25 June 2017

Kabar Aceh Untuk Dunia


Nama Besar Teungku Chik Di Paloh Memanggil Kami

...

  • THAYEB LOH ANGEN
  • 25 March 2017 08:20 WIB

PAGI itu, dari Simpang 4 Paloh, aku berjalan kaki ke Paloh Dayah. Sekira satu kilometer, sampai di masjid Assa'asah Teungku Chik Di Paloh, di tengah Gampong Paloh Dayah, Lhokseumawe. Terdengar di mikrofon, Tgk Nazar tengah membaca surat Alkahfi.

Sudah lama tidak kulihat dan salat di masjid ini. Kubahnya sudah siap, dan lantainya sudah dibeton, walaupun belum dipasang keramik.

Masjid ini termasuk masjid yang paling cepat selesai dibangun, karena orang-orang menghormati Teungku Chik Di Paloh. Lebih banyak wakaf orang dari luar Paloh Dayah yang mewawafkan hartanya untuk membangun masjid ini, selain tanah tempat berdirinya.

Nama besar Teungku Chik Di Paloh memanggil kami untuk membangun masjid ini. Di dekat berdirinya masjid ini, dahulunya, Teungku Chik Di Paloh pernah membangun sebuah masjid. Sekarang tinggal tanah bekasnya, di pemakaman umum di barat masjid sekarang.

Ide membangun masjid ini, awalnya dari Teungku Sulaiman bin Dadeh. Ia mewaqafkan sepetak tanahnya di tengah Gampong. Saat itu tidak ada seorang pun lain yang berpikir bahwa membangun lagi sebuah masjid di Paloh Dayah adalah sesuatu yang mungkin dan diperlukan.

Namun, sekira dua puluh tahun setelahnya, sekira pada tahun 2006, beberapa orang mulai berpikir bahwasanya masjid yang direncanakan oleh Sulaiman Dadeh perlu segera dibangun, lagi pula dasar tanahnya sudah ada.

Orang-orang yang bergerak saat itu adalah Teungku Nazaruddin Sabi, Teungku Muhammad Amin, Tarmizi Risyad, Jamaluddin Ibrahim, Zainal Abidin Ahmad, dan aku sendiri. Rapat pertama itu di rumah Teungku Muhammad Amin. Teungku Nazaruddin Sabi orang pertama yang mewaqafkan uangnya, Rp 50 ribu, digunakan untuk membuat stempel oleh Teungku Muhammad Amin.

Setelah itu dibuat rapat umum, masyarakat pun setuju. Beberapa orang tetap tidak setuju termasuk orang yang sekarang telah menjadi pengurus pembangunan masjid itu.

Orang ini, ketika melihat masjid sudah ada tapak atau pondasinya, membuat beberapa trik, dan ketua pembangunan yang diangkat oleh panitia awal, yaitu Zainal Abidin Ahmad pun mundur. Maka naiklah sebagai ketua orang yang dahulunya menolak dibangun masjid itu. Para panitia awal, sebagian besar tidak lagi terlibat di dalam kepanitiaan pembangunan masjid ini.

Walaupun dalam perjalanannya ada trik intrik perebutan pengaruh, namun masjid itu sekarang terus berkembang dibangun sampai jadi.

Ada satu masalah lagi. Bersamaan ide membangun masjid, kami juga merancang pendirian ulang Dayah Teungku Chik Di Paloh. Ide ini juga ditentang oleh orang yang sama. Namun bersamaan dengan itu, ia membawa balai pengajiannya ke area masjid.

Para lulusan dayah dari beberapa dayah terkenal di pantai utara, sepertinya tidak sanggup menggungguli opini pada masyarakat untuk membangun dayah Teungku Chik Di Paloh di sana.

Namun balai pengajian orang yang menentangnya terus ada di sana. Aku tidak peduli lagi pada beberapa orang itu, karena dulu ketika kuajak bersikeras membangun dayah di sana, mereka takut dan mengharapkan tetua gampong mendukung.

Kataku, abaikan saja mereka dan terus kita bangun. Mereka tidak mendengar. Sekarang, aku tidak punya waktu lagi mengurus itu. Aku harus membuat hal yang lebih besar di tingkat yang lebih tinggi.

Agama Islam baru kuat kembali kalau orang-orang yang menggerakkannya jujur, ikhlas dan tidak angkuh dan tidak serakah. Semoga Allah menolong orang-orang yang ikhlas.

Teungku Chik Di Paloh, diyakini bernama asal Syaikh Abdussalam bin Tu Praja Chik Meuluweuek (Wilayah Pedir) bin Tu Praja Chik Yaman (Wilayah Banda Aceh), seorang ahli Islam turunan dari Hadramaut, Yaman.

Tahun kedatangannya belum diketahui pasti, walaupun Dinas Kebudayaan Lhokseumawe telah memastikannya, namun tidak didasari pada data otentik artefak yang diperiksa di laboratorium.

Paloh Dayah adalah tempatnya membangun sebuah dayah, masjid, meunasah, dan rumahnya sendiri. Kuburannya berada di Gampong Cot Trieng, selang satu gampong ke barat daya Paloh Dayah. Ia dilakab dengan nama Peutua Chik Meukutop. Wilayah pengaruhnya seputar Aceh Utara bagian barat. Oleh karena itulah, pihak GAM menamakan Daerah I Wilayah Kuta Pase dengan sebutan Daerah I Teungku Chik Di Paloh.[]

Editor: THAYEB LOH ANGEN


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.