20 January 2021

Kabar Aceh Untuk Dunia


Percetakan Gulung Tikar Bangkit Roti Gulung

...

  • PORTALSATU
  • 08 November 2020 13:10 WIB

Sejumlah perempuan bekerja membuat roti gulung di home industry milik Nuryanto di Desa Meunasah Alue, Kecamatan Muara Dua, Kota Lhokseumawe, Selasa, 3 November 2020. Foto: portalsatu.com
Sejumlah perempuan bekerja membuat roti gulung di home industry milik Nuryanto di Desa Meunasah Alue, Kecamatan Muara Dua, Kota Lhokseumawe, Selasa, 3 November 2020. Foto: portalsatu.com

Nuryanto tiga bulan menganggur setelah usaha percetakannya di Medan, Sumatera Utara, gulung tikar dampak pandemi Covid-19. Pemuda asal Medan itu memutuskan mengadu nasib ke Lhokseumawe. Dengan modal pinjaman dari kawan-kawannya, dia membuka usaha baru: home industry roti gulung. Kini industri rumahan tersebut menjadi lapangan kerja baru bagi beberapa orang keluarganya dan lebih 20 warga, termasuk janda, di lingkungan tempat usaha.

Dua wanita muda duduk bersila di lantai teras sebuah rumah permanen di Desa Meunasah Alue, Kecamatan Muara Dua, Kota Lhokseumawe, Selasa, 3 November 2020, sekitar pukul 11.20 WIB. Keduanya tampak sibuk mengoleskan selai pada roti. Ayu dan Nisa nama dua gadis Desa Meunasah Alue itu. “Dua minggu lebih,” ucap Ayu saat portalsatu.com menanyakan berapa lama dia sudah bekerja di home industry produksi roti gulung itu. “Saya sudah dua bulan lebih,” kata Nisa.

Ayu tamatan SMKN 2 Lhokseumawe tahun 2019. Nisa lulusan SMAN 5 Lhokseumawe tahun lalu. “Baru kali ini punya pekerjaan. Sebelumnya di rumah saja setelah tamat sekolah. Lumayanlah (pendapatan bekerja di tempat usaha roti itu), orang tua ikut senang,” ujar Nisa.  

Di ruang tamu rumah itu, seorang perempuan dipanggil Bunda Cek La juga terlihat cekatan mengoles selai pada roti. Bunda bekerja sejak tempat usaha roti gulung itu dibuka, sekitar empat bulan lalu. “Kerja mulai jam delapan pagi, istirahat jam dua belas sampai setengah dua siang, kemudian masuk lagi sampai jam lima sore,” tutur warga Desa Meunasah Alue itu.

“Sebelumnya tidak pernah bekerja, di rumah saja, ibu rumah tangga. Dengan ada usaha roti ini sudah membantu masyarakat yang dekat-dekat tempat ini. Kami dapat upah Rp35.000 perhari. Alhamdulillah, kami tertolonglah untuk biaya hari-hari,” ujar janda empat anak itu, dua di antaranya masih murid MAN dan SD.

Melangkah ke ruangan tengah rumah tersebut tampak sembilan perempuan, usianya rata-rata lebih muda di bawah Bunda tadi. Mereka duduk dengan kaki terlipat bersilangan di depan sambil mengoles selai roti gulung tiga pilihan rasa: meses ceres, keju dan abon. Beberapa wanita muda lainnya melongok kepalanya dari balik pintu salah satu kamar rumah tersebut.

Setengah jam kemudian muncul dua pemuda mengambil roti gulung di rumah itu. Ratusan potong roti dimasukkan dalam beberapa keranjang, lalu diikat di atas jok sepeda motor. Dua pemuda itu, Ardo dan Satria, sales roti tersebut. Ardo mengantar roti ke warung-warung dan kios di Kecamatan Simpang Kramat, Kabupaten Aceh Utara, dan sekitarnya. Sedangkan Satria ke Kecamatan Krueng Mane, Kabupaten Aceh Utara, dan sekitarnya. 

***

Home Industry roti gulung di Desa Meunasah Alue itu milik Nuryanto. Mulanya, pemuda 33 tahun itu bergerak di bidang percetakan di Medan. “Percetakan buku-buku, termasuk peta Indonesia, dan alat peraga sekolah dan kantor. Hasil percetakan saya pasarkan sampai ke Lhokseumawe, Aceh Utara dan Bireuen. (Wabah) korona datang, usaha percetakan yang sudah hampir delapan tahun saya jalani itupun akhirnya bangkrut,” ujar pemuda asal Medan akrab disapa Anto itu.

“Berdampak 100 persen, hilang total, karena sekolah-sekolah tutup, kantor-kantor tidak aktif lagi sebagaimana biasanya (akibat pandemi Covid-19),” ucap Anto.

Setelah menganggur tiga bulan, Anto kembali mengumpulkan modal dari pinjaman pada kawan-kawannya untuk membuka usaha roti gulung itu di Lhokseumawe. Dia memilih Lhokseumawe karena ada keluargnya di kota ini. Kebetulan adik Anto, Nur Nengsih, pernah bekerja tiga tahun di pabrik roti di Medan.

“Jadi, saya ajak adik saya membantu saya buka usaha roti gulung ini di Lhokseumawe. Modal pertama sekitar Rp30 juta, termasuk untuk sewa satu rumah Rp7,5 juta setahun. Awalnya tenaga kerja dua orang, produksi 200 potong roti/hari, dipasarkan ke wilayah Lhokseumawe, termasuk saya ikut memasarkan. Pertama hanya satu mesin pembuat roti, sempat macet-macet, tiga hari kerja seminggu libur perbaiki mesin,” kata Anto.

Anto melanjutkan, “karena sambutan atau permintaan bagus, produksi terus bertambah. Sekarang sudah 4.000 potong roti/hari menggunakan tiga mesin mixer. Usaha berkembang sehingga modal sudah sekitar Rp80 juta. Alhamdulillah, sekarang sudah bisa bayar semua utang”.

[Nuryanto. Foto: portalsatu.com]

Menurut Anto, pekerja di rumah produksi roti gulung itu 18 perempuan, dan tiga laki-laki. Selain itu, sales enam orang. “Pekerja 95 persen warga Desa Meunasah Alue ini. Lima persen orang luar desa ini, dari (Desa) Paya Punteuet (Kecamatan Muara Dua, Kota Lhokseumawe). Upah pekerja pembuat roti masing-masing Rp35.000/hari,” tuturnya.

Roti gulung itu paling jauh dipasarkan ke Banda Aceh dan Aceh Tamiang, dipaketkan dikirim melalui bus. “Ke Banda Aceh 400, Aceh Tamiang 500 potong roti/hari. Di Lhokseumawe dan sekitarnya rata-rata 3.000 potong roti/hari. Termasuk ke Lhoksukon, (Ibu Kota) Aceh Utara (arah timur Lhokseumawe), dan Matang Glumpangdua, Bireuen (arah barat Lhokseumawe), diantar dengan sepeda motor. Kalau sales libur, kadang-kadang saya yang mengantar roti,” ujar Anto.

Anto menyebut roti gulung ini tahan tiga hari. “Tanpa pengawet,” tegasnya. “Bahan-bahannya awalnya dari Medan. Sekarang sudah ada di Lhokseumawe atas permintaan saya”.

“Roti ini dijual di warung dan kios Rp4.000/potong. Dari harga itu, pemilik warung dapat Rp500/potong. Sales mengambil pada saya Rp2.600/potong. Roti yang tidak laku, ada yang beli untuk pakan ayam dan lele Rp15 ribu/goni,” ucap ayah tiga anak tiga itu. Istri Anto, Ani hanya ibu rumah tangga.

Keuchik Meunasah Alue, Mukhtar, berharap usaha roti gulung itu semakin maju sehingga dapat menampung tenaga kerja lebih banyak lagi ke depan. “Paling tidak sudah terbantu warga kami, terutama yang perempuan, termasuk para janda untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari di masa pandemi ini,” ujarnya.

***

Di antara sales roti gulung itu juga ada seorang perempuan. Namanya, Ramlah, warga Desa Paya Punteuet, Kecamatan Muara Dua, Kota Lhokseumawe. Anto adalah anak dari abang kandung Ramlah. Saban hari, perempuan 51 tahun itu mengantar roti dengan sepeda motor ke warung-warung dan kios, sejak lebih dua bulan terakhir.

Ramlah rata-rata mengambil 300 sampai 600 roti gulung pada Anto dengan harga Rp2.600/potong perhari. Ramlah mengantar dan menaruh 10 sampai 20 potong roti/warung dan kios tersebar di kawasan pusat kota, Kecamatan Banda Sakti, dan beberapa lokasi lainnya di Kecamatan Muara Dua dan Kecamatan Blang Mangat, Kota Lhokseumawe. Ramlah meminta pengelola warung dan kios menjual Rp4.000/potong roti itu. Hasil penjualan roti tersebut, pengelola warung dan kios memperoleh Rp500/potong. Sedangkan Ramlah mendapatkan keuntungan Rp900/potong roti yang terjual.

[Ramlah menaruh roti di warung Teo Jus Jalan Samudra Lama Kota Lhokseumawe. Foto: portalsatu.com]

Pendapatan Ramlah itu mampu memenuhi kebutuhan rumah tangganya sehari-hari di masa pandemi Covid-19 ini. Bahkan, Ramlah bisa menabung sebagian keuntungan hasil penjualan roti gulung tersebut. Ramlah semakin giat bekerja sejak suaminya, Abdul Hamid (53 tahun), berhenti sementara dari pekerjaan sebagai tukang ojek lantaran menderita penyakit batu ginjal lebih sebulan lalu.

“Sudah hampir tiga bulan mengantar roti. Mulai jam sebelas sampai waktu Zuhur, kemudian lanjut hingga Ashar. Habis Ashar antar lagi sampai jam lima sore,” tutur Ramlah.

Walau harus kerja keras, Ramlah tidak mengeluh. “Namanya kerja pasti capek, meskipun duduk capek juga kan. Jadi, kita jalani dan nikmati saja biar tidak terasa capek. Alhamdulillah, keadaan seperti sekarang ini suami enggak sehat, usaha roti ini sangat menolong untuk kebutuhan sehari-hari di rumah,” ucapnya.

Noval, pemilik warung Coffee-In di Jalan T. Hamzah Bendahara, depan Museum Kota Lhokseumawe, Desa Mongeudong, Kecamatan Banda Sakti, mengatakan dalam dua hari terjual 10 potong roti gulung yang dibawa Ramlah. “Menurut pelanggan, roti gulung itu mengenyangkan,” kata Noval.

“Enak dan bikin kenyang,” ujar Bang Pon, pemilik warung Teo Jus, Jalan Samudra Lama, depan Rumah Sakit PMI Aceh Utara yang berdampingan dengan RS Kesrem, di Kampung Jawa Lama, Kecamatan Banda Sakti, Kota Lhokseumawe. “Di warung saya rata-rata satu hari habis 20 potong roti gulung yang dibawa Buk Ramlah itu,” ucap Bang Pon.

Bunda Cek La dan Ramlah berharap lebih banyak lagi orang seperti Anto yang berusaha bangkit dari pandemi ini. “Untuk membuka lapangan kerja bagi yang tidak punya pekerjaan di tengah kondisi ekonomi sangat sulit ini,” kata Bunda.

“Usaha seperti ini tidak hanya membantu keluarga Anto sendiri, tapi juga orang lain, termasuk pemilik warung dan kios. Jadi, banyak yang kebagian rezeki, Alhamdulillah,” ucap Ramlah.[](irm

Editor: portalsatu.com

Berita Terkait


Alamat:

Jalan Prof. Ali Hasjmy, No. 6, Desa Lamteh, Ulee Kareng, Kota Banda Aceh. Kode Pos: 23118.

portalsatu.com © 2021 All Rights Reserved.