09 April 2020

Kabar Aceh Untuk Dunia


Gegara Mahar ‘Dirampok’

...

  • portalsatu.com
  • 19 March 2020 19:30 WIB

Aparat keamanan mengevakuasi Kahar Muzakar ke rumah sakit [Foto: IST]
Aparat keamanan mengevakuasi Kahar Muzakar ke rumah sakit [Foto: IST]

Seorang pemuda merekayasa perampokan. Persoalan mahar jadi penyebab.

Ungkapan love is blind mungkin ada benarnya, demi mendapat simpati calon mertua, seorang pemuda merekayasa perampokan. Tapi, skenario yang tak sempurna membuat polisi berhasil mengungkapnya.

Adalah Kahar Muzakar, pria yang galau karena asmara itu. Betapa tidak, batas waktu pertunangan dengan gadis impiannya sudah tiba. Ia harus segera melamar, tapi mahar belum ada. Ia baru menyerahkannya dua mayam emas saat pertunangan, sisanya 11 mayam lagi harus diserahkan saat pernikahan. Dan tenggatnya hanya tinggal dalam hitungan hari saja.

Tak mau hilang muka di hadapan calon mertua dan sang buah hati, ide konyol muncul di benaknya; merekayasa perampokan. Dengan itu ia bisa berdalih, dana dan emas yang disiapkan untuk pernikahan raib dirampok.  

Senin pagi, 16 Maret 2020, usai shalat subuh, warga Seneubok Pidie, Kecamatan Darul Aman, Kabupaten Aceh Timur, dihebohkan dengan penemuan seorang pemuda terikat dalam alur sungai di bawah jembatan.

Baju kemeja putih yang dikenakan pemuda itu penuh lumpur, begitu juga dengan celana jeans dan sepatu sport yang dipakainya. Tapi, jam tangan warna coklat dengan tali kulit warna hitam masih terpasang di tangan kirinya. Pria yang belakangan diketahui bernama Kahar Muzakar itu terlihat lemah, tubuhnya diangkat oleh warga ke sebuah balai.

Zulkifli, keuchik Seuneubok Pidie membuat laporan ke polisi. Tak lama kemudian aparat keamanan datang. Seorang polisi bersama seorang tentara mengangkat tubuh pemuda berusia 20 tahun itu, menaikkannya ke kenderaan, pemuda “malang” itu dievakuasi ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sultan Abdul Aziz Syah, Peureulak, Aceh Timur.

Usai menjalani perawatan di rumah sakit, ketika pemuda itu dianggap sudah baikan, polisi melakukan interogasi. Hasilnya, menurut keterangan Kapolsek Peureulak, Selasa, 17 Maret 2020, Kahar Muzakar mengaku telah dirampok.

Perampokan bermula ketika pada Minggu malam, 15 Maret 2020, ia menunggu bus di Simpang Empat, Gampong Sungai Pauh, Kecamatan Langsa Kota, Kota Langsa hendak pulang ke Darul Aman. Tapi sampai pukul 23.00 WIB, bus yang ditunggu-tunggu tidak ada yang lewat.

Dalam kesendiriannya di situ, tiba-tiba sebuah mini bus berhenti di depannya, enam pria yang tak dikenal turun, mereka membekap Kahar dan membawa naik ke mobil, kemudian melaju ke arah barat.

Dalam mini bus itu Kahar dipaksa untuk menyerahkan barang-barang berharga miliknya. Ia mengaku tidak membawa barang berharga. Kawanan rampok itu kemudian memeriksa tas ransel milik Kahar, di sana ditemukan uang tunai Rp 11 juta dan emas seberat 8 mayam.

Setelah pelaku mendapatkan barang berharga itu, mereka memukul leher Kahar hingga pingsan. Tubuhnya kemudian diikat dengan seutas tali plastik warna hitam. Sekitar pukul 05.00 WIB, pelaku menurunkan tubuh Kahar ke bawah jembatan di pinggir Alur Sungai Alue Nireh tempat ia ditemukan oleh warga.

Polisi menemukan keterangan Kahar sebagai korban perampokan agak rancu, jam yang masih melekat di tangannya menjadi salah satu petunjuk, mengapa barang itu tidak diambil oleh para perampok. Polisi terus menggali informasi, semakin digali semakin ditemukan sesuatu yang berbelit-belit. Kuat dugaan ia berbohong.

Apa lagi setelah dokter yang menanganinya di Rumah Sakit Sultan Abdul Aziz Syah Peureulak mengungkapkan bahwa tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan pada tubuh Kahar. Tim Khusus (Timsus) yang terdiri dari Opsnal Satintelkam, Satreskrim dan Satresnarkoba Polres Aceh Timur terus melakukan penyelidikan.

Tak butuh waktu lama bagi polisi untuk menemukan kebenaran. Kamis, 19 Maret 2020 Kasat Reskrim Polres Aceh Timur, AKB Dwi Arys Purwoko mengungkapkan kejanggalan kasus perampokan tersebut kepada media. Kahar mengakui perampokan terhadap dirinya itu hanyalah rekayasa.

Kenyataannya adalah, pada malam Minggu, 15 Maret 2020 itu, Kahar keluar dari rumah kontrakan milik Wak Lan di Kuala Langsa. Ia meminjam uang pada Wahyu, anak Wak Lan sebenyak Rp 1 juta untuk biaya pulang ke Banda Aceh, karena dari awal ia mengaku tinggal di Banda Aceh, bukan di Idi Cut, Kecamatan Darul Aman, Aceh Timur.

Setelah memberi pinjaman, Wahyu kemudian mengantarnya ke Simpang Empat Kuala Langsa. Setelah Wahyu pergi, Kahar naik becak menuju Lapangan Merdeka, ia tinggal di Mushala Bambu Runcing sehari semalam. Pikirannya galau memikirkan pernikahan denan tunangannya yang hanya tinggal beberapa hari lagi.

Senin malam, 16 Maret 2020, Kahar menuju Simpang Komodor, masih di Kota Langsa, ia akan pulang ke Idi Cut. Tapi, karena masih memikirkan tentang pernikahannya, dalam perjalanan ia memutuskan untuk turun di Masjid Alu Nireh.

Dalam kegalauannya itu, terbesit ide untuk merekayasa perampokan terhadap dirinya. Ia ingin pulang bukan sebagai “pengeran” yang akan meminang gadis pujaan hati, tapi sebagai korban perampokan yang tak berdaya. Dengan begitu ia berharap simpati dari calon mertua, hingga pernikahannya bisa ditunda. Alasan untuk itu pun sudah disiapkan, emas untuk mahar dan uang untuk acara pernikahan sudah dirampok.

Malam itu Kahar menginap di Masji Alue Nireh, Selasa dini hari, 17 Maret 2020, ia berjumpa dengan warga yang baru selesai shalat. Pria itu bertanya pada Kahar tujuannya, ia mengaku mau ke Alur Sungai Alue Nireh untuk memancing. Pria itu kemudian memberinya tumpangan ke sana.

Sampai di sana, Kahar duduk di Café Alni yang berada persis di pinggir sungai. Dari café itu ia kemudian turun ke bawah jembatan, berguling-guling di lumpur, hingga baju kemeja putih, celana jeans dan sepatu sport yang dipakainya benar-benar kotor. Di sana pula ia menemukan seutas tali plastik warna hitam dan mengikat dirinya.

Pagi itu, dalam alur sungai di bawah jembatan, ia merintih meminta pertolongan, hingga kemudian warga yang melintas di sana menemukannya dan dievakuasi ke rumah sakit. Kisah drama perampokan pun meluncur dari mulutnya.[**]

Editor: portalsatu.com

Berita Terkait


Alamat:

Jalan Prof. Ali Hasjmy, No. 6, Desa Lamteh, Ulee Kareng, Kota Banda Aceh. Kode Pos: 23118.

portalsatu.com © 2020 All Rights Reserved.