11 August 2020

Kabar Aceh Untuk Dunia

Cucu Sultan Aceh
Kisah Tuanku Raja Daud di Gang Buntu

...

  • Fazil
  • 08 June 2018 22:40 WIB

Tuanku Raja Daud bin Tuanku Raja Ibrahim bin Sultan Muhammad Daud Syah, tinggal di Gang Buntu, Kampung Jawa Lama, Lhokseumawe. @Fazil/portalsatu.com
Tuanku Raja Daud bin Tuanku Raja Ibrahim bin Sultan Muhammad Daud Syah, tinggal di Gang Buntu, Kampung Jawa Lama, Lhokseumawe. @Fazil/portalsatu.com

Pria 63 tahun itu cucu Sultan Aceh. Dia tinggal di rumah sederhana milik mertuanya di gang buntu. Tahukah Anda, apa pekerjaan keturunan Raja Aceh tersebut? Jangan kaget: Tukang Becak!

***

Foto Sultan Alaidin Muhammad Daoed Syah bersama istrinya, Potjut Tjot Murong, dan Putra Mahkota Kerajaan Aceh Darussalam Tuanku Raja Ibrahim, dalam bingkai indah dipajang pada dinding ruangan tamu rumah semi permanen itu. Rumah 6x20 meter memiliki dua kamar tersebut berada di Gang Buntu Nomor 16, Jalan Malikussaleh, Kampung Jawa Lama, Kecamatan Banda Sakti, Lhokseumawe.

Rumah tersebut ditempati Tuanku Raja Daud, 63 tahun, bersama istrinya, Yusniati, 58 tahun. Tuanku Raja Daud adalah adik kandung Sultanah Teungku Putroe Safiatuddin Cahya Nur Alam binti Tuanku Raja Ibrahim bin Sultan Muhammad Daoed (Daud) Syah. Safiatuddin Cahya Nur Alam sudah berpulang ke rahmatullah pada usia 84 tahun di Mataram, Nusa Tenggara Barat, dan dimakamkan di Kompleks Baperis, satu kompleks dengan makam Sultan Iskandar Muda, di Banda Aceh, 21 Ramadhan 1439 H/6 Juni 2018, malam.

Tuanku Raja Daud merupakan anak dari pasangan Tuanku Raja Ibrahim (Putra Mahkota Kerajaan Aceh Darussalam) dan Cut Khatijah. Tidak banyak yang tahu ternyata cucu Sultan Aceh itu sudah puluhan tahun tinggal di Gang Buntu Jalan Malikussaleh, Lhokseumawe. Di tepi Jalan Malikussaleh, Tuanku Raja Daud membuka kios kecil untuk dagangan barang kelontong sabagai pekerjaan sampingan.

Matapencaharian pria lanjut usia ini setiap hari adalah menarik becak mesin. Kondisi becak tersebut tidak mulus. Joknya terlihat retak. Bodi, atap terpal, dan tiga bagian roda (ban) becak tak mewah. Sementara mesin becak kini perlu perbaikan. “Sedikit terkendala di bagian dalam mesin karena seher (piston) sudah tidak stabil lagi. Tampaknya perlu dibongkar mesin untuk diperbaiki supaya aman dan nyaman untuk digunakan,” kata Tuanku Raja Daud saat berbincang dengan portalsatu.com yang berkunjung ke rumahnya di gang buntu itu, Kamis, 7 Juni 2018, sore.

Tuanku Raja Daud menceritakan, saat berusia 20 tahun dan masih lajang, ia menjadi pekerja di bus trayek Meureudu, Aceh-Medan, Sumatera Utara. “Waktu itu pendapatan tidak menentu sehingga tidak mencukupi kebutuhan sehari-hari,” ujarnya.

Dia beralih pekerjaan menjadi tukang becak sejak tahun 1996. Becak yang digunakan saat ini merupakan hasil kredit sepeda motor Honda Revo sejak 2011, bayar Rp600 ribu per bulan, dan kini sudah lunas.

***

Tuanku Raja Daud menceritakan, meskipun ia kelahiran Sigli, Pidie, tapi sebenarnya sejak kecil sudah tinggal di Lhokseumawe. Namun ketika berpisah (cerai) ayah dengan ibunya, ia pindah ke Bireuen bersama ibunya, Cut Khatijah. Setelah beberapa tahun tinggal di Bireuen, Cut Khatijah mendapat jodoh dengan warga Lhokseumawe. “Sejak saat itu saya tinggal di Kuta Blang, Lhokseumawe, bersama ibu dan ayah tiri. Ibu saya kemudian meninggal dunia," ujar Tuanku Raja Daud.

Menurut Tuanku Raja Daud, tahun 1982, ia menikah dengan Yusniati, warga Kampung Jawa Lama. Setelah itu, ia pun menjadi warga setempat, tinggal di rumah mertuanya, yang kemudian diberikan hak pakai penuh. Hasil perkawinannya dengan Yusniati, Tuanku Raja Daud dikaruniai seorang putra, Zulkifli. Namun, anaknya itu meninggal dunia saat usia enam tahun.

Tuanku Raja Daud mengisahkan, sebelumnya rumah di Kampung Jawa Lama yang ditempati bersama istrinya selama bertahun-tahun itu hanya berkonstruksi kayu. Musim hujan, rumahnya terendam banjir dengan ketinggian air hampir sepinggang orang dewasa. “Alhamdulillah kondisi tempat tinggal saya saat ini sudah lumayan dari sebelumnya, karena sudah direhab oleh keluarga secara bersama-sama," ujarnya.

Cucu Raja Aceh ini mengaku, selama ia tinggal di Kampung Jawa Lama tidak pernah mendapat bantuan apapun dari pemerintah. Tidak ada yang mengetahui bahwa ia keturunan Tuanku Raja Ibrahim, Putra Mahkota Kerajaan Aceh Darussalam. “Tidak ada yang mengetahui saya adik dari (almarhumah) Saifiatuddin Cahya Nur Alam binti Tuanku Raja Ibrahim bin Sultan Muhammad Daud Syah, kecuali orang sekitar rumah, itu mereka tahu. Akan tetapi belum sampai diketahui Pemerintah Lhokseumawe," kata Tuanku Raja Daud.

***

Di rumahnya tersebut, Tuanku Raja Daud masih menyimpan album foto keluarga besarnya, yang diletakkan dalam lemari kaca berukuran kecil, di ruangan tamu. Dia turut memperlihatkan kepada portalsatu.com dokumentasi yang diabadikan dari berbagai momen bersama keluarga besarnya.

Tuanku Raja Daud menjelaskan, hasil perkawinan Tuanku Raja Ibrahim dan Cut Khatijah dikarunia tiga putra, yakni Tuanku Raja Johan (almarhum), Tuanku Raja Sjamsjuddin, dan dirinya (Tuanku Raja Daud). Sedangkan (almarhumah) Teungku Putroe Safiatuddin Cahya Nur Alam merupakan putri Tuanku Raja Ibrahim dan Pocut Hamidah. “Jadi, saya dan Sultanah Teungku Putroe Safiatuddin Cahya Nur Alam satu ayah lain ibu,” ujar Tuanku Raja Daud.

Menurut Tuanku Raja Daud, ia sempat tinggal satu rumah bersama ayahnya, Tuanku Raja Ibrahim, dan Safiatuddin Cahya Nur Alam, puluhan tahun silam di Lampineung, Banda Aceh. Kala itu, lahan tempat tinggal mereka dari pemberian pemerintah untuk Tuanku Rada Ibrahim dan Safiatuddin Cahya Nur Alam.

“Safiatuddin Cahya Nur Alam cukup baik dan ramah, baik dengan keluarga besar maupun masyarakat sekitar. Selama tinggal bertahun-tahun bersama beliau, tidak pernah sedikit pun saya merasakan ketidaknyamanan. Beliau suka bercerita kepada keluarga kami tentang bagaimana kisah kehidupan dulu ketika masih di bawah pemerintahan Kerajaan Aceh,” kata Tuanku Raja Daud.

Tuanku Raja Daud akhirnya berpisah tempat tinggal dengan Safiatuddin Cahya Nur Alam. “Tapi sudah lupa sejak tahun berapa. Akhirnya Safiatuddin Cahya Nur Alam pergi bersama putri bungsu bernama Pocut Merah Neneng ke Lombok, Nusa Tenggara Barat, dan menetap di sana,” ujarnya. 

Dia kemudian mendapat kabar Sultanah Teungku Putroe Safiatuddin Cahya Nur Alam wafat di RS Kota Mataram, NTB, 21 Ramadhan 1439 H/6 Juni 2018, pukul 06.45 WITA. "Kami sekeluarga mendapat kabar wafatnya beliau hari itu juga (Rabu, 6 Juni 2018). Diberitahukan oleh keluarga yang ada di Kota Mataram, juga disampaikan tentang prosesi pemakaman jenazahnya di Banda Aceh," kata Tuanku Raja Daud.

Tuanku Raja Daud pun mengungkapkan kesedihannya atas kepergian almarhumah Sultanah Teungku Putroe Safiatuddin Cahya Nur Alam. Ditambah lagi, dia tidak mampu pergi ke Banda Aceh untuk ikut mengantarkan almarhumah ke pemakaman bersama keluarga besarnya. "Saya hanya bisa berdoa, semoga semua amal ibadah almarhumah diterima di sisi Allah SWT. Tentunya kami sekeluarga besar ikhlas dan tetap tabah, beliau merupakan kakak kami yang pertama, tertua," ujarnya.

***

Tuanku Raja Daud mengatakan, pada tahun 2013, ia bersama keluarganya pernah dipanggil oleh pihak Pemerintah Aceh masa Gubernur Zaini Abdullah untuk pertemuan silaturahmi keturunan Sultan Aceh. Namun, kata Tuanku Raja Daud, jika berbicara soal bantuan sampai hari ini ia belum pernah merasakan dari pihak pemerintah, baik Provinsi Aceh maupun Kota Lhokseumawe.

"Pihak Pemerintah Aceh sudah mengetahui kami dari keturunan Kerajaan Aceh. Sebenarnya kita bukan bermaksud meminta, tetapi bagaimana rasa kepeduliannya terhadap keluarga yang ditinggalkan Sultan Muhammad Daud Syah sebagai bentuk penghormatan kepada para Sultan Aceh, karena sudah banyak berjasa dalam mempertahankan martabat Aceh di tengah penjajahan kolonial Belanda, sehingga Indonesia menjadi negara berdaulat seperti saat ini," ujar Tuanku Raja Daud.

Tuanku Raja Daud masih ingat, tahun 2010 rumahnya pernah didokumentasikan oleh pihak tertentu yang menyatakan akan memberikan bantuan rumah. Saat itu, diminta berkas dokumen seperti KK, KTP dan sebagainya. Namun sampai sekarang belum ada realisasi bantuan yang dijanjikan tersebut. Jangankan rumah, kata Tuanku Raja Daud, sepersen uang pun tidak pernah diterima dari pemerintah, kecuali bantuan raskin atau beras untuk rakyat miskin.

"Kita bukan meminta kepada pemerintah, tapi hanya untuk menghargai jasa para pahlawan yang telah mendahului kita," ucap Tuanku Raja Daud.

Cucu Sultan Aceh ini pun masih menjadi tukang becak sampai usia 63 tahun lantaran tidak ada pekerjaan lain untuk memenuhi kebutuhan hidup. "Dimaklumi saja, kita sebagai penarik becak mana tentu pendapatannya, memang tidak mencukupi untuk kebutuhan,” katanya.[]

Editor: portalsatu.com

Berita Terkait


Alamat:

Jalan Prof. Ali Hasjmy, No. 6, Desa Lamteh, Ulee Kareng, Kota Banda Aceh. Kode Pos: 23118.

portalsatu.com © 2020 All Rights Reserved.