29 September 2017

Kabar Aceh Untuk Dunia


Ketika Akbar Melukis dengan Selotip di Taman Sari Banda Aceh

...

  • M FAJARLI IQBAL
  • 01 October 2016 10:30 WIB

Lukisan berbahan dasar selotip karya Akbar dipamerkan di acara Piasan Seni Banda Aceh, 30 September 2016.@M. Fajarli Iqbal/portalsatu.com
Lukisan berbahan dasar selotip karya Akbar dipamerkan di acara Piasan Seni Banda Aceh, 30 September 2016.@M. Fajarli Iqbal/portalsatu.com

PAJANGAN lukisan-lukisan dengan latar lampu terlihat unik. Nuasa klasik tampak jelas di setiap ukiran dan lekukan lukisan yang dipamerkan itu. Sepintas seperti lukisan biasa, akan tetapi bila dicermati akan terlihat warna dan nuasa baru dalam lukisan tersebut.

Lukisan tersebut tidak dibuat dengan pensil atau sapuan kuas. Bukan pula hasil rekayasa komputer atau perangkat gawai lainnya. Lukisan yang sedang dipamerkan di Taman Sari Banda Aceh itu terbuat dari tumpukan selotip berwarna kuning.

Di tangan Akbar, selotip yang biasanya digunakan untuk merekatkan dua objek itu berhasil disulap menjadi sebuah karya seni sangat unik. Dengan kreasi gambar dan sapuan pisau, ia menciptakan aneka lukisan dengan hanya berbahan selotip.

"Ya Bang, ini dibuat dari selotip semua," ucap Akbar ditemui portalsatu.com di salah satu stan piasan seni yang digelar Pemkot Banda Aceh, 30 September 2016.

Akbar yang bernaung di komunitas Selotip Art Keumala ini mengaku belum lama menggeluti dunia seni rupa yang berbahan dasar selotip. Awalnya, pria yang lahir di Bandung ini mengaku sempat melukis dengan asap hitam lilin.

"Kalau yang pakai selotip ini belum lama. Awalnya saya sempat menggambar pakai asap hitam lilin yang dinodai di kaca terus dibentuk," ucap Akbar sembari memperlihatkan salah satu karyanya melalui ponsel pintar miliknya.

Tak lama kemudian Akbar pun mulai menjelaskan bagaimana caranya melukis dengan selotip. Ia mengatakan selotip kuning tersebut memiliki ciri yang khas yakni akan menghasilkan warna lebih gelap jika ditimpa terus menerus dengan selotip.

"Jadi, kalau mau lebih gelap, kita timpa aja selotipnya. Nah, setelah itu kita potong pakai pisau sampai membentuk gambar," jelas Akbar.

Proses kerjanya pun terbilang unik. Sang kreator merekatkan plastik putih polos dengan kaca kemudian pelukis mulai merekatkan selotip sedikit demi sedikit sampai menunjukkan pola atau gambar tertentu.

"Kalau untuk contoh biasanya ada foto, tapi foto itu kita lihat saja terus kita coba buat dengan lakban," kata Akbar.

Proses pembuatan pun lumayan lama untuk sebuah karya. Dalam waktu 8-9 jam sang pelukis bisa menghasilkan satu karya.

Melalui akun instagramnya @mr.kobar mahasiswa yang sedang kuliah di UIN Ar-Raniry Banda Aceh ini mempromosikan setiap karyanya. Setiap hasil karyanya yang dibuat melalui selotip dipajang di sana dan bisa diikuti setiap orang.

Setiap karyanya itu bisa dipesan oleh peminat. Satu gambar berukuran sedang dilepas dengan harga yang relatif terjangkau yakni 150.000 rupiah. Sedangkan untuk ukuran yang sama namun ditambah bingkai dan lampu LED berkisar 300.000 sampai 350.000 rupiah.

Awalnya, kegiatan yang ia geluti itu berangkat dari hobi dan iseng-iseng semata. Namun karena menghasilkan karya yang menarik, ia mulai serius menggelutinya.

"Saya nggak bisa melukis, Bang. Saya nggak bisa pegang kuas, jadi sebagai gantinya saya cari alternatif lain agar bisa melukis," ucapnya.

Namun sayangnya karya pemuda yang sudah lama tinggal di Aceh ini tak dilirik oleh masyarakat lokal. Pecinta karya miliknya banyak dari Pulau Jawa hingga luar negeri.

"Kalau di Aceh belum banyak peminatnya, Bang, biasanya dari Jawa. Baru-baru ini ada yang pesan dari Kanada," ucapnya.

Permintaan dari Kanada menurutnya adalah pengalaman yang sangat berharga. Ia merasa takjub dengan pesanan tersebut. Tak tanggung-tanggung ia pun dibayar dengan mata uang Euro saat itu.

"Dari Kanada ada waktu itu, dia tahu dari instagram saya dan saya jualnya melalui e-bay, orang luar nggak mau kalau nggak ada perantara. Waktu itu saya dibayar sekitar 20 juta rupiah," ucapnya.

Walau karya miliknya belum digemari masyarakat Aceh secara umum namun Akbar akan terus berkarya melalui tangannya.[]

Editor: IRMANSYAH D GUCI


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.