18 November 2019

Kabar Aceh Untuk Dunia


Mursidah Usai Vonis

...

  • Fazil
  • 07 November 2019 10:00 WIB

Mursidah di mulut pintu rumahnya. Foto: Fazil/portalsatu.com
Mursidah di mulut pintu rumahnya. Foto: Fazil/portalsatu.com

Mulut pintu terbuka lebar ketika portalsatu.com tiba di muka rumah Mursidah, di Gampong Meunasah Mesjid, Muara Dua, Lhokseumawe, Rabu, 6 November 2019, sekitar pukul 15.00 WIB. Di ruangan tamu, Mursidah tampak mengenakan mukena seputih kapas, duduk di atas sajadah menghadap kiblat. Dia sedang berzikir. Biji tasbih dalam genggaman tangan kanannya bergerak perlahan.

Mursidah lalu menoleh ke arah pintu sambil menjawab ucapan salam. Perempuan 35 tahun itupun bangkit dari sajadah. Dia menyeret kakinya ke pintu. "Silakan masuk," kata Mursidah yang masih menggenggam tasbih.

Dia mengaku memanjatkan puji-pujian kepada Allah sejak usai salat Zuhur. Rencananya akan terus berzikir sampai Ashar

“Alhamdulilah, semenjak kemarin (Selasa) saya dibebaskan. Dan saya selalu berdoa kepada Allah untuk memberikan yang terbaik,” ujar Mursidah.

Dibebaskan dimaksudkan Mursidah adalah putusan hakim Pengadilan Negeri Lhokseumawe, Selasa, 5 November 2019, tidak membuat dirinya terkurung dalam penjara. (BacaInilah Putusan Majelis Hakim Pengadilan Lhokseumawe Untuk Mursidah)

Itulah sebabnya, Mursidah amat bersyukur lantaran Yang Maha Kuasa mengabulkan doa-doanya. "Sebelum ke pengadilan, kemarin (Selasa) pagi, setelah salat hajat, saya berdoa kepada Allah agar betul-betul bebas, bisa selalu berkumpul dengan anak-anak saya," tutur ibu tiga anak itu.

Mursidah mengaku juga berziarah ke makam suaminya, sebelum ia ke pengadilan untuk mendengarkan putusan hakim. Suaminya, Hamdani, meninggal dunia, 10 Oktober 2019, lantaran sudah lama menderita sakit paru, dan sempat dirawat di rumah sakit di Lhokseumawe.

Menurut Mursidah, sebelum berpulang ke Rahmatullah, Hamdani sempat menemaninya selama 11 kali mengikuti sidang di pengadilan. "Meskipun saat itu kondisi beliau sakit, tapi tetap mendampingi saya selama proses sidang. Tetapi, ketika sidang ke-12 beliau sudah tidak ada lagi,” ungkapnya.

Sidang ke-12 beragendakan mendengar tanggapan penuntut umum atas nota pembelaan penasihat hukum Mursidah. Dan, sidang ke-13 menjadi sidang pamungkas di pengadilan negeri bagi Mursidah.

Mursidah kini menjadi ibu sekaligus ayah untuk tiga anaknya. Tiga anak yatim itu Fitriani (12), Muhammad Reza (10), dan Muhammad Mirza (4). Fitriani saat ini siswi kelas enam sekolah dasar (SD), dan Muhammad Reza siswa kelas empat di sekolah yang sama dengan kakaknya, SD Negeri 1 Muara Dua, Lhokseumawe. Sedangkan putra bungsu Mursidah, belum sekolah.

Mereka tinggal di sebuah rumah di Jalan Kapiten Yusuf, Lorong Tgk. Ibrahim, Gampong Meunasah Mesjid. Lorong sempit menuju rumah Mursidah hanya bisa dilewati sepeda motor.

Rumah bantuan prajurit TNI

Rumah berkonstruksi kayu itu bercat warna hijau, sebagian dindingnya sudah lapuk. Lantai semen yang retak-retak ditutup spanduk bekas. 

Menurut Mursidah, rumah itu dibangun dengan bantuan prajurit TNI di kawasan itu pada tahun 2008 silam. Sebelumnya, Mursidah dan (almarhum) suaminya menempati gubuk mungil yang sudah tidak layak huni. Itulah sebabnya dibangun rumah layak huni di lahan milik Mursidah.

Di dinding bagian muka rumah tersebut terpasang meteran listrik prabayar. Pada sisi kanan rumah tersambung jaringan gas tertulis “Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi”.

Dalam ruangan tengah rumah Mursidah tampak satu tempat tidur. Tripleks menjadi pembatas ruangan depan dan belakang. Rumah itu memiliki dapur kecil, beratap seng tua, sebagian bolong-bolong.  

Selama ini Mursidah menerima sedekah dari tetangga dan masyarakat di kampungnya untuk kebutuhan hidup keluarganya sehari-hari. Dia juga menerima uluran tangan kaum dermawan setelah kasus yang menjeratnya viral belakangan ini.

“Sebelum-sebelumnya saya menjual keripik pisang dengan menitipkan di warung-warung kopi yang ada di gampong. Selain itu, seminggu sekali saya mendatangi rumah tetangga dan warga lainnya, minta diberi kerja mencuci dan menyetrika pakaian. Tapi selama kasus itu, saya tidak bisa kerja," ucap Mursidah.

Mursidah mengaku akan berusaha mencari kerja lagi sebagai buruh setelah lewat 40 hari meninggal suaminya. “Kalau bantuan modal usaha belum ada yang memberikan. Karena tidak punya modal untuk usaha kecil, harapan saya kalau bisa misalnya di kantor-kantor itu diterima bekerja sebagai penyapu saja. Saya ingin kerja untuk dapat menyekolahkan anak-anak ke depan,” ungkapnya.

Menurut dia, terpenting saat ini ia sudah merasa tenang. “Saya sangat senang setelah mendengar vonis hakim karena saya tidak ditahan (penjara)," ucap Mursidah bahagia.

Kondisi ini jauh beda dibandingkan sebelum sidang putusan hakim. "Selama proses sidang di pengadilan, saya tidak bisa tidur malam. Perasaan gelisah, apakah dipenjara atau tidak. Saya memikirkan anak-anak, siapa yang menjaga mereka jika saya ditahan. Alhamdulillah, saya dibebaskan," ujar Mursidah.

Soal sikapnya atas vonis hakim itu, menerima atau banding, Mursidah mengatakan, “Itu terserah pengacara saya, karena sudah saya pulangkan kepada pengacara. Karena saya sendiri tidak bisa memutuskan, apapun itu pengacara saya yang mendampingi semenjak pertama sidang sampai akhir putusan hakim".

Bagi Mursidah, yang bisa dilakukannya bersyukur kepada Yang Maha Adil dan Maha Bijaksana. Rasa syukur itu dia ungkapkan dengan berzikir saat tiba di rumah setelah pulang dari pengadilan. "Kemarin setelah sidang vonis, saya berzikir habis Magrib sampai Isya. Dan juga hari ini (Rabu), sejak setelah Zuhur," katanya.

Tak lupa dia mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang sudah memberikan dukungan untuk dirinya selama ini. "Semoga orang-orang yang sudah membantu dan mendukung saya diberikan panjang umur," ucap Mursidah. 

Cita-cita jadi Polwan dan TNI

Dua dari tiga anak Mursidah yang sempat bercakap-cakap dengan portalsatu.com di rumahnya, mengaku bahagia karena masih bisa berkumpul bersama ibu kandung mereka. 

Dengan riang gembira, mereka juga buka suara saat ditanya cita-citanya. Fitriani (12) memiliki cita-cita dengan tiga pilihan: pilot, Polwan, dan ustazah. “Saya suka menjadi pilot, Polwan, ustazah. Ketiganya itu menarik bagi saya, dan apapun salah satunya juga boleh. Tapi saya bingung apa alasannya, pokoknya itulah,” kata dia sambil tersenyum lebar.

“Saya satu sekolah dengan adik (Muhammad Reza), mudah-mudahan ke depan kami bisa melanjutkan sekolah dan pendidikan agama untuk meraih impian itu. Amin,” ucap Fitriani.

Adik Fitriani, Muhammad Reza, bercita-cita menjadi prajurit TNI. Alasannya? Jangan kaget! “Karena ada senjata besar-besar," kata Reza dengan bangga. 

"Saya setiap lebaran selalu menggunakan senjata mainan untuk bermain bersama teman-teman,” Reza menambahkan.

Mursidah pun merasa terhibur mendengar cita-cita putri dan putranya itu. Dia mengaku dirinya hanya bisa berdoa dan berusaha semampunya untuk masa depan anak-anaknya. "Bagaimanapun jangan sampai pendidikan mereka terhenti. Selaku orangtua tentu saya harus bekerja keras untuk memberikan yang terbaik kepada anak-anak," tuturnya.

Apalagi, anak-anaknya itu murid berprestasi, pernah mendapatkan juara. Muhammad Reza meraih juara III lomba azan tingkat Iqra’ dalam musabaqah menyambut Ramadhan, di Balai Pengajian Darudz-Dzikri Gampong Meunasah Mesjid tahun 1440H/2019 M. Firiani juara III lomba pidato dalam musabaqah tersebut.

“Intinya, saya berharap ke depan mudah-mudahan ada peluang lain untuk mendapatkan pekerjaan di kantor-kantor, nyapu-nyapu saja, sebagai mata pencaharian saya sehari-hari mengingat mereka sudah yatim. Tentu saya harus berjuang untuk menopang hidup dan demi masa depan anak-anak,” ucap Mursidah dengan semangat menyala. Semoga![]

Editor: portalsatu.com

Berita Terkait


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.