17 November 2019

Kabar Aceh Untuk Dunia


Ketika Murid Sekolah Berprestasi Menyeberang Parit

...

  • PORTALSATU
  • 28 August 2019 12:00 WIB

Murid SD Al-Alaq menyeberang parit besar di belakang bangunan sekolah itu, 26 Agustus 2019. Parit dijadikan jalur pintas ke SD swasta itu sejak pintu pagar Kompleks eks-Perumahan AAF ditutup untuk akses sepeda motor.
Wali murid menunggu anaknya pulang sekolah dengan menyeberang parit di belakang SD Al-Alaq Kompleks eks-Perumahan AAF. Foto: portalsatu.com
Murid SD Al-Alaq pulang dengan menyeberang parit di belakang sekolah itu di Kompleks eks-Perumahan AAF. Foto portalsatu.com
Wali murid menjemput anaknya pulang sekolah di mulut pintu pagar Kompleks eks-Perumahan AAF yang ditutup untuk akses sepeda motor. Foto: portalsatu.com

Sebagian murid SD Al-Alaq di Kompleks Eks-Perumahan Karyawan PT AAF, Dewantara, Aceh Utara, menyeberang parit saat pergi dan pulang sekolah. Parit menjadi jalur pintas bagi anak-anak sekolah berprestasi itu sejak pintu pagar bagian samping kompleks ditutup untuk akses sepeda motor. Geuchik setempat menyurati PT PIM agar pintu itu dibuka kembali. Namun, perusahaan tersebut menyatakan kewenangan menutup dan membuka pintu di tangan kepala dusun kompleks perumahan. Kepala dusun menyebut pintu itu ditutup lantaran banyak muda-mudi berpacaran dan maraknya pencurian di dalam kompleks perumahan.

Abdul Mutaleb (35 tahun), warga Gampong Tambon Baroh, Kecamatan Dewantara, menepikan sepeda motornya di pinggir Jalan Nisam, Gampong Tambon Tunong, Senin, 26 Agustus 2019, sekitar pukul 07.35 WIB. Dia mengantarkan putranya, siswa kelas enam Sekolah Dasar (SD) Al-Alaq. SD swasta tersebut berada di Kompleks eks-Perumahan Karyawan PT Asean Aceh Fertilizer (AAF).

Putra Abdul Mutaleb melompat dari sepeda motor, menyeret kakinya turun ke dalam parit yang dipayungi pohon kersen. Setelah turun dua meter lebih dari badan jalan, bocah itu menginjak beberapa batu di dalam parit yang lebarnya lebih satu meter, lalu mendaki sekitar empat meter, melewati pagar rusak hingga mencapai pekarangan belakang bangunan SD Al-Alaq.

“Pintu ditutup oleh orang PIM, sudah lebih sebulan. Sebelumnya antar anak lewat pintu pagar samping kompleks sampai ke depan SD. Karena pintu itu ditutup, biar dekat antar lewat sini. Nanti jemput juga di sini,” ujar Abdul Mutaleb saat ditanya mengapa mengantar anaknya lewat parit besar di belakang bangunan SD Al-Alaq.

PIM dimaksud Abdul Mutaleb adalah PT Pupuk Iskandar Muda di Kecamatan Dewantara. Sejak beberapa bulan lalu, tanah dan bangunan termasuk sebagian rumah di Kompleks eks-Perumahan AAF menjadi milik PT PIM setelah dibeli dari Tim Likuidator PT AAF.

Abdul Mutaleb paham bahwa putranya rawan terpeleset saat menyeberang parit berbatu licin. Namun, dia tetap memilih jalur pintas tersebut saat anaknya pergi dan pulang sekolah. Abdul Mutaleb tidak mau mengantar putranya ke SD Al-Alaq melalui pintu utama Kompleks eks-Perumahan AAF di Jalan Medan-Banda Aceh, Krueng Geukueh, Dewantara. Alasannya, masuk dan keluar lewat pintu utama kompleks tersebut jauh, lebih 1 Km dari rumahnya, dan harus menyeberang Jalan Medan-Banda Aceh yang kerap padat arus lalu lintas.

Namun, dia mengaku terpaksa mengantar putranya ke sekolah lewat pintu gerbang kompleks perumahan tersebut kalau turun hujan. Pasalnya, saat hujan mengguyur kawasan itu, banyak air dalam parit di belakang SD Al-Alaq. Sehingga jika anak-anak menyeberang parit tersebut, basah sepatu, celana atau rok, bahkan terancam jatuh ke dalam air.

“Harapan kami wali murid, kalau boleh pintu samping itu dibuka kembali agar lebih dekat dan nyaman kami mengantar anak ke sekolah,” ucap Abdul Mutaleb.

Muhammad (42 tahun), juga warga Tambon Baroh, mengantar dua anaknya, kelas satu dan kelas lima SD Al-Alaq, melalui parit itu. “Kalau lewat (pintu) depan kompleks jauh. Dulu lewat pintu samping kompleks bisa masuk sepeda motor, kini ditutup. Kalau bisa dibuka lagi, kan enggak masalah sebenarnya. Dari dulu memang dibuka, ditutup sekitar sebulan terakhir,” ujarnya.

Muhardiansyah (40 tahun), warga Gampong Blang Karieng, Kecamatan Nisam, Aceh Utara, mengantar putrinya ke SD Al-Alaq lewat parit itu pula. Beda dengan Abdul Mutaleb dan Muhammad yang bertahan di atas sepeda motor melihat anaknya menyeberang parit, Muhardiansyah menggendong putrinya melewati selokan besar itu sampai ke pekarangan sekolah.

“Kami wali murid meminta pihak PIM membuka kembali pintu samping kompleks yang sudah ditutup itu, agar kami bisa mengantar anak-anak dengan cepat, tidak terlambat masuk sekolah. Ini kasihan anak-anak (menyeberang parit), bahkan pernah ada yang jatuh ke parit, terkilir, terpaksa dibawa ke rumah sakit,” kata Muhardiansyah.

Selain Muhardiansyah, Muhammad dan Abdul Mutaleb, puluhan wali murid lainnya mengantar anak-anak mereka ke SD Al-Alaq lewat parit itu. Saat anak-anak pulang sekolah, dijemput di tempat tersebut.

Namun, ada pula sebagian wali murid mengantar anaknya sampai ke pintu pagar bagian samping Kompleks eks-Perumahan AFF tersebut. Pada pintu pagar tersebut ada lubang yang dapat dilewati anak-anak hingga orang dewasa, tapi tidak bisa masuk sepeda motor. Jarak pintu pagar yang sudah ditutup untuk askes kendaraan roda dua itu dengan SD Al-Alaq sekitar 150 meter. Bagi wali murid yang mengantar anaknya sampai ke mulut pintu pagar tersebut, setelah masuk lewat lubang pintu, anaknya berjalan kaki sampai ke sekolah sekitar 150 meter.

Wakil Kepala SD Al-Alaq, Aziz M. Saleh, mengatakan pintu pagar bagian samping kompleks perumahan itu ditutup untuk akses sepeda motor sejak masa libur kenaikan kelas murid sekolah pada Juli lalu. Sepengetahuan Aziz, pintu pagar tersebut ditutup pihak PT PIM atas permintaan warga Kompleks eks-Perumahan AAF.

“Karena beberapa waktu lalu di kompleks ini banyak kehilangan (akibat pencurian). Selain itu, muda mudi berpasang-pasangan datang dengan kendaraan masuk lewat pintu samping kompleks. Kemudian diambil kebijakan oleh warga kompleks dengan orang PIM, pintu itu dibuka jam enam pagi, dan malamnya ditutup dengan kunci gembok. Ternyata ada orang yang merusak kunci gembok. Setelah itu, kami beli kunci gembok, besoknya dirusak lagi. Jadi, kami enggak bisa buat apa-apa lagi, karena kunci gembok pintu itu sudah dua kali dirusak, kita tidak tahu siapa pelakunya,” ujar Aziz yang juga tinggal di kompleks perumahan itu.

Aziz melanjutkan, setelah dua kali terjadi perusakan kunci gembok pintu pagar itulah, pihak PT PIM atas permintaan warga kompleks perumahan melalui kepala dusun, menutup akses sepeda motor lewat pintu tersebut. Kebijakan itu lantas menimbulkan keluhan dari sebagian wali murid. “Kami dari pihak sekolah merasa susah, karena banyak wali murid yang melapor ke sekolah. Kami sudah usul kepada beberapa wali murid, tolong bantu kami, pergi ke tempat orang PIM minta dibuka kembali pintu itu. Saya menjamin untuk buka pintu itu jam enam pagi dan tutup jam dua siang setelah pulang sekolah. Cuma nanti jangan ada yang merusak lagi kunci gembok pintu itu,” tuturnya.

Dia merasa khawatir murid SD itu akan mengalami kecelakaan akibat terjatuh saat menyeberang parit di belakang bangunan sekolah saat pergi dan pulang, jika pintu pagar kompleks tidak dibuka untuk akses sepeda motor. “(Sebagian) anak-anak sekolah jadi kucar kacir, mereka masuk lewat pagar yang sudah rusak di belakang sekolah. Takut juga kita anak-anak jatuh ke dalam parit besar itu. Orang tuanya tidak mau putar lewat sana (pintu depan kompleks) karena jauh. Mereka merasa lebih mudah dan nyaman masuk lewat pintu samping yang sudah ditutup itu, makanya banyak wali murid melapor ke saya minta dibuka lagi,” ujar Aziz.

Apakah pihak SD Al-Alaq sudah minta kepada PT PIM agar membuka kembali pintu pagar kompleks itu untuk akses sepeda motor? “Kami belum minta kepada PIM, cuma Pak Geuchik Tambon Tunong sudah menyampaikan ke pihak PIM, tolong dibuka lagi pintu itu. Kebetulan Geuchik Tambon Tunong, Aguseha, juga Ketua Yayasan Pendidikan Asean Aceh (YPAA). SD Al-Alaq ini di bawah YPAA,” kata Aziz yang juga Wakil Ketua YPAA.

Menurut Aziz, SD Al-Alaq itu didirikan pada 17 Juni 1986. Mulanya, SD itu berlokasi di Yapenda dekat SMAN 2, Krueng Geukueh, Kecamatan Dewantara, sekarang. “Tahun 1997 pindah ke kompleks ini. Saat itu jumlah murid mencapai 600 orang. Setelah Asean (PT AAF) tutup, jumlah murid dari 600 turun jadi 400. Kemudian perlahan meningkat lagi. Sekarang jumlah murid SD ini sekitar 500 anak,” ujarnya.

Aziz menyebutkan, murid SD Al-Alaq itu tidak hanya dari gampong-gampong di Kecamatan Dewantara, ada pula asal Kecamatan Nisam hingga Muara Batu, Aceh Utara. Masyarakat dari luar Kecamatan Dewantara tertarik menyekolahkan anaknya di sekolah swasta ini, kata Aziz, karena SD Al-Alaq meraih prestasi Olimpiade Sains Nasional (OSN) Tingkat SD/MI sejak 2013 sampai sekarang.

“Dari tahun 2013 sampai sekarang, murid sekolah ini selalu mewakili Kabupaten Aceh Utara ke Provinsi Aceh untuk tingkat SD/MI saat diadakan OSN bidang IPA dan Matematika. Murid kita selalu juara tingkat Aceh Utara. Bahkan, tahun 2014, salah satu siswa SD Al-Alaq ini meraih juara dua tingat nasional, mendapatkan medali perak bidang Matematika saat OSN di Bali. Sedangkan tahun 2016 saat OSN tingkat nasional di Palembang, murid kita juara harapan satu,” tutur Aziz sambil menunjukkan bukti-bukti penghargaan diterima murid sekolah itu.

Akan tetapi, kini sebagian murid sekolah berprestasi tersebut menyeberang parit besar saat pergi dan pulang belajar lantaran orang tua mereka enggan melewati pintu utama kompleks perumahan itu. “Kami mohon pintu pagar samping itu dibuka kembali, karena sayang anak-anak harus melewati parit. Saya jamin, kalau tidak dirusak kunci gembok, jam enam pagi saya buka, jam dua siang saya tutup pintu itu (untuk akses sepeda motor),” ucap Aziz menegaskan kembali solusi ditawarkan pihak sekolah itu.

Geuchik Tambon Tunong, Aguseha HA. Latief, menyatakan sebagian besar Kompleks eks-Perumahan AAF masuk wilayah gampongnya, termasuk SD Al-Alaq. Sebagian kecil masuk wilayah Gampong Paloh Lada dan Tambon Baroh. Ketiga gampong tersebut juga tercatat sebagai gampong binaan PT PIM.

Geuchik Aguseha sudah menyurati PT PIM lebih sebulan lalu meminta agar pintu pagar kompleks perumahan itu dibuka kembali. Selain menyulitkan wali murid mengantar dan menjemput anaknya di SD Al-Alaq, kata Aguseha, penutupan pintu pagar tersebut untuk akses sepeda motor juga menimbulkan keluhan sebagian warga setempat yang ingin shalat di Masjid Al-Kautsar di dalam kompleks perumahan tersebut. Pasalnya, warga harus memarkirkan sepeda motor di luar pagar kompleks tersebut.

“Sehubungan ditutupnya pintu pagar Kompleks Asean di Jalan Nisam Gampong Tambon Tunong, kami mohon dibuka kembali mengingat banyak keluhan masyarakat yang ingin ke masjid, guru dan wali murid yang mengantar anak sekolah, karena tidak dapat dilewati kendaraan roda dua,” bunyi surat Geuchik Tambon Tunong tanggal 18 Juli 2019 ditujukan kepada PT Pupuk Iskandar Muda c/q. Humas PT PIM.

Geuchik Aguseha melalui Kasi Pemerintahan Gampong Tambon Tunong, Amiruddin AY, mengatakan, “Permintaan kami kepada PIM tidak banyak, sesuai keluhan masyarakat dan wali murid, pintu pagar itu dibuka kembali biar lewat kendaraan roda dua. Supaya wali murid bisa menjemput anaknya lebih dekat. Selain itu, untuk shalat Jumat di Masjid Al-Kautsar dalam kompleks, lebih dekat. Kalau kendaraan parkir di luar kan tidak nyaman”.

“Yang lebih ironis lagi, ada pohon mahoni yang rindang di dekat pintu pagar itu, sudah ditebang. Biasanya anak-anak sambil menunggu dijemput oleh orang tuanya menunggu di situ. Sekarang tidak bisa lagi, karena pohon itu ditebang bersamaan dengan pintu pagar ditutup, bulan Juli lalu,” kata Amiruddin AY yang rumahnya di seberang jalan depan pintu pagar kompleks tersebut.

Amiruddin menilai tidak logis jika pintu pagar itu ditutup dengan alasan karena rawan masuk pencuri. Sebab, kata dia, pagar kompleks perumahan tersebut sudah rusak di banyak titik sehingga siapa saja mudah masuk dan keluar. “Jadi, kami minta PIM membuka kembali pintu pagar itu. Kami tidak minta dibuka 24 jam, tapi cukup saat jam masuk dan jam pulang sekolah, serta waktu shalat Jumat,” tuturnya.

Geuchik Aguseha dan Amiruddin menolak jika PT PIM meminta pihaknya bermusyawarah dengan Kepala Dusun Kompleks eks-Perumahan AAF untuk menyelesaikan persoalan penutupan pintu pagar tersebut. “Kepala dusun kompleks itu dari Paloh Lada. Menurut hemat kami, Tambong Tunong bukan dengan kepala dusun itu urusannya, tapi dengan pihak PT PIM. Karena kompleks ini kan punya PT PIM, bukan punya kepala dusun. Kami tetap minta pintu pagar itu dibuka kembali, karena aksesnya bukan hanya ke rumah sekolah, tapi juga ke masjid, bahkan sampai ke Paloh Lada jauh lebih dekat lewat pintu itu,” kata Amiruddin.

Manajer Humas PT PIM, Nasrun, menyebutkan tanah dan bangunan termasuk sebagian rumah yang sudah rusak di Kompleks eks-Perumahan AAF menjadi milik PIM setelah dibeli dari Tim Likuidator PT AAF, sekitar empat bulan lalu. Namun, kata dia, penutupan dan pembukaan pintu pagar tersebut menjadi kewenangan kepala dusun kompleks perumahan.   

“Di dalam kompleks itu ada 224 rumah milik mantan karyawan AAF. Di situ ada kepala dusun kompleks. Sedangkan punya PIM 105 rumah, kondisinya sudah kosong dan hancur, tidak bisa dipakai lagi. Jadi, penutupan dan pembukaan pintu itu kewenangan kepala dusun kompleks, bukan kewenangan PIM. Itu kan keputusan yang diambil kepala dusun,” kata Nasrun.

Nasrun melanjutkan, “Menurut kepala dusun, kondisi tidak kondusif di dalam (kompleks), ada pencurian dan sebagainya, sehingga ditutuplah untuk akses sepeda motor untuk sementara. Sedangkan akses orang kan tetap. Jadi, untuk apa akses lewat parit itu (di belakang bangunan SD Al-Alaq). Lewat pintu pagar itu juga bisa dimasukkan sepeda, saya tiap hari gowes lewat pintu itu. Untuk apa anak sekolah lewat parit itu, padahal bahaya lewat parit itu”.

Pihak SD Al-Alaq dan Pemerintah Gampong Tambon Tunong menawarkan solusi pintu pagar itu dibuka saat masuk dan pulang sekolah. Terkait hal itu, Nasrun mengatakan, “Kalau saya pribadi memang berharap jangan ditutup karena setiap hari gowes masuk lewat pintu itu, angkat sepeda. Tapi itu kewenangan kepala dusun. Jadi, kalau kepala dusun dengan Geuchik Tambon Tunong sepakat buka, silakan buka”.   

“Seharusnya tadi siang (Senin, 26 Agustus 2019), ada rapat antara Geuchik Tambong Tunong dengan Kepala Dusun Kompleks Perumahan AAF untuk membahas masalah itu, tapi Pak Geuchik sedang ada acara di tempat lain sehingga batal rapat. Mungkin besok rapatnya, di tempat saya pun bisa, yang penting ada keputusan,” ujar Nasrun saat dikonfirmasi lewat telepon seluler, Senin sore.

Kepala Dusun Kompleks eks-Perumahan AAF, Tarmizi, mengatakan pintu pagar itu hanya ditutup untuk akses sepeda motor. “Orang kan bisa lewat,” kata dia melalui telepon seluler, Senin sore.

Tarmizi menyebutkan, kompleks perumahan tersebut termasuk sekolah dan masjid di dalamnya, masuk wilayah Gampong Paloh Lada, bukan Tambon Tunong. Dia menjelaskan alasan pintu pagar tersebut ditutup untuk akses sepeda motor. “Pertama, tujuan tutup pintu itu untuk mengurangi maksiat. Melalui pintu ini anak remaja putra-putri di depan masjid pacaran, sedang jam sembahyang di situ mereka kumpul-kumpul. Bukan anak dari kompleks, dari sekolah luar. Mereka leluasa masuk melalui pintu itu”.

“Kami orang tua, saya kepala dusun yang juga dewan penasihat masjid, kami bermusyawarah. Kita beribadah di sini, sementara orang lain masuk berbuat maksiat di samping masjid. Apa artinya kita beribadah kalau maksiat masih di sekitar kita,” ujar Tarmizi.

Alasan kedua, menurut Tarmizi, pencuri merajalela membawa barang-barang dengan sepeda motor masuk lewat pintu pagar itu. “Dipikul kayu lewat pintu itu,” katanya.

Atas dasar dua alasan itulah, Tarmizi mengadakan rapat bersama ketua-ketua RT dan tokoh di kompleks perumahan. “Kita duduk musyawarah, bagaimana tindak lanjut kita ini. Sudahlah kita buat begini saja, tutup pintu itu habis sembahyang Isya, buka habis sembahyang Subuh. Saya beli satu gembok pakai uang pribadi Rp30 ribu. Habis Isya, kami gembok, besok pagi usai Subuh, alhamdulillah bagus tidak ada yang ganggu, kami senang”.

“Besok pulang shalat Isya, saya gembok lagi. Begitu datang Subuh, gemboknya dirusak. Kalau tahu siapa pelakunya saya seret langsung ke polisi,” kata Tarmizi.

Selanjutnya, kata Tarmizi, dibeli sebuah gembok oleh pihak SD Al-Alaq. “Malam ketiga saya gembok lagi pintu itu dengan gembok yang dibeli pihak sekolah. Dua jam kemudian datang seorang warga kompleks melaporkan gembok sudah dihancurkan lagi. Pintu sudah terbuka, orang sudah rame, gemboknya sudah dibuang,” ujar kepala dusun itu.

“Besoknya, saya musyawarah lagi dengan warga termasuk dengan Pak Gunawan PIM. Mayoritas warga kompleks menyatakan kita tutup saja sementara pintu itu, kita lihat situasi bagaimana dan kita evaluasi hasilnya. Besoknya, datang orang PIM bawa mesin las (menutup pintu pagar untuk akses sepeda motor),” kata Tarmizi.

Tarmizi melanjutkan, “Yang dipermasalahkan, anak sekolah dan orang pergi ke masjid. Mereka tidak melihat pintu besi pagar masjid sudah tiga kali hilang. Puncak kemarahan kami pintu pagar masjid diambil. Kemudian pintu rumah warga di depan masjid juga hilang. Makanya setelah duduk rapat kita suruh las pintu itu, kemudian kita evaluasi”.

“Jadi, sekarang ini lagi masa evaluasi. Setelah kami tutup pintu itu, orang berpacaran atau khalwat, dan anak-anak remaja yang ngebut-ngebut di depan masjid sudah tidak ada lagi. Sebelumnya, warga kompleks yang tinggal di depan masjid, tiap malam harus keluar bawa parang usir orang pacaran. Begitulah kondisi di Kompleks Asean. Itulah pertimbangan-pertimbangan kami tutup pintu itu. Jadi, yang tutup pintu bukan kepala dusun, tapi hasil keputusan rapat warga Kompleks Asean, dan disetujui Geuchik Gampong Paloh Lada, karena kompleks ini masuk Gampong Paloh Lada,” tutur Tarmizi.

Ada solusi ditawarkan pihak sekolah dan wali murid, pagi dibuka dan setelah pulang sekolah pintu itu ditutup. “Kalau mereka mau itu kami harus tanya lagi siapa yang tanggung jawab. Yang menjamin tidak ada lagi maksiat, buka-tutup pintu siapa?” tanya Tarmizi.

Tarmizi pun merasa heran wali murid mengantar dan menjemput anak-anak lewat parit di belakang bangunan SD Al-Alaq. “Ngapain dari parit, pintu pagar ada. Kan susah dari parit daripada pintu, itu kan hanya mengada-ada. Itu enggak lucu bagi saya. Masuk lewat lubang pintu pagar itu kan bisa, kalau enggak dari depan sana biar ada security lebih aman lagi. Kenapa lewat parit, kan aneh orang ini,” ucap Tarmizi.

Kasi Pemerintahan Gampong Tambon Tunong, Amiruddin AY., dihubungi kembali Rabu, 28 Agustus 2019, mengatakan, pihak PT PIM belum membuka pintu pagar Kompleks eks-Perumahan AAF. Sebagian wali murid masih mengantar anak-anaknya menyeberang parit ke SD Al-Alaq.

Wakil Kepala SD Al-Alaq, Aziz M. Saleh, berharap PT PIM turun tangan menyelesaikan persoalan penutupan pintu pagar itu. Dia menilai persoalan tersebut tidak akan selesai jika PIM hanya menyerahkan upaya penyelesaian kepada Kepala Dusun Kompleks eks-Perumahan AAF dan Geuchik Tambong Tunong. “Kami mohon PIM turun tangan menyelesaikan, demi kebaikan anak-anak sekolah kami agar tidak lagi melewati parit besar itu,” ucap Aziz.[](nsy)

Editor: portalsatu.com

Berita Terkait


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.