12 December 2018

Kabar Aceh Untuk Dunia


Kisah Nek Nurhayati Ketika Meugang

...

  • Fazil
  • 15 May 2018 14:00 WIB

Nurhayati, janda miskin warga Gampong Teumpok Teungoh, Kecamatan Banda Sakti, Kota Lhokseumawe. @Fazil/Portalsatu.com
Nurhayati, janda miskin warga Gampong Teumpok Teungoh, Kecamatan Banda Sakti, Kota Lhokseumawe. @Fazil/Portalsatu.com

LHOKSEUMAWE - Masyarakat Aceh punya tradisi khusus dalam rangka menyambut bulan suci Ramadan. Dua hari sebelum Ramadan, masyarakat membeli daging lembu atau kerbau untuk dimasak bersama keluarganya lalu disantap bersama.

Namun, ternyata tidak semua warga yang bisa menikmati tradisi tersebut bersama sanak keluarganya. Di tengah suasana kemeriahan itu, ada pula sebagian masyarakat yang hidupnya sebantang kara, sehingga untuk kebutuhan sehari-hari pun hanya memperoleh dari pemberian warga sekitar.

Hal itu dialami Nurhayati (51), janda miskin warga Gampong Teumpok Teungoh, Kecamatan Banda Sakti, Kota Lhokseumawe. Nek Nurhayati setiap meugang memasuki bulan suci Ramadan, tidak pernah menikmati daging sapi (lembu) seperti warga lainnya.

"Bagi saya meugang itu seperti hari biasanya. Karena saya tidak punya uang untuk membeli daging sapi, apalagi harganya cukup mahal. Sedangkan saya untuk kebutuhan sehari-hari saja tidak ada, tetapi kalau hari besar seperti ini selalu ada pemberian dari warga setempat. Namun bukan daging sapi, yang diberikan itu berupa sembako minyak goreng, gula, minuman sirup dan juga beras sealakadar," ungkap Nek Nurhayati, kepada portalsatu.com, Selasa 15 Mei 2018.

Nek Nurhayati mengaku, kondisi ini sudah bertahun-tahun dialaminya, tidak memiliki sanak keluarga yang tinggal bersamanya. Tanpa ditemani sang suami dikarenakan telah meninggal dunia beberapa tahun silam, sementara putra satu-satunya kini menghilang tanpa kabar. 

"Alhamdulillah, tadi pagi (Selasa) saya mendapatkan gula dua kilogram dan minuman sirup dari warga sekitar, setiap meugang memang ada yang menyambangi saya ke rumah dan diberikan apa saja kemudahannya. Saya senang dan berterima kasih banyak," ujar Nek Nurhayati.

Padahal Nurhayati sudah berniat untuk memasak telur ayam sebagai menu makanan pada hari meugang, namun setelah ada sedikit bantuan dari warga sehingga ia mengurungkan niatnya tersebut.

"Ini coba dilihat, ada dua butir telur ayam yang saya beli kemarin (Senin), telur ini untuk menu makan saya hari ini (meugang), hanya ini yang sanggup saya beli, karena tidak punya uang. Tetapi, Alhamdulillah dengan adanya ayam potong yang diberikan warga, saya tidak jadi lagi masak telur. Berarti saya masak rendang ayam ini saja, beginilah kondisi saya saat meugang maupun pada hari-hari biasa," ungkap Nek Nurhayati.

Namun, kata Nek Nurhayati, dirinya tetap semangat dalam menikmati hidupnya, ia pun tidak pernah meminta-minta kepada orang lain, bekerja pun sudah tidak sanggup lagi. "Saya sudah pasrah saja, apabila ada yang membantu seperti ini sangat bersyukur sekali, semoga orang itu pun semakin dipermudahkan rezekinya oleh Allah SWT," ujar Nek Nurhayati, sambil mengusap air matanya.

Nek Nurhayati menempati rumah mirip gubuk reot, atapnya terbuat dari daun rumbia yang kini terlihat lapuk dimakan usia. Dinding rumahnya juga terbuat dari tepas bambu yang tersusun dengan kayu hutan.

Lokasi rumah yang ditempati Nek Nurhayati tersebut tampaknya jika hujan deras sangat mudah terendam akibat genangan air. Rumah nenek miskin ini dikelilingi rumah-rumah mewah.[]

Editor: THAYEB LOH ANGEN

Berita Terkait


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.