15 November 2018

Kabar Aceh Untuk Dunia


Dan, Sebagian Toko Pakaian Pasar Los pun Tiarap

...

  • PORTALSATU
  • 08 September 2018 16:35 WIB

Sebagian toko di Pasar Los B, Lhokseumawe, tutup. @Rizkita
Sebagian toko di Pasar Los B, Lhokseumawe, tutup. @Rizkita

Sebagian toko pakaian terpaksa tutup lantaran sepi pembeli. Salah seorang pengelola toko yang masih bertahan pun meratap, "13 tahun jualan baju belum pernah merasakan separah ini". 

"Toko Ini Disewakan". Tiga kata itu ditulis dengan huruf kapital warna merah pada karton putih ditempel dengan lakban hitam di dinding salah satu toko, Jalan Perniagaan Los B, Lhokseumawe. Di bawah tiga kata tersebut ditulis nomor telepon seluler yang bisa dihubungi jika ingin menyewa toko itu.

Di sisi kanan "Toko Ini Disewakan" itu, ada Toko "Nusrah Collection" menjual busana muslim, pakaian wanita. Toko itu pun tertutup rapat dilengkapi dua gembok. Toko di sebelah kanan "Nusrah Collection", juga tutup. 

Depan "Nusrah Collection", Toko "Tita Arumi Collection", tutup pula. Samping kirinya, Toko "Fajar Collection", nasibnya sama: tutup alias tiarap. Di bawah papan nama toko tersebut, ada kertas putih bertuliskan "toko ini disewakan", juga dicantumkan nomor telepon seluler yang dapat dihubungi.

Beberapa toko pakaian lainnya di Los B juga terlihat tutup saat portalsatu.com ingin meliput tingkat daya beli di Pasar Los Lhokseumawe, Jumat, 7 September 2018, sore. Lantai dan pinggir jalan depan toko-toko yang tutup itu menjadi tempat parkir sepeda motor. Sebagian toko lainnya dibuka, tapi tampak sepi. Pengelola dan karyawan salah satu toko pakaian terlihat duduk singklet gaki (bersilang kaki).

Menurut pengelola dan karyawan toko yang buka itu, banyak toko tutup lantaran tidak sanggup membayar biaya sewa. Pasalnya, beberapa tahun terakhir, toko-toko pakaian di Pasar Los, sepi pengunjung atau konsumen.

Yuyun (40), salah seorang pengelola toko pakaian di Pasar Los mengatakan, terkadang ia merasa bosan menjaga toko lantaran sepi pembeli. Bahkan, dalam sehari adakalanya hanya terjual satu baju. 

"Untuk kondisi seperti ini, biasanya hanya pelanggan tetap yang datang, itu pun tidak sesering dulu, karena pelanggan saya banyak mengeluhkan keuangan yang pas-pasan," ujar Yuyun.

Yuyun melanjutkan, "Terkadang agar baju bisa habis, kami terpaksa mengutangkan baju-baju kepada pelanggan. Untuk sepasang baju ada yang bayar setengah dari harga, sisanya bulan depannya lagi. Itu pun hanya untuk pelanggan tetap".

Wanita ini menjelaskan, harga baju bervariasi. Baju blus dan gamis Rp250 ribu hingga Rp900 ribu. "Untuk standarnya Rp400 ribu, Rp500 ribu, Rp600 ribu. Itu pun kadang lakunya tidak tentu. Untuk tahun 2016, 2017, 2018, ini sangat anjlok," kata Yuyun.

Anjloknya daya beli membuat Yuyun kewalahan membayar biaya sewa toko itu, dan juga gaji karyawannya. Yuyun harus membayar biaya sewa toko Rp15 juta per tahun dan gaji karyawan Rp1,3 juta/bulan.

"Kalau toko sepi seperti ini, bisa jadi saya pun terpaksa menutup toko karena tidak bisa membayar (sewa) toko. Saya sudah 13 tahun berjualan baju, belum pernah merasakan hal yang separah ini," ujar Yuyun.

Jol (20), yang menjual jilbab menyebutkan, paling diminati pembeli biasanya jilbab polos. Sedangkan jilbab bermotif hanya tersedia secara musiman. "Harga satu jilbab yang biasa dikenal jilbab paris polos Rp10 ribu sampai Rp20 ribu," katanya.

Pria ini pun mengeluhkan menurunnya tingkat daya beli masyarakat tiga tahun belakangan ini. Sementara ia harus membayar biaya sewa toko mencapai Rp20 juta per tahun, dan gaji karyawan Rp50 ribu/hari.

"Kalau ditanya berapa jilbab laku per hari, saya tidak tahu bilang karena tidak menentu. Kadang 10 jilbab laku kemarin. Terjadi penurunan (daya beli) mungkin karena keuangan masyarakat (sedang terpuruk)," ujar Jol.

Tahun 2017 lalu, Jol melanjutkan, untuk pembayaran sewa toko sangat pas-pasan dengan keuntungan yang ia peroleh. "Kami khawatir kalau ke depan seperti ini terus, bagaimana kami bayar sewa toko," katanya.

Ikhsan, mahasiswa yang kuliah sambil bekerja di toko penjualan tas dan sepatu di Pasar Los, digaji Rp50 ribu perhari. Ia mengatakan, bos-nya (pengelola toko) pernah memimjam uang bonus yang akan diberikan kepadanya untuk menutupi pembayaran sewa toko tersebut.

"Sewa toko Rp18 juta per tahun. Saat sepi seperti ini sangat berpengaruh untuk (biaya) sewa toko dan uang jajan untuk saya," ucap Ikhsan.

Harga tas di toko Iksan bekerja Rp300 ribu hingga Rp600 ribu. Sedangkan harga sepatu Rp80 ribu sampai Rp100 ribu per pasang.

Sementara toko tempat Juli Mauliza (20) bekerja, menjual tas dan sepatu dengan harga lebih tinggi karena bahannya disebut lebih bagus. Biaya sewa toko itu pun mencapai Rp25 juta pertahun, dan Juli menerima gaji Rp800 ribu perbulan dari bos-nya.

"Kalau dihitung nominalnya, lakunya pun kadang Rp1 juta per hari, itu sudah termasuk tas dan sepatu," ucap Juli.

Tentu saja, kata Juli, menurunnya daya beli selama ini berdampak terhadap pembayaran biaya sewa toko yang disebut "terbilang mahal". 

M. Yunus (31), pemilik "Toko Ini Disewakan", mengatakan sudah berjalan tiga tahun tokonya tutup lantaran tidak ada yang sewa. Dia menyebutkan, kondisi tersebut terjadi karena sepi pengunjung. "Daya beli la'eh (lemah)," kata Yunus dihubungi lewat telepon seluler, Sabtu, 8 September 2018.

Yunus menilai, selain faktor perekonomian masyarakat melemah, pengunjung Pasar Los semakin sepi sejak dibukanya toko-toko baru menjual pakaian di Jalan Gudang Lhokseumawe. "Akses ke Pasar Los sudah sempit, setelah dibuka jalur alternatif, jalan jalur dua yaitu Jalan Gudang sejak dua tahun terakhir. Sehingga masyarakat tidak lagi berduyun-duyun ke Pasar Los seperti dulu, karena di Jalan Gudang sudah dibuka toko-toko baru, yang aksesnya lebih mudah," ujarnya.

Menurut Yunus, lima tahun lalu harga sewa tokonya yang memiliki dua lantai mencapai Rp20 juta/tahun. Tiga tahun terakhir, harga sewa diturunkan menjadi Rp18 juta. Sedangkan toko di depannya, kata dia, hanya satu lantai dan disewakan Rp17 juta/tahun. Meskipun Yunus sudah menurunkan harga, tapi tokonya belum ada yang sewa lantaran sebagian pedagang pakaian di Pasar Los tiarap alias gulung tikar.[](idg)

Laporan Rizkita, pelajar Basri Daham Journalism Institute (BJI) Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Lhokseumawe, yang sedang tugas magang di portalsatu.com.

Editor: portalsatu.com

Berita Terkait


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.