22 January 2017

Kabar Aceh Untuk Dunia


Melindungi Hutan dengan Wakaf

  • IHAN NURDIN
  • 04 January 2017 15:00 WIB

GARANGNYA matahari siang itu tak menyurutkan niat saya untuk menyusuri hutan kecil di Gampông Data Cut, Jantho Lama. Setelah menempuh perjalanan lebih kurang satu jam dari Banda Aceh, kami tiba di Data Cut sekitar pukul 11:30 WIB, Sabtu, 31 Desember 2016. Harusnya bisa tiba lebih cepat. Hanya saja dalam perjalanan kami mampir sejenak di Samahani. Apalagi kalau bukan untuk menikmati kopi dan roti selainya yang nikmat.

Turun dari mobil, begitu menjejakkan kaki di jalan setapak yang berbatu, semilir angin langsung menyambut.  Mengirim hawa sejuk di tengah kepungan terik.  Mengedarkan pandangan ke sekitar, yang tampak hanya perbukitan hijau yang menyegarkan mata.

Dari tempat saya berdiri, di sebelah kirinya adalah lahan berbukit yang dipenuhi semak belukar. Lahan inilah yang akan kami susuri. Sementara di seberang jalan terlihat areal perkebunan kelapa sawit yang usianya mungkin sekitar tiga atau empat tahun. Di lembah, tampak hulu Krueng Aceh mengalir membelah hutan. Gemericiknya terdengar hingga ke puncak bukit. Menakjubkan.

Seorang pria paruh baya memberhentikan sepeda motornya beberapa meter di depan kami. Ia memberi aba-aba. Namanya Salmadi. Wajahnya tirus, dibungkus kulit yang legam saking seringnya terpapar matahari. Perawakannya kecil. Ia memegang sebilah parang yang mengingatkan saya pada aktor komedian Aceh Haji Uma.

Salmadi adalah pemilik satu hektar lahan yang membentang di sebelah kiri kami. Sebentar lagi lahan itu akan segera berpindah tangah. Para volunteer lingkungan dari Komunitas Hutan Wakaf hendak membeli tanah tersebut. Afrizal Akmal dan Azhar mewakili para donatur hari itu.

“Mantap kali ini lahannya!” Akmal, yang tak lain adalah inisiator terbentuknya komunitas hutan wakaf tak bisa menyembunyikan kegembiraannya.

Sejatinya kata Akmal, lahan tidak produktif ini dibeli untuk kepentingan bersama yang akan diubah menjadi Hutan Wakaf. Yaitu hutan konservasi berbasis wakaf yang tujuan jangka panjangnya murni untuk kepentingan ekologis. Lahan seluas satu hektar ini rencananya akan dijadikan sebagai pilot project.

***

Gagasan awal terbentuknya hutan wakaf ini bermula dari diskusi warung kopi empat tahun silam. Mereka adalah Afrizal Akmal, Azhar, dan dua rekan lainnya yang sama-sama menaruh perhatian serius pada isu-isu lingkungan. Akmal sendiri pernah bergiat di lembaga anggota Walhi Aceh. Sementara Azhar sampai sekarang masih bergiat di lembaga WWF Indonesia program Aceh. Hingga kini Akmal terus mengkampanyekan penyelamatan lingkungan melalui karya seni rupa.

Sejak empat tahun terakhir keempat orang ini secara massif bekerja dengan sukarela sebagai koordinator, administrator dan fundraising (penggalangan dana) untuk program ini. Hasilnya tak mengecewakan, lima belas juta rupiah telah terkumpul dari donasi sekitar 70 donatur dari berbagai kalangan individu. Baik di Indonesia bahkan hingga luar negeri. Donasi juga dikumpulkan melalui penjualan kaos yang diproduksi oleh Gudang Kaos Oblong milik Akmal. 

“Salah satu donaturnya seorang Antropolog di Jerman. Namanya Bettina. Dia punya museum di sana dan di dalamnya memperkenalkan hutan tropis Indonesia. Di sana dia buat plakat hutan wakaf, jadi kalau ada pengunjung yang mau berdonasi silahkan,” kata Akmal ketika kami singgah di Samahani.

Dengan uang itulah Akmal dan kawan-kawan membeli lahan seluas satu hektar di Jantho, Aceh Besar. Sabtu pekan lalu, Akmal dan dua rekannya datang untuk survey lokasi sebelum akad jual beli dilakukan pada akhir pekan ini.

Misi dari program ini adalah konservasi langsung dengan membeli lahan kritis yang akan dibangun hutan di atasnya. Sehingga, fungsi ekologis hutan sebagai sumber mata air, penyerap karbon, dan ‘rumah’ bagi sejumlah satwa benar-benar terwujud.

“Di Jantho masih banyak lahan yang tidak produktif, topsoilnya juga kurang bagus. Tapi secara umum curah hujan di Jantho kurang, lapisan humusnya juga kurang,” kata Akmal terkait pemilihan lokasi pilot project hutan wakaf. “Itu makanya harus kita balik. Kalau orang bilang tanah kita tanah surga, sebenarnya bukan tanahnya yang subur, karena ada pohon makanya tanahnya jadi subur. Dibandingkan dengan daerah yang tidak punya pohon. Saat hujan lapisan atas tanah jadi terkikis. tapi kalau ada pohon enggak, jadi kalau nggak ada pohon tangahnya nggak akan subur,” katanya menambahkan.

***

Salmadi segera memasuki bibir hutan. Kami mengikutinya dari belakang. Dengan cekatan ia memotong pohon-pohon kecil dan dahan yang menjuntai, agar kami tak kesulitan saat menyusuri hutan kecil ini.

Jalur yang mendaki sedikit bikin nafas tersengal-sengal. Tapi asyik. Perjalanan menyusuri embrio hutan wakaf ini bagai sebuah petualangan. Adakalanya kami harus berjalan tegak, adakalanya harus merunduk menghindari ranting-ranting pohon yang berduri. Di bagian lain kami harus melewati alur-alur kecil yang menjadi jalur air saat hujan turun. Saya juga melihat cetakan kaki babi di beberapa rute yang kami lalui. Dan yang tak boleh dilewatkan adalah memotret berbagai hal yang terlihat menarik.

Lahan ini berpotensi untuk dijadikan hutan. Agaknya inilah yang membuat Akmal gembira tadi. Artinya, keinginan mewujudkan hutan wakaf ini tidak dimulai dari nol.

Banyak pohon-pohon besar yang sudah tumbuh. Umumnya didominasi oleh pohon lontar dan pulai. Ada juga pohon enau dan beragam pohon lainnya yang belum teridentifikasi. Sementara sebagian semak-semak nantinya akan dibersihkan dan ditanami beberapa jenis pohon yang bibitnya sudah disiapkan. Di antaranya bibit ara atau ficus dan beberapa pohon lokal lainnya.
“Untuk ficus saya semai sendiri, tapi untuk bibit yang lain Azhar yang cari dibantu Putra,” kata Akmal.

Lahan ini nantinya juga akan diberi pagar. Lalu dibuat jalur atau jalan pemandu untuk memudahkan pengunjung yang ingin menyusuri hutan.  “Tapi kita tidak buat permanen. Cukup jalan setapak saja karena kita ingin menjaga lantai alami tanah. Tidak boleh mengganggu resapan air ke dalam tanah.”

Bahkan nantinya akan dibuatkan biopori buatan agar semakin banyak air yang meresap ke dalam tanah. Sehingga meminimalisir terbuangnya curah air hujan di permukaan tanah.

Biopori yang akan dibuat berupa lubang silendris tempat aktivitas organisme  seperti cacing. Lubang dibuat vertikal ke dalam tanah sebagai metode resapan air. Dan di dalamnya diisi dengan serasah, atau daun-daun gugur dan ranting kering.

Akmal berharap keberadaan hutan wakaf ini bisa menjamin tersedianya sumber daya hutan bagi generasi masa depan. Lewat instrumen wakaf memberikan harapan yang lebih besar dalam merefleksikan pesan kearifan lingkungan, sedekah jariyah, konservasi dan aspek rahmatan lil’alamin. Lewat instrumen wakaf pula diharapkan tidak ada tangan-tangan yang berani merusak hutan ini nantinya. “Karena hutan ini nantinya akan kita wakafkan kepada masyarakat setempat.” 

***

Sejak awal, baik Akmal maupun Azhar tak berniat menjadikan komunitas ini sebagai lembaga resmi. Mereka bisa dibilang sedang melakukan ‘eksperimen’. Bahwa untuk melakukan suatu hal positif tak harus terlalu formal dan baku. 

“Kuncinya cuma trust. Dan terbukti banyak teman-teman yang tertarik dengan program ini dan mereka berdonasi walaupun kita tidak membentuk lembaga resmi,” kata Azhar, saat berbincang sambil santap siang di sebuah warung di pusat Kota Jantho.

Lagi pula katanya, dengan begini bisa menghindari dari banyak ‘kepentingan’. Istilah Azhar, “kalau sudah dimanajemen udah rumit sistemnya nanti. Harus sediakan budget untuk menanamlah. Kalau begini kita kerja santai aja, kalau ada waktu kita datang, kita bawa bibitnya sendiri, kita tanam sendiri, tapi hasilnya jelas. ”

Apalagi ini sifatnya wakaf, maka semuanya harus dilakukan dengan ikhlas dan hati yang bersih.  Sebab, kata Azhar, yang ditanam di lahan itu nantinya adalah pohon-pohon yang juga makhluk hidup. “Maka menanamnya pun juga harus pakai hati.”

Sesuatu yang dimulai dengan hati itupun kini mulai menunjukkan dampaknya. Banyak pihak yang tertarik dengan konsep hutan wakaf. Bahkan Majelis Ulama Indonesia pusat mulai melirik dengan serius. Bagi para inisiator, mereka berharap ide hutan wakaf ini bisa terus mewabah dan diadopsi oleh banyak orang, lembaga maupun institusi. Suatu saat nanti, ketika manusia tak mampu lagi melindungi hutan, kita bisa mempercayakannya pada wakaf.[]

Editor: IHAN NURDIN

Berita Terkait


portalsatu.com © 2015. All Rights Reserved.