15 November 2018

Kabar Aceh Untuk Dunia


Cerita Rusli Derita Kusta di Ujong Blang

...

  • PORTALSATU
  • 17 September 2018 12:00 WIB

Rusli menerima tamunya: Herman Ibrahim dan Jalaluddin dari Komunitas Al-Birru (kanan), Ketua Lazismu Farhan Zuhri (topi putih) dan rekan Rusli, Toni (topi hitam), 15 September 2018. @portalsatu.com
Rusli menerima tamunya: Herman Ibrahim dan Jalaluddin dari Komunitas Al-Birru (kanan), Ketua Lazismu Farhan Zuhri (topi putih) dan rekan Rusli, Toni (topi hitam), 15 September 2018. @portalsatu.com

Rusli tidak bisa berjalan lagi sejak lima tahun silam. Lima jari kaki kirinya terputus akibat kusta, sehingga tinggal tumit. Jari kaki kanannya hanya menyisakan jempol. Sebagian telapak kaki kanannya juga hilang digerogoti penyakit menahun tersebut. Pria 45 tahun itu harus memakai tongkat ketiak untuk bisa berjalan dengan susah payah. 

Menggunakan satu tongkat ketiak, Rusli berjalan dengan cara melompat-lompat per lahan ke kamar mandi di belakang gubuknya. Jarak gubuknya dengan kamar mandi sekitar dua meter. Setelah berwudu, Rusli kembali ke dalam gubuk untuk salat Asar.

Usai salat, Rusli yang hanya mengenakan kain sarung lalu merangkak ke luar, dan duduk di bangku depan mulut pintu belakang gubuknya. Ia kemudian kedatangan tamu. Di antaranya, Herman Ibrahim dan Jalaluddin, SKM., M.Kes., dari Komunitas "Al-Birru" Lhokseumawe, yang datang bersama Toni, 47 tahun, rekan Rusli, 15 September 2018, sore.

Rusli tinggal seorang diri di gubuk berbentuk panggung yang bagian depannya menyerupai balai, di Dusun Tanoh Lapang, Gampong Ujong Blang, Lhokseumawe. Gubuk beratap daun rumbia, dinding tepas, dan lantai kayu, itu dibangun oleh sejumlah penduduk Ujong Blang--salah satunya Toni--di atas lahan milik seorang warga untuk tempat tinggal Rusli. 

"Gubuk ini kita bangun tiga tahun lalu. Sebelumnya, Rusli dua tahun tinggal di balai kecil mirip pos jaga di pinggir Jalan Ujong Blang, dekat lapak pedagang ikan. Di sana sering muncul bau menyengat hidung dari sisa-sisa ikan yang dibuang pedagang dan akhirnya membusuk. Sehingga kita bantu bangun gubuk di tempat ini agar Rusli merasa lebih nyaman," ujar Toni diamini Rusli.

Rusli mengatakan, ibu kandungnya, Fatimah, yang sudah lanjut usia tinggal di rumahnya di dusun lain dalam gampong itu. Letak rumah ibunya lumayan jauh dari gubuk Rusli. Ayah Rusli sudah lama meninggal dunia. Rusli adalah putra sulung dari dua bersaudara. Adiknya perempuan sudah berumah tangga dan menetap di Gampong Panggoi, Lhokseumawe.

"Untuk makanan saya setiap hari diantar oleh kakak sepupu saya, Kak Ri (nama panggilan), yang tinggal di Gampong Ulee Jalan (tetangga Ujong Blang)," ujar Rusli.

Rusli mengaku menderita penyakit itu sejak masih remaja, tapi lima tahun terakhir semakin parah sehingga ia tidak bisa berjalan lagi. Rusli sempat dirawat sekitar sebulan di Rumah Sakit Umum Cut Meutia, Lhokseumawe. "Tidak ada perubahan. Setelah itu tidak berobat lagi, karena tidak sanggup berjalan dan tak punya biaya," katanya.

Pria lajang ini pernah menimba ilmu agama Islam dua tahun di dayah milik Tgk. Ibrahim Ulee Jalan dan beberapa tahun di Dayah Darul Istiqamah Bireuen. "Karena penyakit ini, saya akhirnya ke luar dari dayah itu," ujar Rusli.

Rusli bersama rekannya, Toni, yang juga alumni salah satu dayah, belakangan ini mengisi pengajian untuk beberapa warga Ujong Blang, di ruangan depan gubuknya itu. "Pengajian setiap malam Jumat," kata Toni berbagi cerita kepada tamu Rusli, Jalaluddin dan Herman Ibrahim.

Sekitar 10 menit Herman Ibrahim dan Jalaluddin bercakap-cakap dengan Rusli dan Toni, lalu datang beberapa tamu lainnya dari Lazismu Lhokseumawe. Ketua Lazismu, Farhan Zuhri, bersama anggotanya datang ke gubuk itu setelah memperoleh informasi dari Herman Ibrahim tentang kondisi Rusli yang memprihatinkan.

Herman Ibrahim berharap Lazismu membantu Rusli untuk meringankan beban penderita kusta tersebut. "Apapun latar belakang kita seharusnya bisa bermanfaat untuk orang lain, terutama orang susah dan sedang menderita penyakit seperti Rusli ini," ujar Herman yang juga tokoh pemuda Gampong Uteuen Bayi, Lhokseumawe.

Saran Herman itu mendapat respons dari Farhan Zuhri. Dia mengatakan, Lazismu segera menggelar rapat untuk menentukan bantuan yang akan diberikan kepada Rusli. "Hari ini kita assessment untuk kemudian kita bahas dalam rapat. Insya Allah setelah rapat, Lazismu akan memberikan bantuan kepada Rusli," kata Farhan.

Selain dari Lazismu, Herman berharap pula kepedulian Pemko Lhokseumawe, termasuk Dinas Kesehatan, untuk membantu pengobatan Rusli. Diharapkan juga bantuan lainnya dari pihak-pihak yang peduli terhadap warga miskin sedang menderita penyakit itu.

Rusli hanya tersenyum saat ditanyakan, bantuan apa yang ia butuhkan, selain pengobatan. Pastinya, ia memerlukan kursi roda atau alat bantu lainnya agar memudahkan dirinya mengambil air wudu di kamar mandi. Rusli masih memiliki semangat hidup yang kuat dan taat beribadah di tengah ujian berupa kusta yang dideritanya.[](idg)

Editor: portalsatu.com

Berita Terkait


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.