01 October 2020

Kabar Aceh Untuk Dunia


Melihat Dayah Mataqu di Arun

...

  • PORTALSATU
  • 16 September 2020 14:00 WIB

Dayah Mataqu menggunakan bekas SMP 1 di Kompleks Perumahan PT Arun, Batuphat Barat, Lhokseumawe. Foto: portalsatu.com
Dayah Mataqu menggunakan bekas SMP 1 di Kompleks Perumahan PT Arun, Batuphat Barat, Lhokseumawe. Foto: portalsatu.com

Azan berkumandang di Masjid Istiqamah ketika portalsatu.com tiba di muka Dayah Ma’had Ta’limul Quran (Mataqu), Kompleks Perumahan PT Arun, Batuphat Barat, Kecamatan Muara Satu, Lhokseumawe, Senin, 14 September  2020, siang. Para santri tampak berwudu, lalu masuk musala dalam Kompleks Dayah Mataqu untuk salat Zuhur. Setelah ikamah, seorang santri mengimami salat berjemaah di musala itu.    

“Musala ini juga digunakan sebagai ruang belajar,” ujar seorang ustaz Dayah Mataqu itu.

Musala itu berlantai kayu. Tatkala kaki menginjak lantai musala tersebut pada beberapa titik sekonyong-konyong ambles hingga mengeluarkan suara keras walau kayunya tidak patah.

“Karena lantai kayu ini sudah sangat tua,” ucap seorang ustaz lainnya.

Tidak hanya musala, semua bangunan bekas SMP 1 Arun yang digunakan untuk operasional Dayah Mataqu itu sudah tua. Sebagian langit-langit bangunan tersebut telah terkelupas. Plafonnya terlihat rendah. Ruangannya sempit. “Memang agak pengap,” kata salah seorang pengurus Dayah Mataqu.

Dia menyebut kondisi bangunan lama tersebut sudah kurang cocok untuk operasional pendidikan. Itulah sebabnya, pihak Dayah Mataqu membangun fasilitas yang lebih layak di Alue Lim, Kecamatan Blang Mangat, Lhokseumawe, sejak tahun 2018.

“Sejak tahun 2019, sebanyak 130 pelajar tingkat aliah (pendidikan menengah atas) kami pindahkan dari tempat ini (bekas SMP 1 Arun) ke bangunan yang sudah kami bangun di Alue Lim sesuai kapasitas fasilitas di sana. Sekarang di sini tinggal sekitar 300 anak tingkat sanawiah (pendidikan menengah pertama),” tutur Ustaz Azhar Ibrahim, Pimpinan Dayah Mataqu, ditemui di kantornya, 14 September 2020.

Pihak Dayah Mataqu sudah membeli lahan baru di dekat asrama yang telah dibangun di Alue Lim untuk mengembangkan fasilitas pendidikan tersebut. “Sementara ini kami baru sanggup beli lahan, belum mampu membangun gedung baru di Alue Lim,” ujar Ustaz Azhar.

Ustaz Azhar menjelaskan Dayah Mataqu didirikan tahun 2013. Awalnya, dayah ini beroperasi sementara di Kompleks Perumahan Pemda Aceh Utara di Kecamatan Banda Sakti, Lhokseumawe, dengan meminjam bekas gedung madrasah diniah. “Sekitar setahun kemudian atas saran karyawan PT Arun, kami pindah ke sini (eks-SMP),” katanya.

“Dalam perjalanan setelah kami tinggal di sini, kami sempat mengurus (meminta) bangunan ini ke LMAN (Lembaga Manajemen Aset Negara) di Jakarta. Saat itu, gedung ini belum diminta oleh siapapun. Bahkan, waktu itu pihak LMAN mengakatan, karena ini bekas gedung sekolah, cocok digunakan untuk tempat pendidikan seperti pesantren ini,” tutur Ustaz Azhar.

Pimpinan Dayah Mataqu kemudian menerima surat dari Wali Kota Lhokseumawe, Suaidi Yahya, 31 Agustus 2020, meminta agar mengosongkan bangunan eks-SMP 1 Arun itu. Pasalnya, Pemerintah Kota Lhokseumawe akan membangun Ruang Rawat Penyakit Infeksi New Emerging dan Re-Emerging (PINERE) Pasien Covid-19 di bekas gedung SMP tersebut. Wali Kota memberi waktu sepekan, paling lambat sampai 7 September 2020, untuk pengosongan tempat tersebut. (Baca: Wali Kota Lhokseumawe Minta Dayah Mataqu Kosongkan Eks-SMP 1 Arun, Mendadak?)

Merespons surat tersebut, Pimpinan Dayah Mataqu memasukkan surat ke Kantor Wali Kota Lhokseumawe, Jumat, 11 September 2020. “Kami meminta audiensi dengan Pak Wali Kota untuk menjelaskan kondisi kami mengapa belum pindah dari tempat ini,” ujar Ustaz Azhar.

Ustaz Azhar berharap Pemko Lhokseumawe memfasilitasi Dayah Mataqu agar bisa segera pindah. Misalnya, Pemko Lhokseumawe meminta LMAN meminjampakaikan sementara Gedung Maintenance Service di Kompleks Perumahan Arun kepada Dayah Mataqu. “Lokasinya persis di depan kami, sehingga pindah pun akan lebih mudah karena sangat dekat,” tuturnya.

Menurut Ustaz Azhar, Dayah Mataqu siap merelokasikan sekitar 300 santri ke Gedung Maintenance Service atau bangunan lainnya sebagai tempat alternatif jika Pemko Lhokseumawe membantu memfasilitasi.

"Jadi, kami bukan tidak mau memindahkan semua santri ke Alue Lim, tapi kondisi fasilitas di sana terbatas. Sudah kami pindahkan 130 anak. Artinya, kami juga berusaha untuk pindah. Kemudian kami beli lahan di samping lokasi yang sudah ada. Ini menunjukkan kami punya itikad baik untuk pindah. Masalahnya sekarang, belum ada uang untuk bangun gedung baru. Makanya kami sangat berharap Pemko Lhokseumawe memberikan tempat alternatif yang kondusif untuk belajar untuk sementara," kata Ustaz Azhar.

Lihat pula: Ketua DPRK : Kita Dukung Penanganan Covid-19 tapi Santri Dayah Mataqu Juga Harus Diperhatikan

Salah seorang anak asal Ujong Blang, Kecamatan Banda Sakti, Lhokseumawe, Nazzi Akhdani, mengatakan ia masuk ke Dayah Mataqu lantaran ingin belajar hingga mampu menghafal Alquran. “Di sini mengajarkan tafsir dan tahfidz, dan metode-metode hafal Alquran di sini mudah, dapat membuat hafalan lebih mudah dan lancar,” ujar Nazzi yang kini duduk di kelas tiga sanawiah.

Dia sudah mampu menghafal 23 juz Alquran. “Alhamdulillah, setelah menghafal Alquran hati saya lebih tenang,” ucap Nazzi yang bercita-cita menjadi ustaz.

Dengan suara merdu, Nazzi pun menunjukkan kemampuannya menghafal surah Al-Mu'minun, ayat 1-9, yang artinya: “Sungguh beruntung orang-orang yang beriman, (yaitu) orang yang khusyuk dalam salatnya, dan orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tidak berguna, dan orang yang menunaikan zakat, dan orang yang memelihara kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau hamba sahaya yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka tidak tercela. Tetapi barang siapa mencari di balik itu (zina, dan sebagainya), maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. Dan (sungguh beruntung) orang yang memelihara amanat-amanat dan janjinya, serta orang yang memelihara salatnya”.[](nsy)

Editor: portalsatu.com

Berita Terkait


Alamat:

Jalan Prof. Ali Hasjmy, No. 6, Desa Lamteh, Ulee Kareng, Kota Banda Aceh. Kode Pos: 23118.

portalsatu.com © 2020 All Rights Reserved.