsatu.com
Lokasi penimbunan di dekat Kompleks Makam Putro Neng. Foto direkam 25 November 2019. Foto: portalsatu.com

Sederet proyek penimbunan di Lhokseumawe tahun anggaran 2019 menjadi sorotan publik lantaran diduga hasil pekerjaan tidak sesuai perencanaan. Jaksa pun turun tangan meminta klarifikasi tertulis berisi data paket-paket pengadaan langsung (PL) itu kepada pejabat terkait. Salah satunya penimbunan dekat Kompleks Makam Putro Neng, di Gampong Blang Pulo, Kecamatan Muara Satu. PPTK Dinas PUPR mengakui, dalam perencanaan ketinggian penimbunan 5 meter, tapi realiasinya 3 meter. Namun, menurut PPTK, volumenya tak berkurang karena diperluas panjang dan lebar penimbunan. Kok bisa?

Lubang-lubang kecil nan dangkal tampak bertaburan di permukaan lahan hasil penimbunan dekat Kompleks Makam Putro Neng itu. “Oh, itu lubang yang baru saja saya buat untuk menanam jagung. Karena tanah timbunan ini belum digunakan, saya pikir kenapa tidak saya coba tanami jagung,” ucap seorang pria paruh baya menjawab portalsatu.com di lokasi itu, Senin, 25 November 2019, pagi.

Di lahan baru hasil penimbunan itu, sebatang pohon seakan-akan “sesak nafas”. Maklum, separuh batangnya terkubur. “Nye tanyoe meutanom udep-udep teuntee uberaya ta klik, mugken bak kayee nyan dimoe cit tapi handeuh ta deungo (kalau kita/manusia terkubur hidup-hidup tentu menangis histeris, mungkin pohon itu juga menangis, tapi tidak bisa kita dengar),” kata seorang warga lainnya menamsilkan.

Akan tetapi, warga itu tidak mengetahui nama pohon tersebut yang tak kuasa meronta, terhimpit tanah proyek penimbunan. “Pohon seperti itu banyak tumbuh di hutan. Tanah timbunan ini saya dengar juga diambil dari kawasan hutan, atau gunung,” ujar pria tadi.

Tanah dari gunung diangkut ke lokasi itu kehendak pejabat pemerintah atas nama proyek “Penimbunan di Samping Kuburan Putro Neng Gp. Blang Pulo, Kec. Muara Satu”, yang tertulis dalam dokumen anggaran Kota Lhokseumawe. Pagu kegiatan konstruksi itu senilai Rp144.657.500.

Lokasi proyek penimbunan tersebut berjarak lebih 20 meter dari pagar Kompleks Makam Putro Neng. Sebelah barat penimbunan itu berbatasan dengan gudang barang rongsokan. Sebelah timurnya rawa-rawa dan tambak. Sisi utara berbatasan dengan rawa-rawa hingga bekas rel kereta api, berjarak sekitar 10 meter. Sedangkan selatannya, tanah hasil penimbunan beberapa tahun silam yang kini sudah berumput.

“Lahan ini milik Pertamina. Bahkan sampai ke dekat Puskesmas Muara Satu (arah timur lahan hasil penimbunan), itu milik Pertamina. Warung kopi saya juga di atas lahan Pertamina,” tutur pemilik warung kopi di bibir jalan raya sisi timur Makam Putro Neng.

Pemilik warkop itupun paham bahwa lahan Pertamina dia maksudkan adalah aset negara. Diperkirakan aset tersebut sekarang di bawah kewenangan Lembaga Manajemen Aset Negara (LMAN) Kementerian Keuangan. Tak penting baginya siapa berwenang atas aset itu. Yang penting, dia berharap negara tidak menggusur warkopnya.

“Lahan yang berbatasan langsung dengan (pagar Kompleks) Makam Putro Neng, dulu-nya rawa-rawa, ditimbun tanah sekitar tiga tahun lalu. Lahan baru hasil penimbunan sekitar dua bulan lalu (yang berbatasan langsung dengan lahan penimbunan tiga tahun silam), dulu-nya juga rawa-rawa,” ungkap seorang warga yang minta namanya tidak ditulis.

Atas permintaan portalsatu.com, warga itu bersedia mengeluarkan alat pengukur lahan baru hasil penimbunan yang alokasi angggarannya di bawah Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Lhokseumawe itu. Hasil pengukurannya, panjang dan lebar penimbunan itu sekitar 21 x 20 meter. Sedangkan lahan hasil penimbunan sekitar tiga tahun lewat—yang berbatasan dengan Kompleks Makam Putro Neng, hasil pengukurannya turut disaksikan seorang pria lainnya, sekitar 23 x 21 meter.

Lantas, berapa meterkah ketinggian tanah hasil penimbunan yang baru selesai dikerjakan pada September 2019 itu?

Bersama warga itu, portalsatu.com melompat ke dalam rawa-rawa di sisi timur tanah hasil penimbunan. Sandal amblas ke dalam lumpur rawa-rawa. “Tanah gambut (tanah lunak dan basah), makanya berlumpur,” ucap warga itu.

Warga itu lalu menegakkan sebatang bambu sebesar pergelangan tangan anak kecil setinggi sekitar lima meter di atas permukaan rawa-rawa. Lalu, seorang warga lainnya membantu menarik tali sejajar dengan permukaan tanah hasil penimbunan tersebut hingga ke tiang bambu tadi. Setelah diberi tanda pada bambu, diukur dengan meteran untuk mengetahui ketinggian tanah hasil penimbunan di atas permukaan rawa-rawa. Hasil pengukuran warga itu diketahui ketinggian tanah timbunan dari sisi timur sekitar 1,60 meter (1 meter + 60 cm) di atas permukaan rawa-rawa.

(Tampak dari sisi timur. Foto portalsatu.com)

Berapa meterkah kedalaman rawa-rawa di sisi timur tanah timbunan tersebut?

Warga itu menancapkan bambu tadi ke dalam rawa-rawa, lalu diteken sekuat tenaga, menikam perut bumi hingga mentok. Pria tersebut kemudian mengangkat kembali bambu, lantas diukur dengan meteran. “Hampir dua meter,” ucap warga itu tanpa dusta.

“Bisa saja tanah timbunan masuk ke rawa-rawa sedalam sekitar satu meter atau bahkan lebih. Karena saat penimbunan tanah ini dilakukan oleh kontraktor juga menggunakan alat berat. Saya tidak tahu nama alat berat itu, yang jelas bukan ban karet, tapi besi. Kalau orang kita bilang moto meulimpeun, tapi bukan alat berat besar, yang agak kecil,” tutur warga itu.

Pengukuran dilakukan warga atas permintaan portalsatu.com untuk memperoleh gambaran terkait ketinggian penimbunan tanah itu. Untuk memperoleh hasil pengukuran lebih akurat, perlu dilakukan ahli di bidangnya, terutama ahli yang independen.

Sementara itu, ketinggian tanah timbunan di atas permukaan rawa-rawa sebelah utara tampak lebih tinggi dibandingkan dari sisi timur yang diukur tadi. “(Secara kasat mata) mungkin itu sekitar 2,5 sampai 3 meter ketinggiannya,” ucap warga tadi memperkirakan.

Menurut warga itu, pekerjaan penimbunan yang dilakukan pihak rekanan proyek tersebut pada September lalu, selesai dalam 1,5 hari. Namun, dia tidak tahu, akan digunakan untuk apa lahan baru hasil penimbunan tersebut.

Geuchik Gampong Blang Pulo, H. Syeh Ahmad HB., mengatakan, informasi ia peroleh dilakukan penimbunan di dekat Kompleks Makam Putroe Neng itu agar dapat dibangun balai untuk tempat singgah masyarakat yang berziarah ke kuburan tersebut. “Kalau ada balai bisa memudahkan masyarakat yang berziarah (ke Makam Putro Neng),” ujar Geuchik Syeh.

Akan tetapi, Geuchik Syeh mengaku tidak tahu jumlah anggaran proyek penimbunan itu. “Karena saya tidak memiliki data atau laporan untuk anggaran tersebut. Maka saya tidak bisa menjelaskan sesuai atau tidak yang dikerjakan oleh pihak terkait," katanya.

Selain di dekat Kompleks Makam Putro Neng, ada pula sejumlah paket PL penimbunan lainnya di bawah Dinas PUPR Lhokseumawe tahun anggaran 2019 diduga hasil pekerjaan tidak sesuai perencanaan. Berdasarkan data nomenklatur paket penimbunan dan nilai pagu dikirim seseorang kepada portalsatu.com via WhatsApp sekitar sepekan lalu tapi ia tidak merespons saat ditanya namanya, kegiatan-kegiatan tersebut ialah lanjutan penimbunan Gampong Blang Crum, Kecamatan Muara Dua Rp48.093.00,  penimbunan kuburan Gampong Blang Pulo Rp192.877.000, penimbunan lapangan bola kaki di Gampong Blang Weu Panjoe, Kecamatan Blang Mangat Rp135.014.000.

Berikutnya, penimbunan lapangan bola voli Gampong Meunasah Dayah, Muara Satu Rp96.888.000, penimbunan lapangan bola voli Gampong Paloh Punti, Muara Satu Rp96.188.000, penimbunan tanah kuburan Lorong Lampoh Kuta  Gampong Mesjid Punteut, Blang Mangat Rp36.565.000, penimbunan lapangan bola Gampong Tunong, Blang Mangat Rp141.657.000.

Lalu, penimbunan lapangan voli Gampong Rayeuk Kareung, Blang Mangat Rp137.075.000, penimbunan tanah desa di Gampong Meunasah Blang, Muara Dua Rp189.877.000, penimbunan lapangan bola Gampong Uteun Bayi, Banda Sakti Rp96.950.000, penimbunan lapangan bola kaki peudage Gampong Meunasah Mee, Muara Dua Rp144.657.000. Ada pula penimbunan di tiga lokasi lembaga pendidikan Islam, satu di Kecamatan Muara Dua, dan dua di Blang Mangat.

Kabid Perkim Dinas PUPR Lhokseumawe, Misran, dikonfirmasi portalsatu.com beberapa hari lalu hanya menyampaikan bahwa sejumlah kegiatan penimbunan itu sudah sesuai. Akan tetapi, dia tidak membeberkan data antara perencanaan dan hasil pekerjaan, sehingga pernyataannya masih menimbulkan sederet pertanyaan.

Misran yang juga Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) kegiatan penimbunan itu beralasan tidak ingat data secara detail paket-paket proyek tersebut. Menurut dia, data ada pada Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK) penimbunan di bawah Dinas Dinas PUPR Lhokseumawe, Faisal.

Faisal tidak ada di kantornya saat portalsatu.com ke Dinas PUPR, Senin, 25 November 2019, sekitar pukul 10.30 WIB. “(Faisal) belum tampak hari ini,” kata seorang pegawai Dinas PUPR diamini rekannya.

Kepala Kejaksaan Negeri Lhokseumawe, Muhammad Ali Akbar, S.H., M.H., dikonfirmasi melalui Kepala Seksie Intelijen Miftahuddin, S.H., Senin, sekitar pukul 14.15 WIB, mengatakan pihaknya sudah menyurati pejabat terkait di Dinas PUPR untuk meminta klarifikasi secara tertulis terkait kegiatan penimbunan dan paket PL lainnya yang diduga dikerjakan tidak sesuai perencanaan.

“Kami sudah menyurati pihak terkait di Dinas PUPR untuk meminta klarifikasi, itu langkah pertama yang kami lakukan. (Setelah disurati) Kabid terkait menyampaikan dalam dua hari ini akan dikirim laporan sebagai klarifikasi mereka, karena kita minta secara tertulis. Nanti kita lihat berapa nilai kontraknya dan segala macam. Karena yang mencuat saat ini kan pagunya saja. Jadi, kita sedang menunggu laporan sebagai klarifikasi dari pihak dinas terkait,” ujar Miftahuddin melalui telepon seluler saat ditanya respons dari jaksa tentang informasi paket-paket PL di Dinas PUPR yang kini menjadi bahan perbincangan publik.

Portasatu.com baru berhasil memperoleh nomor kontak dan terhubung dengan Faisal, PPTK Dinas PUPR Lhokseumawe yang membawahi proyek penimbunan di Kecamatan Muara Satu dan Muara Dua, Senin malam. Faisal membenarkan “Penimbunan di samping kuburan Putro Neng Gp. Blang Pulo, Kec. Muara Satu” pagunya Rp144.657.500 dengan nilai kontrak Rp144 juta. Dia tidak ingat nama perusahaan pelaksana kegiatan tersebut, tapi hafal identitas pimpinan perusahaan itu. Faisal juga tahu persis nama perusahaan konsultan pengawas proyek tersebut.

“Pekerjaan (penimbunan itu) selesai September 2019. Pencairan dana sudah tuntas 100 persen,” ujar Faisal saat diwawancarai melalui telepon seluler.

Faisal mengaku tidak ingat panjang dan lebar penimbunan di dekat Kompleks Makam Putro Neng. Dia minta waktu membuka laptopnya untuk melihat data. Akan tetapi, dia ingat ketinggian penimbunan tersebut. “Di situ ketinggiannya direncanakan bukan 4, tapi 5 meter bahkan. Tapi, karena existing dari awal (lahan penimbunan sebelumnya, sekitar tiga tahun lalu, berbatasan dengan penimbunan baru), jika kita ambil 4 sampai 5 meter terlalu tinggi,” tuturnya.

Itulah sebabnya, kata Faisal, direalisasikan penimbunan setinggi 3 meter agar permukaannya sejajar dengan lahan hasil penimbunan sebelumnya. “Dengan ketinggian 3 meter, bertambah luas panjang dan lebar, sehingga volumenya tetap, sekian kubik. Ketinggian itu menyesuaikan timbunan yang sudah ada, 3 meter. Kubikasi tanah timbunan itu sendiri tidak berkurang. Karena dengan berkurangnya ketinggian, bertambahlah volume panjang dan lebar. Dan itu sendiri sudah dalam back-up kita,” ujar Faisal.

Faisal melanjutkan, “(Realisasi ketinggian penimbunan beda dengan perencanaan karena) di dalam perencanaan menafsirkan dulu. Atau saat diukur masuk ke dalam, kan ada lumpur di situ, rawa-rawa. Di dalam itu (rawa-rawa) terhitung juga sekitar 30 atau 40 cm. Pengurangan volume tidak ada, karena bertambah luas. Secara logikanya kan begitu”.

Apakah dalam kontrak pekerjaan dibolehkan seperti itu? “Dibolehkan karena kan volumenya tidak berkurang. Fungsinya asbuilt drawing itulah dia, dalam back-up data. Kenapa ketinggian penimbunan tidak 5 meter? Tidak mungkin, karena existing 3 meter, (jika ditimbun 5 meter) jadi seperti anak tangga,” ujar Faisal.

Bagaimana mengetahui penimbunan lama setinggi 3 meter? “Setelah kita timbun, setelah pekerjaan kita menghitung kembali, opname namanya. Hasil opname itulah, tambah kurangnya di situ. Sebelum berakhir bekerja, kami opname dulu, jangan keluarkan alat dulu. O… ini kurang volumenya, harus tambah lagi. Karena kita tidak mengikuti gambar (perencanaan), tapi mengikuti timbunan yang sudah ada, berarti tambah lebar dan panjang lagi,” ucap dia.

“Di situ, saat pekerjaan, ada pengawasan, ada konsultan pengawas, ada anggota saya juga. Justru dari konsultan pengawas dan unsur teknis kitalah di situ menjadi tambah panjang dan lebar, tidak mengambil dari perencanaan,” kata Faisal.

Disinggung hasil pengukuran warga atas permintaan portalsatu.com, ketinggian tanah timbunan di sisi timur sekitar 1,60 meter di atas permukaan rawa-rawa, Faisal mengatakan, “Jangan salah, salah itu. Yang harus diukur ujung sebelah sana (utara), jangan sebelah sini (timur). Ujung utara 3 meter lebih (ketinggiannya)”.

(Tampak dari sisi utara. Foto: portalsatu.com)

Di lokasi penimbunan itu ada pohon yang separuh batangnya tertimbun tanah. Jika benar ketinggian penimbunan 3 meter, bukankah sangat dalam terkubur pohon itu? “Pohon itu bukan di tengah,” ucap Faisal.

Faisal menyebutkan, meskipun anggaran penimbunan itu sudah dicairkan 100 persen kepada rekanan, tapi ada masa pemeliharan sekitar 180 hari. “Masa pemeliharaan sampai Januari – Februari (2020), terhitung setelah pencairan dana pada September lalu. Dalam masa pemeliharaan, mereka kan ada retensi 5 persen, jadi kalau kurang bisa memperbaiki. Di situlah masa perbaikan mereka,” katanya.

PPTK penimbunan itu kemudian minta waktu membuka laptopnya untuk melihat data panjang dan lebar penimbunan tersebut. Sekitar 1,5 jam kemudian, Faisal menelepon portalsatu.com. “Luasnya 24 x 22 meter, tinggi 3 meter lebih kurang,” ujar Faisal.

Faisal pun membuat pengakuan baru. “Jadi begini, jika seperti Anda lihat itu tidak salah, saat lahan berlumpur, saat ditimbun lumpur naik ke atas, bahkan lumpur itu satu meter ke bawah, selebihnya sekitar 2 meter ke atas. Saat lumpur mengering, jika dari permukaan kita hitung betul. Jadi, kedalaman lumpur terhitung juga kita”.[](nsy

Editor: portalsatu.com

Berita Terkait


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.