22 January 2017

Kabar Aceh Untuk Dunia


Dendang Perjuangan dari Tepian Tamiang

  • NATIONAL GEOGRAPHIC
  • 16 November 2016 14:15 WIB

Suasana belajar-mengajar nan bersahaja di ruang sekolah SMP Merdeka, Tampor Paloh, Aceh Timur. Inilah sekolah menengah pertama yang pertama dibangun di Kecamatan Simpang Jernih. @NatGeo Indonesia
Suasana belajar-mengajar nan bersahaja di ruang sekolah SMP Merdeka, Tampor Paloh, Aceh Timur. Inilah sekolah menengah pertama yang pertama dibangun di Kecamatan Simpang Jernih. @NatGeo Indonesia

"DI SITULAH dulunya kampung kami berada,” kata Hasbi seraya menunjuk sebuah delta sungai yang terhampar di seberang kami berdiri. Kami memandanginya beberapa saat. Hanya tampak kayu dan kerikil-kerikil yang terhanyut derasnya arus sungai. “Jangankan pohon kelapa, rumah-rumah panggung kami pun habis tak tersisa dihantam banjir.”

Hasbi merupakan seorang imam kampung, sebuah jabatan turun-temurun dari moyangnya. Sehari-hari dia bekerja menjala ikan. Kadang, kala sungai tak bersahabat, dia memilih untuk merenda jaring di rumah kayunya yang luasnya tak lebih dari lapangan bulu tangkis.

Tampurpaloh, sebuah gugusan desa titisan suku Gayo di Aceh Timur, berada di tepian pertemuan arus hulu Sungai Tamiang dan hulu Sungai Tampurbor. Namun, petaka banjir yang melibas pada akhir 2006, telah menghanyutkan permukiman dan segala harapan Hasbi dan warganya. Sebuah bencana yang kedatangannya tak pernah diramalkan oleh para leluhur mereka yang menghuni tepian sungai ini sejak berabad silam. Saat itu banyak desa yang terdampak banjir karena meluapnya Sungai Tamiang, namun Tampurpaloh telah ditakdirkan menjadi desa yang terparah. “Orang-orang mengungsi ke bukit,” ujar Hasbi. “Syukurlah tak ada korban jiwa, semua selamat.”

Kini, mereka menghuni tanah baru di pinggang bukit, seberang permukiman lama yang berselendang halimun. Bencana banjir telah berlalu hampir sepuluh tahun, namun Hasbi dan warganya tak seberuntung desa-desa lainnya dalam Kecamatan Simpangjernih.

Dari delapan desa di kecamatan tadi, hanya Tampurpaloh yang tidak memiliki sumber air bersih. Dari seratusan rumah di desa itu, tak lebih dari dua lusin rumah yang memiliki jamban. Satu-satunya desa yang masih menggunakan listrik dari mesin diesel yang haus solar. Tampurpaloh juga solah tak tersentuh peradaban informasi karena sinyal selular pun tak sampai ke desa ini.

Tanah baru tampaknya sedikit demi sedikit telah menjanjikan harapan baru pula. Sebuah sekolah berdinding kayu dan berlantai tanah dibangun atas dasar kebutuhan warga. Bersama sukarelawan yang merintis upaya pendidikan, kini mereka memiliki sekolah menengah pertama yang menjadi bangunan sekolah kedua setelah Sekolah Dasar Negeri Tampurpaloh.

“SMP Merdeka” demikian nama sekolah lanjutan di Tampurpaloh yang menyala-nyala karena swadaya warga.  Ali Muda Tinendung, pendidik dan ketua Yayasan Anak Merdeka, merupakan salah satu sukarelawan yang merintis pendirian sekolah tersebut. Ali dan para sukarelawan lainnya berangkat mengarungi Sungai Tamiang dan datang untuk kali pertama ke desa ini jelang perayaan Hari Kemerdekaan pada Agustus 2007. “Bahwa di sini kita butuh perjuangan!”

“Kami melewati Kota Langsa dan Kualasimpang yang penuh perayaan,” ujar Ali mengenang. “Namun, ketika sampai Tampurpaloh, suasana hening seolah belum merdeka.” Ketika dia datang, desa ini memiliki angka buta huruf yang tinggi. Ali kembali mengingat, saat itu Tampurpaloh belum merdeka dari kebodohan dan ketertinggalan, termasuk soal fasilitas umum dan perhatian pemerintah. Desa ini, ungkapnya, juga tidak merdeka untuk menentukan pilihan hidup. “Itulah, kita pikir cikal bakal kenapa sekolah ini bernama SMP Merdeka,” ujarnya. “Inilah SMP pertama di Kecamatan Simpangjernih.”

Ali menuturkan bahwa anak-anak yang ingin bersekolah di sini tidak dipungut biaya. Syarat pendaftarannya: Setiap orang tua siswa diwajibkan menyumbang dua kayu untuk papan dan tiang sekolah. “Sekolah ini milik masyarakat,” ujarnya. “Masyarakat milik sekolah.

Warga umumnya bekerja sebagai pencari kayu di hutan, berladang, pencari ikan, dan pencari burung murai daun. Semuanya dilakukan dalam skala kecil bahkan nyaris subsisten—habis untuk kebutuhan sendiri. Mereka menjualnya ke Kualasimpang, sebuah kota harapan warga Tampurpaloh di tepian hilir Tamiang yang berjarak sekitar lima jam perjalanan dengan perahu bot. Kendati mereka hidup di alam nan permai, segala kebutuhan ikan asin, sayur-mayur, hingga telur pun diperoleh dari kota. Tampurpaloh adalah sebuah fenomena.

Sejak berdirinya SMP Merdeka, banyak anak-anak yang melanjutkan belajarnya. Apabila sebelum banjir besar umumnya mereka hanya lulusan sekolah dasar, kini terbuka kesempatan untuk melanjutkan ke jenjang berikutnya. Setelah lulus dari SMP Merdeka, sebagian anak-anak Tampurpaloh melanjutkan SMA ke Kota Langsa. Kini, kota tujuan baru mereka adalah Langsa, bukan lagi Kualasimpang. Sedikitnya, sembilan anak lulusan SMP Merdeka telah berhasil duduk di bangku kuliah di Langsa. Terbukanya kesempatan belajar di jenjang SMP telah mengurangi angka pernikahan dini—meski pertunangan usia muda masih tak terhindarkan.

“Kalau tidak sekolah, saat tua menyesal,” kata Srimah malu-malu. Gadis itu kini siswi Kelas III di SMP Merdeka. Usianya 17 tahun, namun sudah dipinang. Dalam tradisi Tampurpaloh, anak gadis yang belum menikah pada usia 15 tahun dianggap aib. Calon suaminya berusia 20-an, lulusan sekolah dasar, dan bekerja sebagai pembalak kayu alim atau cendana. Srimah menuturkan, kendati calon suami ingin menikahinya seusai lulus SMP, dia meminta untuk menundanya supaya bisa duduk di bangku SMA. Srimah berharap dapat melanjutkan SMA di Tampurpaloh, tak perlu jauh ke Langsa yang banyak memakan biaya. “Saya ingin menjadi guru di sini,” katanya sembari tersipu, “ingin berbagi ilmu.”

Sampai hari ini masih sedikit lembaga yang terlibat dalam masa depan pendidikan anak-anak Tampurpaloh. Pertamina EP Asset-1 Rantau Field yang berbasis di Aceh Tamiang berinisiatif turut mendukung kegiatan “Siekula Aneuk Nanggroe” di SMP Merdeka. Dukungan itu lewat bantuan buku-buku, membangun fisik dengan konsep sekolah alam berupa perpustakaan dua lantai, dan tiga buah ruang kegiatan belajar, sarana mandi-cuci-kakus. Rencananya, bangunan berarsitektur balai-balai itu akan digunakan untuk siswa yang melanjutkan ke tingkat SMA.

“Jadi bentuknya tak seperti sekolah yang tertutup, melainkan menggunakan konsep terbuka dengan alam supaya anak-anak lebih bersahabat dan lebih dekat dengan alam,” ujar Dedi Zikrian, yang mewakili Pertamina EP Asset-1 Rantau Field. “Kita juga ada program Pertamina Mengajar, lewat kegiatan belajar mengajar bagi adik-adik didik Siekula Aneuk Nanggroe di SMP Merdeka. Kita juga punya program Pertamina Menginspirasi. Pekerja-pekerja Pertamina diberikan kesempatan untuk memberikan inspirasi kepada adik-adik.”

Selain program fasilitas pendukung pendidikan, Pertamina EP Asset-1 Rantau Field juga merintis “Tree Energy” untuk kebutuhan listrik bagi sekolah. Sumber listrik dengan perantara pohon kedondong ini digagas oleh Naufal Raziq, pelajar setingkat SMP di Kota Langsa. Sebanyak 40 pohon kedondong telah ditanam Pertamina EP Rantau Field di pekarangan sekolah pada tahap awal ini, yang kelak diharapkan menerangi fasilitas ruang belajar, balai, rumah guru. Walaupun tidak sekuat listrik negara atau diesel, setidaknya ada secercah cahaya yang bisa dinikmati masyarakat yang sejak puluhan tahun silam telah merdeka.

Dedi juga berharap, “Semoga mereka mempunyai semangat yang tinggi dan mampu menggapai cita-citanya untuk menjadi orang yang benar-benar berhasil dan bermanfaat bagi dirinya, keluarga, dan desanya—walapun desa mereka minim fasilitas pendidikan.”

Jelang sore, gadis-gadis Tampurpaloh berbaris dengan busana tradisi yang cerah di pelataran SMP Merdeka. Sembari menari, salah seorang gadis melantunkan syair dalam bahasa Gayo. Kira-kira artinya demikian, “Terima kasihku kepada Bapak Pertamina karena telah membangun sekolah SMA. Terima kasihku Bapak Ali dan Bapak Rezeki yang pertama membangun SMP di sini. Kalau tidak karena Bapak, mungkin kami tidak sekolah karena orang tua kami tak sanggup membiayainya.”

Hasbi yang turut menyaksikan tari bines itu berkata, “Sejak ada SMP Merdeka, anak-anak inilah yang kami harapkan memajukan daerah kami.”

Nun jauh di muara Tamiang yang berarus tenang, kami menjumpai sehamparan hutan mangrove kawasan lestari. Kawasan di pesisir Kecamatan Seruway ini telah menjadi tempat hidup aneka satwa seperti monyet, burung, aneka ikan dan udang, buaya, hingga tuntong laut (Batagur borneoensis). Selain sebagai habitat aneka satwa dan puspa, mangrove juga berfungsi sebagai penepis intrusi air laut, sumber obat, dan ekowisata alam pesisir.

Tuntong laut merupakan salah satu spesies kura-kura air tawar dan darat dari 29 spesies kura-kura yang ada di Indonesia. Keluarga tuntong memiliki dua spesies, tuntong laut dan tuntong sungai. Warnanya secara dominan warna cokelat muda. Pada musim kawin, pejantan tuntong sungai berubah kehitam-hitaman. Sedangkan tuntong laut berubah menjadi putih dengan tiga strip dengan garis hitam di karapasnya. Kepala pun berubah total menjadi putih dan matanya dilingkari garis hitam, hidungnya berwarna oranye kemerahaan, mulutnya bak bergincu merah. Lantaran wajahnya menyerupai badut, satwa ini kerap dijuluki kura-kura badut.

Tuntong laut dan tuntong sungai memiliki habitat yang sama, yaitu hutan mangrove. Namun, tempat bertelur mereka berbeda. Tuntong sungai, saat musim bertelur bergerak ke tepian berpasir di hulu sungai. Sedangkan tuntung laut memiliki tempat bertelur sama dengan penyu, yaitu pantai pasir di laut. Di Indonesia, penelitian tentang tuntong laut terhitung masih sedikit.

“ Metode terkini yang dilakukan,” ujar Joko Guntoro, “adalah studi telemetri.” Lelaki putra Jawa kelahiran Sumatra itu merupakan pendiri dan peneliti pada Yayasan Satucita Lestari. “Setidaknya studi itu bisa menjawab pertanyaan: Setelah pelepasan, apakah tukik bisa bertahan hidup atau tidak? Jadi itu semacam alat evaluasi program bagi kita sendiri.”

Studi telemteri ini baru bermula saat pelepasan 20 tukik tuntong laut pada akhir 2015, demikian ungkap Joko. Tiga diantaranya diberi alat transmisi yang memancarkan sinyal dengan interval setiap sepuluh detik. Selama Januari hingga Maret, tukik-tukik itu masih terdeteksi. Namun semenjak itu belum terdeteksi kembali. “Kalau pada radius sampai 20 kilometer kita tidak menemukan sinyal,” ujar Joko, “berarti kita harus memperluas pencarian.”

Joko juga mengungkapkan dukungan Pertamina EP Asset-1 Rantau Field dalam penelitian soal keanekaragaman genetika tuntong laut di kawasan Ujung Tamiang. “Kita akan melakukan studi keragaman genetika di populasi indukan tuntong laut di habitat. Setiap anakan tukik membawa kode genetika dari bapak dan induknya. Jadi dari situ kita dapat ketahui seberapa besar keragaman genetik di populasi indukan liar di kawasan Aceh Tamiang.”

Apabila penelitian tersebut menghasilkan kesimpulan bahwa keragaman genetika yang rendah, hal ini patut diwaspadai karena mungkin terjadi kegagalan populasi, artinya populasi tidak akan berkembang. Namun, “apabila keragaman genetikanya tinggi, berarti kita tidak perlu memberi upaya yang lebih jauh untuk memperbanyak populasi keragaman genetikanya,” ujar Joko.

Perjuangan pelestari dalam penelitian keragaman genetika ini didukung penuh oleh Pertamina EP Asset-1 Rantau Field. Pelaksananya, Yayasan Satucita Lestari bekerja sama dengan beberapa personel LIPI yang berpengalaman dalam penelitian genetika dan kura-kura.

“Konservasi tidak hanya menyelamatkan,” pesannya, “tetapi juga pelepasliaran demi menjaga keseimbangan alam.” Yayasan Satucita Lestari Indonesia dan Pertamina EP Asset-1 Rantau Field telah sepakat untuk menargetkan pelepasliaran sebanyak 500 ekor tukik selama 2013 hingga 2017. Sampai tahun lalu, jumlah aktual yang dilepas ke alam masih sebanyak 167 ekor. Namun, Joko menambahkan dengan berseri-seri bahwa sebanyak 666 ekor tukik—yang sekarang berada di kolam Fasilitas Penetasan dan Pembesaran di Kualasimpang—kelak siap dilepasliarkan ke habitat asalnya pada Oktober 2016.

“Cintailah tuntong laut seperti Anda mencintai Indonesia karena dia adalah kura-kura yang sangat Indonesia,” ujar Joko. “Sangat unik, warna dasarnya merah dan putih seperti warna bendera Indonesia.”[] sumber: National Geographic

Editor: BOY NASHRUDDIN

Berita Terkait


portalsatu.com © 2015. All Rights Reserved.