24 August 2017

Kabar Aceh Untuk Dunia


Prof dan Wak Berdebat, Polisi: Itu Mortir!

...

  • PORTALSATU
  • 14 December 2016 16:30 WIB

Tim Jibom mengevakuasi sebuah mortir ditemukan di Uteunkot, Cunda, Lhokseumawe, 14 Desember 2016.@Irman/portalsatu.com
Tim Jibom mengevakuasi sebuah mortir ditemukan di Uteunkot, Cunda, Lhokseumawe, 14 Desember 2016.@Irman/portalsatu.com

Ketika Prof dan Wak sibuk berdebat soal mortir yang sudah kena cangkul, polisi pun datang tepat waktu. Debat berakhir, mortir telah diketuk-ketuk beruntung tak jadi meledak.

FAUZI duduk menjuntai di atas rangkang seusai Tim Jibom mengevakuasi mortir di depan rumahnya, Gampong Uteunkot, Cunda, Kecamatan Muara Dua, Lhokseumawe, Rabu, 14 Desember 2016. Masyarakat kawasan itu memanggil Fauzi, “Prof”. Ia merupakan mantan Dekan FISIP Unimal.

“Sekitar pukul 10 tadi, saya meratakan tanah timbunan di jalan depan rumah. Tanah itu diangkut dengan truk kemarin, ditumpuk dekat talud jalan. Saya ratakan dengan cangkul,” ujar Fauzi alias Prof ditemui portalsatu.com di rangkang samping kanan rumahnya.

Prof tidak tahu dari mana asal tanah yang dibawa dengan truk untuk peningkatan badan jalan depan rumahnya. Saat ia mencangkul tumpukan tanah itu untuk diratakan, tiba-tiba membentur benda keras. “Watee lon catok dipeutah,” katanya.

Setelah memeriksa benda keras yang kena cangkul itu, Prof mulai curiga. “Kok tincu (runcing)?” ia bertanya kepada dirinya sendiri. Prof menduga benda itu sebuah peluru besar atau mortir (peluru dari meriam kecil).

Prof lantas memanggil Dahri alias Wak, tukang bangunan yang membangun rumah Asril, anggota polisi. Rumah Asril berada di sebrang jalan depan rumah Prof. Samping kiri rumah Asril tampak areal tambak amat luas. Saat itu, Wak yang berasal dari Pantonlabu, Aceh Utara sedang memasak di dalam rumah Asril.

Wak, keunoe kajak dilee (Wak, kemari dulu)” Prof memanggil tukang bangunan itu.

Peutra (ada apa)?” Wak bertanya.

Seusai melihat benda ditemukan Prof, tanpa pikir panjang Wak langsung menyatakan, “ini batu!”

“Saya bilang ini peluru, tapi Wak tetap bilang ini batu. Kalau batu nggak mungkin berkarat tanahnya,” ujar Prof melanjutkan ceritanya.

Prof dan Wak terus saja berdebat dengan mempertahankan argumentasi masing-masing, “peluru” dan “batu”. Wak kemudian mengetuk-ketuk dan membersihkan benda itu menggunakan palu. Prof pun menyingkir lantaran merasa takut. Ia khawatir mortir itu akan meledak.

Peu han yo teuh ata nyan (siapa yang tidak takut meledak mortir itu),” ucap Prof ketika Wak menanyakan, “Peu yo droeneuh, Prof (Anda takut ya, Prof?)”

Prof takut, tapi Wak tidak. Wak membawa benda itu ke belakang rumah Prof tepat di samping kanan. Di sana, ia kembali membersihkan dan mengetuk-ketuk benda tersebut. Wak tampaknya masih gagal paham kalau benda itu adalah mortir yang teramat bahaya jika sampai meledak.

Tiba-tiba muncul Asril. Polisi ini datang ke sana untuk mengecek rumahnya yang sedang dibangun. Prof langsung memberitahukan Asril soal temuannya itu. “Kami dapat peluru,” kata Prof.

Melihat Wak sedang memegang benda itu, Asril sekonyong-konyong berteriak, “Bek nyan, mortir nyan, bahaya (jangan diketuk-ketuk, mortir itu, bahaya bisa meledak!)”

Debat antara Prof dan Wak terkait benda itu pun berakhir. Situasi kini berubah. Asril, Prof dan Wak seketika menjadi panik. Asril meminta Wak meletakkan mortir itu di belakang rangkang dan segera menjauh. Lantaran dinilai tempat itu tidak aman karena dekat dengan rumah, ia lantas meminta Wak meletakkan mortir itu dekat talud jalan di sebelah tambak, lebih jauh dari rumah.

Asril langsung menelpon rekannya. Tidak lama kemudian datang personel Polres Lhokseumawe memasang garis polisi di lokasi itu. Lalu, muncul Tim Penjinak Bom (Jibom) dari Satuan Brimob Polda Aceh Detasemen B. Dipimpin Kanit Jibom Aiptu Asep, mortir itu berhasil dievakuasi dan diamankan.

“Ini mortir aktif, kita amankan ke Markas Brimob (di Jeulikat, Kecamatan Blang Mangat, Lhokseumawe),” ujar Asep menjawab portalsatu.com usai evakuasi benda tersebut.

Kapolres Lhokseumawe AKBP Hendri Budiman melalui Kapolsek Muara Dua AKP Ahmad Yani mengimbau agar warga tidak mengutak-atik benda diduga bahan peledak. “Kalau ada yang menemukan benda mencurigakan, jangan diutak-atik dulu. Tolong langsung hubungi pihak kepolisian agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan,” katanya.

Baju kaus merah yang membungkus badan Prof masih basah akibat keringat. Ia “terpaksa melayani” warga setempat yang terus berdatangan menanyakan kronologi penemuan mortir itu. “Lon sampe lon peugah, neuboh lam neuheun keudeh (saya sampai mengatakan kepada Wak, buang saja benda itu ke dalam tambak),” kata Prof kepada seorang warga penuh uban.

Seorang warga lainnya yang merasa ngeri mendengar cerita debat Prof dan Wak soal mortir itu, hanya bisa berkata, “Nyaris saja!”[] (idg)

Editor: IRMANSYAH D GUCI


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.