25 November 2017

Kabar Aceh Untuk Dunia


Melihat Artefak Konflik di Ruang Memorial Perdamaian

...

  • IHAN NURDIN
  • 24 August 2017 10:40 WIB

@PORTALSATU.COM/IHAN NURDIN
@PORTALSATU.COM/IHAN NURDIN
@PORTALSATU.COM/IHAN NURDIN
@PORTALSATU.COM/IHAN NURDIN
@PORTALSATU.COM/IHAN NURDIN
@PORTALSATU.COM/IHAN NURDIN

SENYUM ramah kurator berkerudung merah muda menyambut kedatangan belasan blogger ke Ruang Memorial Perdamaian, Rabu siang, 23 Agustus 2017. Saat pintu dibuka, hawa sejuk dari mesin pengatur suhu udara langsung menyerbu. Memberikan kenyamanan bagi pengunjung yang masuk ke ruangan tersebut. Kenyamanan yang berlipat setelah senyum ramah dari kurator berkerudung merah muda tadi. Farisya namanya.

Memanfaatkan momentum bulan Agustus ini, para blogger yang berasal dari Komunitas Gam Inong Blogger tersebut sengaja mendatangi Ruang Memorial Perdamaian yang menjadi bagian dari Kantor Kesatuan Bangsa dan Politik Aceh ini. Selain untuk melihat artefak konflik yang dipamerkan di sini, juga untuk merayakan dua tanggal penting yang diperingati setiap bulan Agustus, yaitu tanggal 15 yang ditabalkan sebagai Hari Perdamaian Aceh, dan tanggal 17 sebagai Hari Kemerdekaan Indonesia.

Pukul 10.00 WIB, sesuai waktu yang disepakati, para blogger sudah berkumpul di Kantor Kesbangpol Aceh. Mereka berasal dari berbagai latar belakang pekerjaan. Ada yang dosen, ibu rumah tangga, guru, pekerja kantoran, dan mahasiswa. Kedatangan mereka untuk menuntaskan rasa penasaran mengenai ruangan yang selama ini disebut-sebut, tetapi belum diketahui seperti apa wujudnya.

***

Ruang Memorial Perdamaian ini dibuat untuk memberikan informasi terkait sejarah konflik dan perdamaian Aceh dalam sebuah ruang multiguna dan multilayanan. Ukurannya hanya sekitar 8x10 meter. Awalnya merupakan ruang kerja Bidang Penanganan Konflik yang disulap menjadi sangat apik. Di ruangan inilah ditampilkan berbagai alat peraga audio visual berupa foto, video, film, buku-buku, hasil penelitian dan artefak di masa konflik.

Begitu melangkahkan kaki dari pintu masuk, pandangan kita langsung bertumbuk dengan sebuah kotak kaca di tengah ruangan. Kotak kaca ini berisikan potongan senjata bekas konflik dari jenis M-16 dan AK 56. Ada juga dua buah granat manggis yang sudah dikosongkan isinya. Potongan senjata ini berstatus pinjam pakai dari Komando Daerah Militer Iskandar Muda.

"Kotak kaca ini tidak boleh dibawa kemana-mana, walaupun misalnya kami sedang ada pameran di luar seperti yang baru-baru ini dibuat di Lapangan Blang Padang," kata Farisya menjelaskan.

Meski ukurannya tidak terlalu besar, kotak kaca tersebut memiliki bobot yang tidak ringan. Menurut penjelasan Farisya, membutuhkan setidaknya lima pria dewasa untuk mengangkat kotak kaca tersebut. Isi di dalam kotak tersebut membuat pihaknya juga sangat awas terhadap ruangan tersebut.

"Jika tidak ada tamu yang berkunjung, pintu ruangan akan dikunci," katanya lagi.

Di bilah kanan menempel gambar besar yang dicetak di bahan vinyl MMT berisikan informasi mengenai Jalan Panjang Perdamaian di Aceh. Dengan melihat gambar ini secara garis besar pengunjung akan mengetahui berbagai peristiwa dan tragedi yang terjadi di Aceh. Sejak masa Portugis, Belanda, masa konflik GAM, pemberlakuan Darurat Operasi Militer, Darurat Militer, hingga penandatanganan Mou Helsinki pada 15 Februari 2005 silam di Finlandia. Tanggal yang setelahnya ditetapkan sebagai Hari Perdamaian Aceh.

Sebuah gambar bersejarah dalam pigura besar dengan latar lukisan mahakarya Leonardi da Vinci dipajang di sisi kiri pintu masuk, yaitu gambar jabat tangan mantan Menteri Hukum dan HAM Hamid Awaluddin, mewakili pemerintahan RI dengan mantan Perdana Menteri GAM Malik Mahmud, disaksikan fasilitator perundingan damai Aceh Martti Ahtisaari. Gambar yang menjadi simbol perdamaian kedua belah pihak.

Sejajar dengan kotak kaca tadi, berlawanan dengan pintu masuk, ada ruangan kecil yang sedikit lebih tinggi dan berfungsi sebagai ruang baca. Ada seperangkat sofa warna krim yang senada dengan warna dinding sebagai tempat mengaso, sembari membaca sejumlah koleksi buku yang disediakan di sana. Buku-buku ini bebas dibaca di tempat.

Beranjak dari sana, Farisya lantas memandu para blogger tersebut ke ruang di sebelahnya. Di ruangan ini ada sebuah meja besar dan sejumlah kursi untuk menerima para tamu. Sebuah televisi layar datar berukuran lebar menempel di sisi barat dinding.

"Ruangan ini bisa menampung sekitar 30 orang. Beberapa dosen ada juga yang membawa mahasiswanya untuk mempelajari tentang perdamaian Aceh di sini," kata Farisya. Lalu, ia mengambil remote dan menyalakan televisi berisi tayangan video film dokumenter.

Ruangan ini bisa digunakan untuk publik tanpa dipungut biaya apa pun. Entah itu untuk diskusi, workshop, atau training, selama masih ada kaitannya dengan isu-isu perdamaian. Belasan foto ditata dengan apik merapat ke dinding.

Di sisi timur meja ada sebuah partisi dari kayu berukir yang memajang dua foto sekaligus menjadi penyekat ruangan. Di atasnya ada sebuah kalimat yang berhasil memancing rasa penasaran dan diskusi panjang dari para blogger. "Senjata bukan tanda damai" begitu bunyi tulisan tersebut.

Tepat di belakang partisi ini ada dua bilik kecil yang memuat sejumlah foto. Di antaranya foto yang menerakan isi perjanjian MoU Helsinki dan Ikrar Lamteh.

"Damai ini lahir dari proses perundingan yang panjang. Ada yang mengatakan damai ini lahir karena tsunami, padahal peristiwa tsunami itu mengetuk hati orang-orang yang bertikai ketika itu sehingga mempermudah proses perundingan sebab perundingan untuk perdamaian Aceh itu sendiri sudah dilakukan dari sebelum tsunami," kata Muhammad Mardian, kurator muda lainnya yang nimbrung belakangan.

***

Sekitar satu jam kemudian, Sekretaris Badan T. Nasruddin juga ikut nimbrung. Ia bercerita banyak mengenai cikal bakal lahirnya Ruang Memorial Perdamaian hingga sekilas mengenai Undang-Undang Pemerintahan Aceh. Itulah undang-undang yang lahir sebagai komitmen mewujudkan perdamaian di Aceh. Salah satu isinya mengenai bolehnya membentuk partai politik lokal di Aceh.

Ruang Memorial Perdamaian ini, kata dia, merupakan wujud dari salah satu tugas pokok lembaga tersebut dalam menjaga keberlangsungan perdamaian Aceh. Gagasan dari Kepala Kesbangpol Aceh sebelumnya, yaitu Nasir Zalba. Pertama kali dibuat pada 2013 dan rampung pada 2015 lalu.

"Ini awalnya ruangan salah satu bidang di kantor kita, kemudian digabung untuk dijadikan Ruang Memorial Perdamaian ini. Kita buatnya tidak sekaligus, disesuaikan dengan anggaran. Tahun pertama pada 2013 ada anggaran sebesar Rp50 juta, kemudian kita mencoba untuk mendesain ruangannya. Tahun berikutnya dapat lagi, kita bikin lagi," kata T. Nasruddin.

Nasruddin memperkirakan, total anggaran yang dihabiskan untuk membuat ruangan tersebut sekitar Rp200 juta. Sementara untuk konten seperti koleksi foto, banyak didukung oleh pihak eksternal seperi kalangan LSM, di antaranya kata dia, lembaga Achehnese Civil Society Task Force (ACSTF).

Ke depan, kata dia, ruang ini diharapkan bisa menjadi pusat penelitian penyelesaian konflik dan perdamaian di Aceh. Kabarnya, kata Nasruddin, tahun depan pemerintah akan menggelontorkan anggaran besar untuk menambah konten pendukungnya.

"Bisa jadi nanti peta perjalanan sejarah perdamaian Aceh ini kita visualisasikan (digitalisasi) atau ada penambahan video-video dokumenternya sehingga ruangan ini memiliki data atau sumber yang menjadi referensi untuk penyelesaian konflik," ujarnya.

Saat ini pihaknya terus mengumpulkan bukti-bukti atau artefak konflik Aceh untuk melengkapi koleksi Ruang Memorial Perdamaian Aceh. Salah satu yang menjadi incaran, kata Nasruddin, seragam yang pernah dipakai oleh anggota Gerakan Aceh Merdeka.

Penjelasan Nasruddin yang panjang lebar dan mendetail memberi pengetahuan dan membuka cakrawala baru bagi para blogger.

Di sela-sela diskusi terdengar gumaman peserta kepada teman di sebelahnya. "Menarik nih, nanti bisa kita tuliskan di blog."

***

Tak hanya senyum ramah kurator dan Sekretaris Badan yang membuat para generasi millenial ini terkesan. Tatanan ruangan dengan sentuhan modern minimalis pun menjadi kesan tak terlupakan bagi mereka. Dominasi warna krim dengan padanan cokelat tua dinilai memberikan kesan teduh dan damai.

Keserasian padu padan dekorasi dan interiornya membuat para blogger tak rela kamera mereka menganggur lama-lama. Ada rasa takjub dan kepuasan yang terpancar dari sorot mata mereka.

"Ada pembelajaran edukasi di sana. Jadinya ingin datang lagi karena petugasnya ramah," komentar Cut Januarita, penulis yang juga berprofesi sebagai guru MAN Model Banda Aceh ini.

Bahkan Cut Januarita berniat memberitahukannya pada guru sejarah di tempat ia mengajar agar siswa bisa dibawa ke sini. "Semoga semester ini ada tema belajar tentang perdamaian," ujar perempuan yang bergiat di Forum Lingkar Pena Aceh itu. Sebelum pulang, tak lupa ia meminta nomor kontak dari salah satu kurator.

Seolah mengamini pernyataan Cut Januarita, Hayatullah Zubaidi juga memberikan komentar yang kurang lebih sama. Keberadaan ruang ini menurutnya bisa memberikan media belajar yang baik untuk mengenang konflik dan perdamaian Aceh.

"Koleksi yang ada sekarang mewakili seperti apa wajah Aceh masa perang hingga damai. Namun, alangkah baiknya lagi ditambahkan koleksi-koleksi lain untuk melengkapi seperti seragam GAM dan barang-barang lainnya yang berkaitan dengan konflik," komentarnya.

Sesuai namanya, keberadaan ruang ini diharapkan menjadi perekat ingatan bahwa perdamaian itu sesuatu yang mahal. Menghabiskan dua jam waktu di dalam ruangan itu rasanya terlalu singkat. Membuat kita sadar hanya ketakutan dan kekhawatiranlah yang membuat segala sesuatu menjadi lama dan tak menyenangkan. Dua hal yang tak perlu diwariskan kepada generasi selanjutnya.[] (*sar)

Editor: IHAN NURDIN


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.