24 March 2019

Kabar Aceh Untuk Dunia


Pustaka Hasjmy, Gudang Ilmu yang Digudangkan?

...

  • MUDIN PASE
  • 23 February 2019 16:40 WIB

Pustaka dan Museum Ali Hasjmy. Foto: Jauhar
Pustaka dan Museum Ali Hasjmy. Foto: Jauhar

Terletak di Jalan Jenderal Sudirman, Geuceu, Banda Aceh, Pustaka dan Museum Ali Hasjmy cukup mudah dijangkau. Letaknya tak jauh dengan beberapa kantor pemerintah. Juga berdekatan dengan RS Fakinah.

Prof. Ali Hasjmy adalah mantan Gubernur Aceh. Dia juga pernah menjadi Ketua MUI dan Ketua LAKA Aceh. Dikenal pula sebagai sartrawan di era pujangga baru Indonesia.

Diresmikan 15 Januari 1991 oleh Prof. Emil Salim, kedua lembaga itu--pustaka dan museum--bernaung di bawah Yayasan Pendidikan Ali Hasjmy (YPAH), terletak di rumah pribadi Ali Hasjmy.

Saat portalsatu.com berkunjung minggu lalu, isi pustaka dan bangunannya terawat dengan rapi. Namun, pustaka yang buka setengah hari saja itu sepi pengunjung. 

Luas keseluruhan rumah dan gedung sekitar 1.500 meter. Dahulu, gedung pustaka ini adalah rumah Ali Hasjmy, namun anak-anak beliau sepakat untuk membangun rumah baru di belakang pustaka yang dijadikan rumah singgah ketika mereka pulang. Anak Ali Hasjmy kini menetap di Jakarta dan hanya pulang jika ada acara atau hari ulang tahun bapaknya.

Kondisi pustaka dan museum tampak masih cukup terawat. Di ruangan tamu pustaka ada empat buah sofa yang biasa ditempati pengunjung untuk membaca buku. Di sisi kanan ada dua lemari buku berisi tulisan dan arsip ilmiah tentang budaya Aceh dan agama. Beragam buku ditulis dengan bahasa Aceh, Indonesia, Inggris dan Belanda. Di sisi paling kanan juga ada lemari berisi tas seminar dan baju dinas di masa jabatan Ali Hasjmy sebagai Gubernur Aceh.

Sedangkan di sisi paling kiri terdapat deretan meja kerja pengurus pustaka, serta lemari berisi buku hasil tulisan Ali Hasjmy, juga mesin tik yang dipakainya dahulu. Deretan buku banyak terdapat di sisi belakang pustaka lengkap dengan meja memanjang.

Abubakar, salah seorang pengurus pustaka itu  menjelaskan, semasa hidupnya, Ali Hasjmy suka menulis hingga lupa jadwal tidur. Dia hanya tidur dua jam sehari, selebihnya membaca dan menulis di ruang kerjanya.

Abubakar telah mengurus tempat itu sejak 1998. Saat tsunami melanda, ia sedang menginap di situ. Namun air yang masuk dalam gedung hanya sejengkal di atas kaki. Padahal posisinya lebih rendah dari badan jalan. Menurutnya, itu adalah sebuah 'mukjizat' juga karena pustaka tersebut menyimpan Alquran dari masa lalu.

Pascatsunami, bangunan dibersihkan dari lumpur dan  pengurus mengeringkan buku yang basah kena air. Namun tidak banyak yang berubah dari kondisi awal sebelum terjadinya bencana, hanya dilakukan pengecatan pada dinding dan kayu lemari.

Perawatan juga dilakukan rutin setiap tahun dengan cat interior dan eksterior gedung.

Sayangnya pustaka ini luput dari perhatian pemerintah. Abubakar mengaku kurang tahu karena bagian pendanaan langsung diurus oleh anak Almarhum, Surya Ali Hasjmy. Namun setelah Surya meninggal pada 2017 silam, pengelolaan pustaka dan museum mulai tersendat karena belum diketahui siapa yang menggantikannya hingga saat ini. Namun pastinya masih dari kalangan anak Ali Hasjmy.

Menurut Abubakar, kini honornya Rp1 juta per bulan. Ia mengeluh uang honor yang dibayarkan sering telat hingga 10 hari lebih. Hal ini juga terkait setelah meninggalnya Surya Ali Hasjmy. Dahulu, menurutnya, lebih jelas karena honornya bisa sampai Rp2.juta.

Perawatan koleksi pustaka dan museum, biasanya dilakukan mahasiswa magang di sana. Mereka biasanya diminta untuk membersikan buku dan koleksi dari debu dan menata tempat menjadi lebih baik.

Begitulah nasib sebuah pustaka. Dihibah oleh sang pemilik, tapi kini terkesan diabaikan oleh masyarakat dan Pemerintah Aceh. Padahal, Aceh punya Dinas Perpustakaan dan Kearsipan. Bahkan, setahun terakhir SKPA ini dipimpin oleh akademisi Unsyiah, Wildan.

Padahal, dalam paparan saat menjadi pemateri seminar di Gedung Dewan Bahasa dan Pustaka Malaysia, Wildan, mengaku dekat dengan Hasjmy.

Portalsatu.com mencoba mengkorfirmasi Wildan terkait bantuan dan pemberdayaan Pustaka Hasjmy. Via WhatsApp, Wildan hanya membaca pesan. Tidak jelas kenapa dia tidak membalas pesan. 

Namun, Kabid Deposit Pengolahan dan Pelestarian Bahan Perpustakaan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Aceh, Didi Setiadi, mengakui memang tidak ada bantuan. "Setahu saya tidak ada hibah dana operasional ke Pustaka Ali Hasjmy," jawab Didi via pesan WA.

Setahunnya dinas ini mengelola anggaran miliaran, tapi luput untuk hal-hal menyangkut pengelolaan Pustaka Ali Hasjmy. Padahal, Pustaka Ali Hasjmy barangkali pustaka terlengkap di Banda Aceh di luar pustaka wilayah dan milik universitas. 

Beginilah potret negeri aliterasi. Ketika budaya baca tidak mengakar, pustaka bukanlah hal istimewa. Tanpa campur tangan Pemerintah Aceh, diperkirakan tak lama lagi pustaka ini akan tutup. Atau boleh jadi menjadi milik orang lain. 

Sebab yang lebih peduli dengan Pustaka Ali Hasjmy justru orang di luar Aceh. Contohnya, Siti Zainon Ismail, Budayawan Malaysia. Boleh jadi merekalah yang akan memetik ilmu dari gudang ilmu Pustaka Ali Hasjmy.

Akankah gudang ilmu ini benar-benar digudangkan?[](Jauhar)

Editor: portalsatu.com

Berita Terkait


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.