28 October 2020

Kabar Aceh Untuk Dunia


Gok-Sawari, Cinta Buta Berujung Maut

...

  • Win Porang
  • 16 October 2020 21:45 WIB

Ariska Afandi alias Gok pelaku pembunuhan Sawari [Foto: Win Porang]
Ariska Afandi alias Gok pelaku pembunuhan Sawari [Foto: Win Porang]

Setelah mereka berjalan sekitar 300 meter dari jalan, Gok pun melakukan aksinya. Ia mencium mantan istrinya itu sekali, kemudian bak pembunuh berdarah dingin, sambil memberi ciuman terakhir, ia menikam perut mantan istrinya itu, Sawari terjatuh, tanpa ampun Gok kemudian menusuk lehernya dua kali. Setelah itu tubuh Sawari dibuang ke sebuah alur.

Ungkapan love is blind mungkin ada benarnya. Kisah Ariska Afandi alias Gok (25) dengan Sawari (17) contohnya. Bermula dari pertemuan tak sengaja, lalu kawin lari, kemudian cerai, dan berakhir dengan pembunuhan.

Gok yang tega membunuh mantan istrinya itu pada tahun 2018, bisa menghindar dari jerat hukum hingga dua tahun lamanya. Tapi, tak ada kejahatan sempurna, kasus itu akhirnya berhasil diungkap polisi, ia diciduk dan dibawa ke lokasi pembunuhan, kerangka Sawari pun ditemukan.

Inilah kisah cinta buta itu, cinta yang berujung maut. Kisah ini bermula pada tahun 2017 ketika Gok yang berasal dari Desa Kute Baru, Kecamatan Lingge, Kabupaten Aceh Tengah bertemu dengan Sawari warga Desa Badak, Kecamatan Dabun Gelang, Kabupaten Gayo Lues.

Pertemuan dua sejoli ini terjadi di jembatan Cempa. Saat itu Sawari masih duduk di bangku kelas III Sekolah Menengah Pertama (SMP), sementara si Gok bekerja di sebuah bengkel di desa Gele, Kecamatan Blangkejeren, Kabupaten Gayo Lues.

Pucuk cinta ulam pun tiba, dari pertemuan di jembatan Campa itu, mereka saling berkirim pesan melalui telepon selular. Setelah dua bulan kenalan, Gok mengajak Sawari menikah, mereka kawin lari dengan mahar dua mayam emas dan uang Rp 18 juta. Usai menikah, pasangan muda ini tinggal di desa Gele, di rumah toke tempat Gok bekerja.

Masalahnya muncul setelah setahun pernikahan, keluarga Sawari meminta Gok untuk menceraikan istrinya itu. Perceraian itu pun terjadi di bawah tangan. Sejak itu Gok mengaku mulai menyimpan dendam terhadap keluarga mantan mertuanya itu. Meski demikian ia tetap berhubungan dengan Sawari, mereka masih sering tegur sapa dan menanya kabar.

Dendam Gok memuncak pada Desember 2018. Pikirannya kalut, ia mendatangi pandai besi di desa Panggur, meminta untuk menempa sebuah pisau, harganya Rp50 ribu. Pisau akan digunakan untuk membunuh Sawari, mantan istrinya itu. Ironisnya, pembunuhan itu bukan kerana bermasalah dengan Sawari, tapi karena dendam terhadap keluarga mertuanya, yang memisahkannya dengan Sawari.

Untuk memuluskan rencananya itu, Gok menghubungi Sawari, ia mengajak mantan istrinya itu untuk berjumpa. Alasannya, Gok akan pulang ke Takengon, Kabupaten Aceh Tengah. Tanpa curiga Sawari pun ikut dengannya. “Ia mau ikut saya karena katanya keluarganya juga sudah tidak peduli padanya,” kata Gok, Kamis, 15 Oktober 2020 saat olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) di Ise-Ise, Kabupaten Aceh Tengah.

Pada hari naas itu, Gok meminta Sawari membawa sepeda motor Supra X125 dan surat-surat kelengkapannya. Tanpa curiga Sawari manut saja. Gok meminta Sawari agar tidak memberi tahu siapa pun, mereka berjumpa di jembatan Leme, dari sana mereka menuju ke Takengon, Kabupaten Aceh Tengah.

Sampai di kawasan Ise-Ise dan Lumut, Kabupaten Aceh Tengah, Gok berhenti. Alasannya, sudah masuk waktu shalat Jumat. Ia mengajak Sawari ke semak-semak, alasannya kalau di jalan dilihat orang. Sawari manut saja, ia ikut turun dan berjalan ke semak-semak.

Setelah mereka berjalan sekitar 300 meter dari jalan, Gok pun melakukan aksinya. Ia mencium mantan istrinya itu sekali, kemudian bak pembunuh berdarah dingin, sambil memberi ciuman terakhir, ia menikam perut mantan istrinya itu, Sawari terjatuh, tanpa ampun Gok kemudian menusuk lehernya dua kali. Setelah itu tubuh Sawari dibuang ke sebuah alur.

Usai mengeksekusi mantan istrinya itu, Gok mengambil surat-surat sepeda motor milik Sawari kemudian melanjutkan perjalanan ke Takengon, di ibu kota Kabupaten Aceh Tengah itu ia menjual sepeda motor tersebut seharga Rp 7 juta.

Setelah pembunuhan itu, Gok sempat kembali ke sana sekali untuk memastikan mantan istrinya itu benar-benar telah meninggal. “Orang tua saja juga tidak menyukainya, maka saja membunuhnya,” aku Gok.

Tapi setelah pembunuhan itu, Gok mengaku hidupnya tidak tenang, bayang-bayang mantan istrinya itu membuatnya resah. Setahun kemudian Gok baru bisa melupakan kejadian tersebut, setelah ia menikah dengan perempuan lain di Kabupaten Aceh Tengah pada awal 2020.

Namun, sepandai-pandai menutup bangkai, baunya akhirnya tercium juga. Keluarga Sarwati membuat laporan ke Polres Gayo Lues bahwa anaknya telah hilang. Polisi pun melakukan penyelidikan, hingga kemudian Gok dicurigai. Polisi dari Polres Gayo Lues pada Kamis, 15 Oktober 2020 bergerak ke kediaman Gok di Kabupaten Aceh Tengah, pria itu ditangkap dan tak berkutik, ia mengakui telah membunuh mantan istrinya itu dua tahun silam.

Gok dibawa ke Ise-Ise tempeh pembunuhan terjadi. Ia menunjuk tempat jenazah Sawari dibuang. Polisi bersama tim Palang Merah Indonesia (PMI) melakukan pencarian, tengkorak beserta tulang belulang Sawari dan sisa pakaiannya ditemukan. Gok pun harus mendekam dalam jeruji besi untuk mempertanggungjawabkan perbuatan kejinya itu.[]

Editor: portalsatu.com

Berita Terkait


Alamat:

Jalan Prof. Ali Hasjmy, No. 6, Desa Lamteh, Ulee Kareng, Kota Banda Aceh. Kode Pos: 23118.

portalsatu.com © 2020 All Rights Reserved.